Opini

Pelacur Pemuas Kebencian

Indah Pratiwi - 27/02/2021 08:00


Oleh : Abdul Munib


Biasanya kata pelacur digunakan untuk orang yang menjual tubuhnya untuk pemuas nafsu sahwat seksual. Namun hasrat manusia ternyata bukan pada seksual saja, tapi ada juga nafsu kebencian. Yahya Waloni orang yang tepat penjadi pemuas nafsu jenis ini.


Yahya begitu bersemangat menjadi Muslim Kadrun. Di kepalanya ia bangga diri jadi yang ditokohkan dalam Islam. Bisa banyak bicara didengarkan orang banyak. Ada juga yang begitu, Felix Siyouw. Kadrun ini lebih runut dalam bahasa jual khilafahnya dibanding Waloni yang vulgar.


Waloni main di jurus kasar, yakni membandingkan dengan agama lama sebelum jadi mualaf. Yakni sebagai seorang beragama nasrani. Ujaran kebencian terhadap agama lamanya sering menjadi andalan tema ceramahnya untuk memikat hadirin. Seperti twitan artis muslim yang menyeberang ke agama lain, biasa juga cari panggung lewat menjelekan agama lama demi jumlah follower nitizen.


Orang model begini ini, adalah orang yang tak ada ilmu, tak ada prestasi, tak ada kemampuan tapi mau ambisi tampil di depan. Mau cepat terkenal. Instan. Akhirnya harus jadi pemuas rasa benci pihak yang mengundangnya, dengan mengumbar kebenciannya pada apapun yang bisa ia jual, asalkan laku. Orang jenis ini dia bisa jual apa saja demi mengobarkan kebencian. Dan hadirinnya terpuaskan luapan rasa bencinya pada sesuatu. Padahal kebencian itu penyakit jiwa.


Santri Kalong : Waloni memandang agama Islam dan agama Kristen itu dalam fahaman dua hubungan universal yang terpisah sama sekali. Sehingga dia melihatnya kalau kau berada di Jakarta tak mungkin dalam waktu bersaman kau juga ada di Jayapura. Padahal dalam agama Islam dan agama Nasrani ada irisan sama : percaya adanya sosok Yesus atau Isa putera Maryam. Beda dengan agama Hindu, Budha dan Konghucu, tidak ada irisan persamaan dengan mereka tentang adanya Yesus itu. Tapi mereka baik-baik saja tidak saling menjelekan.


Walhasil bagi seorang Muslim, tak akan lengkap keimanannya sampai ia percaya pada adanya Yesus. Ada dalam Al Quran surah Ali Imran dan Surah Maryam yang mengisahkan keberadaan dan kemuliaannya disisi Tuhan. Adapun persepsi yang berbeda dalam cara memandangnya secara teologia, ya memang dalam teologia menjadi berbeda-beda. Tapi bukan berati diantara agama-agama itu tidak ada persamaan. Justru hanya di bagian teologia lah, agama-agama itu berbeda. Tapi sama dalam hal bahwa Tuhan ada, dalam hal mengajak kepada kebaikan, dalam hal meraih kebahagiaan hidup dan keselamatan.


Dulkampret : Betul Kang Santri. Bahkan dalam setiap diri manusia itu ada fitrah, citra khusus Tuhan yang memantul dalam ciptaanNya berupa entitas manusia. Biasa juga millenial menyebut 'Anggukan Semesta'. Misalkan begini, ada enam orang agamanya beda-beda. Ada yang Hindu, Budha, Islam, Protestan, Katolik dan Konghucu. Ketika ada seorang nenek tua dijambret dan badannya terpelanting di trotoar, maka secara sepontan ke enam orang itu lari kejar jambret dan menolong nenek. Reaksi inilah anggukan semesta tanpa melihat apa agama mereka.

Orang seperti Waloni akan harus tanya dulu nenek itu agamanya apa dulu ? Jambret itu agamanya apa dulu ?


Lemah lah bangsa kalau orang merek begini yang memenuhi Kiplik tercinta ini. Tangkap segera dan tertibkan. Kalau dibiarkan, nanti mengudang pemahaman bahwa menebar kebencian itu diperbolehkan oleh hukum Indonesia. Kalau dibiarkan berarti dia lagi dipakai. Biasa sudah menjadi tabiat rezim dari dulu menerapkan jurus Naga Menelan Ekornya, pelan-pelan.


Bung Cebong : Pertanyan saya begini, Dul. Semua agama kan jadi perhatian besar manusis sejak dulu, sebagai tuntunan kebaikan. Tapi kenapa sering dijadikan alat kejahatan ?


Dulkampret : Apapun yang memikat pasti akan menjadi perebutan manusia. Bukan agama saja, kekuasaan, kecantikan, kekayaan, titel keilmuan, ketenaran, kedudukan, kemontokan. Dan lain-lain. Bagi kelompok kepentingan, agama itu terlalu seksi untuk dibiarkan begitu saja tergeletak nganggur tanpa digerayangi dan memperkosanya berulang-ulang untuk pelampiasan nafsu sahwat kekuasasn mereka.

Beragama itu fitrah, atau kecenderungan dan kecondongan makhluk bernama manusia. Ber-atheis itu penyakit. Tanyakan kenapa engkau sakit ? Jangan pernah bertanya kenapa engkau sehat ?


Ketelimbeng : Ya mestinya kalau mualaf itu, ya belajar dulu. Bertahap. Bukan pake ujug-ujuk. Ujug-ujuk jadi ustad. Lha yang belajar agama puluhan tahun kasihan masih antre, ini baru masuk langsung nyerobot antrian. Rika Kepriben.


Pace Yaklep : Coba tanyakan pada Mbah Karsono


Ketelimbeng : Mana dia tahu. KTP saja dia tidak punya kolom, disuruh bahas agama. Malah tambah ngawur, blesak.


Mbah Karsono : Jadi penceramah itu harus berkata benar. Jangan terburu-buru memvonis. Kalau masih rasa mual, jangan langsung beritahu suami, bilang saya sudah hamil. Siapa tahu itu masuk angin. Test dulu di leb, hasilnya positif atau negatif.

Kalau masih jadi burung emprit (pipit) jangan mengaku alap-alap (rajawali). Kalau masih mualap belajar dulu. Tajwidnya bagemana. Supaya bacaan Qur'annya benar dulu. Jangan jadi mualap yang bikin mual hati banyak orang.


Ketelimbeng : Katanya Mbah Karsono Kejawen, kok bicara tajwid segala ?


Mbah Karsono : Beng, pantas kau ini ketelimbeng. Bawaannya beban terus. Cucu saya kemarin hapenya ganti. Andoid lama dikasih ke saya. Dari yutup saya ikut ngaji Gus Baha. Saya tertunduk mendengar kisah tentang 'kenangan satu sujud'. Gusti kulo nyuwun pangapuro, sujud sitok ae aku oran duwe. Mari ngono aku umpet-umpetan gogling cari jampi sembahyang. Gini-gini Mbah Karsono juga Generasi Z. Zebra tua. He heh he


Ketelimbeng : Huuuuhhhhh


Angkringan Falsafah Pancasila

Sumber : Status facebook Abdul Munib

Berita Lainnya