Internasional

Usai Facebook dan Whatsapp, Myanmar Juga Blokir Twitter dan Instagram, Ada Apa..?

Baharuddin Kamal - 06/02/2021 16:30
Ilustrasi.

Beritacenter.COM - Setelah Facebook dan Whatsapp, junta militer Myanmar memblokir sejumlah media sosial lainnya seperti Twitter dan Instagram akibat protes anti-kudeta yang semakin meluas di negara tersebut.

Telenor, salah satu penyedia layanan internet di Myanmar, telah mengonfirmasi bahwa mereka diperintahkan memblokir akses kepada dua situs media sosial itu "sampai ada pemberitahuan lebih lanjut".

Melalui pernyataan, Telenor mengungkapkan "keprihatinan besar" tentang arahan tersebut dan mengatakan telah menentang kebijakan tersebut kepada pemerintah Myanmar.

Tak hanya Telenor, Seorang juru bicara Twitter juga mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan perintah untuk memblokir layanan Internet di Myanmar ini. “Merusak percakapan publik dan hak orang untuk membuat suara mereka didengar," katanya dikutip dari Reuters, Sabtu, 6 Februari 2021.

Menurut juru bicara ini, keterbukaan internet semakin terancam di seluruh dunia. "Kami akan terus mengadvokasi untuk mengakhiri penutupan yang dipimpin oleh pemerintah yang merusak," ujar dia.

Sementara itu, Seorang juru bicara Facebook mengonfirmasi pemblokiran di Instagram. “Kami mendesak pihak berwenang untuk memulihkan konektivitas sehingga orang-orang di Myanmar dapat berkomunikasi dengan keluarga dan teman serta mengakses informasi penting,” tuturnya.

Diketahui, pemblokiran ini terjadi di tengah semakin meningkatnya gerakan perlawanan warga sipil atas penahanan para pemimpin yang dipilih secara demokratis.

Ratusan orang berunjuk rasa di kota terbesar di Myanmar, Yangon, Sabtu (06/02), untuk memprotes kudeta militer.

"Diktator militer, gagal, gagal! Demokrasi, menang, menang!" teriak massa. Ini merupakan protes terbesar yang terlihat sejak militer mengambil alih kekuasaan.

Mereka menyerukan pembebasan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan tokoh lainnya yang ditahan oleh tentara.

Sebelumnya, sejumlah dosen dan mahasiswa universitas juga berkumpul di Yangon, Jumat (05/02), untuk menunjukkan dukungan kepada pemimpin yang ditahan, Aung San Suu Kyi, dan anggota senior lainnya dari partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Suu Kyi sedang menjalani tahanan rumah, menurut pengacaranya. Dokumen polisi menunjukkan dia dituduh secara ilegal mengimpor dan menggunakan peralatan komunikasi - walkie-talkie - di rumahnya di Nay Pyi Taw.

TAG TERKAIT :
Berita Center Myanmar Kudeta Militer Myanmar

Berita Lainnya