News

Kasus Kematian Gadis Dayak Ditangan Pemuda Madura, Apakah Tragedi Sampit Kembali Terulang?

Anas Baidowi - 10/02/2021 09:55
Kasus Pembunuhan Gadis Dayak

Beritacenter.COM - Pasca pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda berinisial MM (21) asal Madura terhadap seorang gadis Dayak bernama Medelin Sumual (20) menyita perhatian publik beberapa hari terakhir.

Akibat tragedi kematian gadis Dayak itu, situasi di Kalimantan Timur makin memanas. Pasalnya, masyarakat dayak di Kutai Timur murka dan mengutuk keras perbuatan MM yang membunuh Medelin dengan sadis, yakni dengan cara menikam leher korban.

Ditambah dengan motif pembunuhan yang dilakukan MM lantaran kecewa karena permintaannya untuk berhubungan badan ditolak oleh korban. Diketahui, saat pembunuhan itu, Medelin tengah hamil muda.

Melihat tragedi pembunuhan itu, warganet dari berbagai penjuru Indonesia merasa cemas. Waganet mengenang tragedi sampit 20 tahun silam itu dan berharap agar konflik itu tidak sampai terulang kembali.

"Usut tuntas jangan sampe kayak peristiwa perang sampit," tulis seorang warganet di Twitter.

"Jangan sampe Kejadian Dayak Dan Madura terulang lagi," tulis yang lain.

"Do'a kan saja semoga tidak terulang kembali kejadian yg dulu....," kata yang lain.

Baca juga: Mengenal Tragedi Sampit, Konflik Antar Suku Dayak-Madura 20 Tahun Silam

Seperti diketahui, konflik antaretnis antara Suku Dayak versus Madura di Sampit, ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, pecah pada 18 Februari 2001. Konflik bermula dari insiden dua orang Madura diserang oleh sejumlah warga etnis Dayak.

Pembunuhan Medelin oleh MM berdampak pada orang-orang Madura yang berada di Kutai Barat. Mereka terancam diusir dari Kutai Barat jika MM tidak dapat membayar sanksi adat yang dijatuhkan oleh Lembaga Adat Besar Kabupaten Kutai Barat.

Sanksi tersebut berupa denda sebanyak 4.120 antang atau guci, yang nilainya setara Rp1.648.000.000 (Rp1,6 miliar), dengan rincian, satu guci bernilai Rp400 ribu.

Tidak hanya itu, MM juga diharuskan membayar biaya prosesi Parap Mapui hingga Kenyau Kwangkai atau adat kematian Suku Dayak Benuaq mulai tingkat 1 sampai tingkat selanjutnya, yang nilainya mencapai Rp250 juta.

Sehingga, secara keseluruhan, total denda adat yang harus dibayarkan oleh MM adalah Rp1.898.000.000.

Keputusan itu berdasarkan hasil sidang adat di Lamin atau Rumah Adat Dayak Benuaq, Taman Budaya Sendawar pada Kamis, 4 Februari 2021.

"Kami memberi waktu enam bulan terhitung sejak hari ini untuk menyelesaikannya,” kata Manar Dimansyah Gamas, Kepala Lembaga Adat Besar Kutai Barat.

Jika dalam kurun waktu enam bulan MM tidak bisa membayar sanksi adat tersebut, maka seluruh warga asal Madura yang ada di Kutai Barat diminta angkat kaki.

Menyadari panasnya situasi yang membuntuti kasus pembunuhan ini, Kapolres Kutai Barat AKBP Irwan Yuli Prasetyo, langsung meminta masyarakat untuk menahan diri atas kasus pembunuhan ini.

"Kami mohon semua pihak bisa menahan diri. Ini murni kriminal," katanya, Selasa (2/2/2021).

TAG TERKAIT :
Pembunuhan Berita Center Sampit Dayak Dayak-Madura Gadis Dayak

Berita Lainnya