Politik

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Indah Pratiwi Budi - 02/03/2021 08:30

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.

Padahal, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang juga mantan Ketum PD, telah menjadi Presiden pertama yang dipilih melalui jalur Pemilihan Umum (Pemilu) atau demokrasi. Layaknya bangsa ini yang menjadi negara demokrasi, seharusnya PD juga menerapkan demokrasi terhadap sistem partainya. Demokrasi adalah sistem yang dilandasi oleh konsep berpikir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Di samping itu, beredar pula video klarifikasi Politikus Senior Jhoni Allen Marbun, sekaligus mantan kader PD yang dipecat karena tuduhan kudeta di tubuh partai. Dalam video tersebut Jhoni Allen mengatakan, bahwa PD sudah dicap sebagai partai dinasti sejak Kongres Luar Biasa (KLB) 2013 lalu. Di mana saat itu SBY menjadi ketua umum dan anaknya, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) partai.

Kemudian, dia pula menegaskan, jika PD akan menuju KLB 2021. Dia mengatakan, “untuk mengembalikan marwah Partai Demokrat sesuai namanya demokratis, terbuka, dan modern yang merupakan landasan partai yang didirikan para pendiri. Sekali lagi bukan partai oligarki yang mengarah kepada dinasti.” Parahnya lagi dia mengatakan, justru yang kudeta PD tersebut adalah SBY sendiri, saat masih berkuasa menjadi Presiden.

Lalu dia mengungkapkan, AHY yang tidak pernah mendaki gunung, tiba-tiba bisa berada di puncak. Dan semenjak PD dikuasai oleh SBY, saat itu juga partai tersebut sudah tidak lagi sebagai partai yang modern dan terbuka. Melainkan sebagai partai dinasti atau keluarga. Masyarakat pula banyak yang menyebut, bahwa PD adalah “Dinasti Cikeas”. Apabila pernyataan Jhoni Allen tersebut benar, maka hal itu mengungkapkan kebobrokan PD selama ini.

Gonjang-ganjing PD semakin terlihat, tatkala AHY menggantikan SBY untuk menahkodai PD. Partai berlambang segitiga berlian itu pun dicap sebagai Partai Dinasti Cikeas. Dengan sebutan tersebut, kepercayaan masyarakat ke partai ini pun menjadi menurun. Dalam perjalanannya, partai ini telah mengalami masa gelap dan terang. Saat SBY menjabat sebagai Presiden, partai ini sedang jaya-jayanya, tetapi semenjak SBY lengser, kejayaan partai ini semakin meredup.

Merebaknya isu kudeta dan KLB Partai Demokrat, menandakan isi dari struktur keanggotaan partai tersebut tidaklah solid. Sejumlah anggota dan mantan kader partai berbondong-bondong untuk menyerukan KLB. Alasannya, karena mereka hanya menginginkan PD seperti dulu lagi, dengan mengusung istilah demokratis, terbuka, dan modern, hingga melahirkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap Partai Demokrat selayaknya dulu. KLB boleh saja dilakukan, asalkan memenuhi ketentuan dan peraturan yang ada.

Dengan demikian, jika melihat kondisi yang terjadi saat ini, dan apabila pernyataan yang diungkapkan Jhoni Allen tersebut benar, maka sistem Partai Demokrat sekarang, sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi. Semoga permasalahan yang dialami PD tersebut cepat selesai. Kemudian saya berharap, mudah-mudahan PD tidak terjebak kembali ke dalam politik dinasti dengan memberi kekuasaan dalam lingkaran keluarga. Yang terpenting, elektabilitas PD akan naik kembali, jika partai ini seperti dulu lagi.

TAG TERKAIT :
Demokrat Partai Demokrat SBY AHY AHY Akan Digulingkan Demokrat Kudeta AHY

Berita Lainnya