Opini

Indonesia Hadapi 44 Negara Eropa

Indah Pratiwi Budi - 20/01/2021 08:00
Oleh : Paijem

Pati Unus dan Ratu Kalinyamat pernah kalah menghadapi Bangsa Eropa dalam urusan Kedaulatan Komoditas.

Bismillah,saat ini di Era Jokowi Indonesia pantang menyerah karena Indonesia adalah Negara besar dan Negara yang di pimpin oleh Pemimpin Cerdas dan Pantang mundur menghadapi kekuatan Eropa sudah bukan seperti 15 tahun yang lalu pemimpin nya bisa didiajak KOMPROMI dan bisa ditekan.

Menteri Perdagangan ( Mendag) Muhammad Lutfi sangat menyayangkan sikap UE yang tetap melanjutkan gugatan larangan Ekspor bijih nikel Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia ( WTO).

Pemerintah memang sudah resmi melarang bijih nikel diekspor dalam bentuk barang mentah dan larangan itupun digugat UE karena dinilai sangat merugikan Industri Stainless Steel Benua Biru tersebut yang menyangkut nasib para pekerja juga nasib perusahaan.

Namun Mendag Lutfi, memberikan peringatan keras terhadap UE atas sikap nya untuk tetap melanjutkan gugatan dengan memohon pembentukan panel ke WTO.

"Era saat ini adalah Era KOLABORASI, dan saya ingatkan kepada UE, bersaing OK, tapi ini era KOLABORASI," tegas Lutfi dalam konferensi pers Virtual Jumat 15 Januari 2021.

Lutfi menegaskan, langkah Indonesia adalah untuk mempertahankan Kepentingan Nasional, dalam hal ini, Indonesia sedang melakukan transformasi yakni mendorong Industri bernilai tambah, sehingga tak hanya mengekspor, komoditas dalam bentuk barang mentah saja.

"Kalau kita melihat terutama di segi besi dan baja, terutama baja nich spesial seperti steinless steel, kita melihat bahwa kita juga dalam proses yang sangat singkat, bisa dibayangkan tadinya Indonesia adalah penjual barang mentah dan setengah jadi,tiba-tiba sukses menjual barang industri besi baja adalah ekspor nomor 3 Indonesia setelah kelapa sawit dan batubara. Nah bisa dilihat transformasi Indonesia," tegas Lutfi.

Ia mengatakan UE dan Indonesia bisa saja berkolaborasi dalam industri Stainless Steel tersebut,dalam hal ini Lutfi mengatakan Indonesia siap memberikan masukan-masukan kepada UE demi mempertahankan produktivitas industri di Benua Biru tersebut.

Terjadi persaingan karena kita pabriknya baru, teknologi nya tinggi,ongkosnya murah,tiba tiba Indonesia menjadi pemain kedua terbesar stainless steel di dunia setelah China, nah kalau dibutuhkan,kalau mereka (EU) minta, Indonesia siap memberikan masukan, bantuan untuk UE agar bisa mendapatkan industri besi baja dengan produktivitas tinggi," jelas Lutfi.

Harus diketahui Indonesia tidak melarang Nickel ke UE, yang dilarang itu adalah bijih nikel, tapi produk turunannya tidak dilarang, artinya secara hukum, Indonesia tidak melanggar kesepakatan dengan WTO.

Seharusnya Eropa juga mengakui bahwa kebijakan Indonesia itu bukan BANNED yang bersifat anti perdagangan bebas,hanya kebijakan ekonomi dan bisnis yang berlaku umum sifat nya.

Ingat dalam DSB ( dispute settlement body) ada ketentuan mengenai solusi, dan solusi pasti objektif.

Dan jalan solusi nya adalah, UE harus berani mengubah kebijakan industri baja nya, tidak lagi mengolah bahan baku tapi industri downtream nickel.

Ya UE harus berani pindahkan Smellter mereka ke Indonesia untuk menghasilkan produk bagi industri downtream mereka, kan kasus serupa pernah to dialami oleh China dan Jepang.

China melarang Ekspor logam tanah ke Jepang, itu mengancam rontoknya industri Elektronik Domestik Jepang.

Di WTO China yang menang dan Jepang harus berani memindahkan Pabrik Elektronik nya ke China demi keberlangsungan produktivitas.

UE harus berani berubah, kalau tidak UE akan digilas oleh Zaman.


#IndonesianMaju

Sumber : Status Facebook Paijem

TAG TERKAIT :
Indonesia Bersatulah Indonesia

Berita Lainnya

AHOK LAGI

Opini 17/06/2021 17:00

DUH NEGARAKU...

Opini 16/06/2021 19:00

Siasat Prabowo

Opini 16/06/2021 16:00