Opini

BUKU MEMBONGKAR GURITA CIKEAS DAN BAGAIMANA RELEVANSINYA DENGAN KONDISI POLITIK MASA PEMERINTAHAN JOKOWI.

Indah Pratiwi - 21/01/2021 09:48
Tito Gatsu

Sangat menarik membaca buku karya George Aditjondro, yang luar biasanya ada Buya Syafi'ie Ma'arif bersedia menjadi penulis resensi buku ini, pantas Buya Syafi'ie diserang dari kiri dan kanan para pendukung SBY termasuk para aktivis 212. Kejujuran memang sangat Mahal dan berat, butuh keberanian untuk mengutarakannya di Indonesia.

Resensi Buya Syafi'ie Ma'arif atas buku ini adalah , sebagai berikut :

Bahwa korupsi di negeri ini sudah jauh melampaui batas toleransi, tidak ada yang meragukan, tetapi bagaimana melawannya, kita belum menemukan cara yang paling efektif.

Aparat penegak hukum dapat menjadikan buku ini sebagai salah satu pintu masuk untuk melihat korupsi yang telah menggurita ke mana-mana. Tanpa keberanian luar biasa, akan sangat sulit bagi Indonesia untuk mengucapkan sayonara kepada perbuatan hitam yang bernama korupsi itu."

-Ahmad Syafii Maarif, (Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Penulis buku ini adalah George Junus Aditjondro (27 Mei 1946 - 10 Desember 2016) adalah seorang sosiolog Indonesia.

Aditjondro lahir di Pekalongan, Jawa Tengah dan memulai karirnya sebagai jurnalis Majalah Tempo. Selama tahun 1994 hingga 1995, ia dikenal luas sebagai kritikus pemerintahan Presiden Soeharto atas korupsi dan Timor Timur. Ia meninggalkan Indonesia menuju Australia selama tujuh tahun dan dilarang oleh rezim Soeharto pada Maret 1998. Ia menjadi dosen sosiologi di Universitas Newcastle. Sebelumnya, ia mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana - Indonesia.

Sekembalinya dari Australia, dia menulis beberapa buku kontroversial. Pada Desember 2009, saat peluncuran bukunya Membongkar Gurita Cikeas, Aditjondro dituduh melakukan penyerangan terhadap Ramadhan Pohan, seorang anggota parlemen dari Partai Demokrat. Mantan presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan keprihatinannya terkait isi buku tersebut. Segera, buku itu diambil dari rak-rak di seluruh negeri. Aditjondro meninggal karena stroke pada usia 70 tahun di Palu, Sulawesi Tengah pada 2016.

Buku Membongkar Gurita Cikeas karya George Junus Aditjondro (2009) memang sangat mengejutkan. Isinya tidak saja mengejutkan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), melainkan juga keluarga, konstituen Partai Demokrat, dan pengurus yayasan yang disebut-sebut dalam buku tersebut.

“Apakah penyertaan modal sementara yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu ada yang bocor atau tidak sesuai dengan peruntukannya? Bahkan berkembang pula desas-desus,rumor, atau tegasnya fitnah, yang mengatakan bahwa sebagian dana itu dirancang untuk dialirkan ke dana kampanye Partai Demokrat dan Capres SBY; fitnah yang sungguh kejam dan sangat menyakitkan….

Sejauh mana para pengelola Bank Century yang melakukan tindakan pidana diproses secara hukum, termasuk bagaimana akhirnya dana penyertaan modal sementara itu dapat kembali ke negara?”

Begitulah sekelumit pertanyaan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya hari Senin malam, 23 November 2009, menanggapi rekomendasi Tim 8 yang telah dibentuk oleh Presiden sendiri, untuk mengatasi krisis kepercayaan yang meledak di tanah air, setelah dua orang pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) – Bibit S Ryanto dan Chandra M Hamzah – ditetapkan sebagai tersangka kasus pencekalan dan penyalahgunaan wewenang, hari Selasa, 15 September, dan ditahan oleh Mabes Polri, hari Kamis, 29 Oktober 2009.

Barangkali, tanpa disadari oleh SBY sendiri, pernyataannya yang begitu defensif dalam menangkal adanya kaitan antara konflik KPK versus Polri dengan skandal Bank Century, bagaikan membuka kotak Pandora yang sebelumnya agak tertutup oleh drama yang dalam bahasa awam menjadi populer dengan julukan drama cicak melawan buaya.

Buku Gurita Cikeas ini tidak secara langsung menyebut adanya aliran dana Bank Century ke Presiden SBY, melainkan ada dugaan sebagian dana dari total Rp 6,7 triliun itu lari ke “pihak ketiga”. George menganggap wajar kalau ada dugaan masyarakat yang menduga dana Bank Century itu mengalir ke penyumbang dana kampanye Partai Demokrat saat Pemilu 2009 lalu.

Yang cukup mengagetkan adalah banyaknya nama pejabat negara, keluarga SBY, dan pengusaha, dan istri-istri pejabat yang terlibat dalam apa yang disebut George sebagai oligarki, yakni pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu, yang dalam buku ini dikiaskan dengan gurita. Nama-nama yang disebut itu di antaranya Ani Yudhoyono, Hartanto Edhie Wibowo, Edhie Baskoro Yudhoyono, Hatta Rajasa, Boedi Sampoerna, Hartati Murdaya, dan masih banyak lagi.

Buku ini juga menampilkan kongkalikong dan permainan kotor PD pada Pemilu 2009 keraguan George Junus Aditjondro mengenai kenaikan signifikan suara Partai Demokrat dalam Pemilu 2004 dan 2009, yakni dari 7% hingga 20%,

Tapi yang Paling menarik adalah Dalam buku karangan George Yunus Aditjondro Membongkar Gurita Cikeas ditulis, antara 2005-2006 telah didirikan 2 yayasan yang berafiliasi ke SBY.

Yaitu, Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam yang didirikan tahun 2005 dan berkantor di Tebet, Jakarta Selatan, tapi selalu menyelenggarakan kegiatan-kegiatan dzikirnya di Masjid Baiturrahim di Istana Negara. Para pengurus yayasan tersebut banyak menaungi para Ustad atau Ulama yang membenci pemerintah Jokowi dan penggagas demo 212, seperti Bachtiar Nasir, Aa Gym , Yusuf Martak , Dien Samsudin, dll mereka begitu serasi dengan FPI yang memang sudah popular kedekatannya dengan Cendana dan Yusuf Kalla.

Serta, Yayasan Kepedulian Sosial Puri Cikeas, disingkat Yayasan Puri Cikeas, yang didirikan tanggal 11 Maret 2006 di kompleks perumahan Cikeas Indah.

Kedua yayasan ini melibatkan sejumlah menteri (ada yang sekarang mantan menteri), sejumlah perwira tinggi, sejumlah pengusaha, serta anggota keluarga besar SBY, Edhi Baskoro Yudhoyono, putra bungsu SBY dan Ny. Ani Yudhoyono, menjabat sebagai salah satu Sekretaris Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam, dan Hartanto Edhie Wibowo, adik bungsu Ny. Ani Yodhoyono sebagai salah seorang bendahara.

Menjelang Pemilu 2009, yayasan penopang kekuasaan SBY bertambah satu yaitu Yayasan Kesetiakawanan dan kepedulian (YKDK) yang dipimpin Arwin Rasyid.

Empat orang anggota Dewan pembinanya sudah masuk ke dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II, yakni Djoko Suyanto, Purnomo Yusgiantoro, Sutanto, dan MS Hidayat.

Yayasan ini dikelola orang-orang yang punya banyak pengalaman di bidang perbankan. Ketua Umumnya, Arwin Rasyid, Presiden Direktur CIMB Bank Niaga, sedangkan Bendahara Umumnya, Dessy Natalegawa.

Dessy adalah adik kandung Menlu Marty Natalegawa yang sudah diproyeksikan akan diangkat menjadi Menlu KIB II.

Yayasan ini mendapatkan dukungan dana sebesar US$1 juta dari Djoko Soegiarto Tjandra., pemilik Bank Bali dan buron kelas kakap BLBI.

Saya menahan berkomentar lebih lanjut hanya Ingin menyampaikan fakta yang ada dalam buku ini dan bagaimana relevansinya dengan kondisi politik yang begitu panas sejak 2014 hingga saat ini silahkan Kita analisa sendiri.

Salam kedaulatan rakyat.

TAG TERKAIT :
Buku Membongkar Gurita Cikeas Gurita Cikeas Buku Gurita Cikeas

Berita Lainnya

ABAS PENDENDAM

Opini 25/02/2021 18:45