Opini

Strategi Busuk AHY dan SBY

Indah Pratiwi Budi - 08/03/2021 14:48
Oleh : Seruanhulu

Sebenarnya, saya tidak peduli tentang apa yang sedang terjadi di DPP Partai Demokrat Mau nyungsep, mau dia tenggelam, mau dia hancur, mau kadernya pukul-pukulan, bodo amat. Tidak ada urusan dengan saya. Itu yang pertama.


Kedua, saya juga tidak peduli siapa yang jadi ketua umumnya dan bagaimana cara pemilihannya. Adapun alasannya, karena sejatinya hal itu adalah urusan internal Partai Demokrat.


Namun, karena strategi politik yang dimainkan Susilo Bambang Yudhoyono dan AHY yang berusaha menarik Presiden Jokowi di dalam kubangan persoalan internal Partai Demokrat, maka tentu saja siapapun berhak untuk menanggapi.


Upaya SBY dan AHY menarik Presiden Joko Widodo dalam sinetron yang mereka mainkan terkait isu kudeta Partai Demokrat, sejak awal sudah tercium ketika AHY mengirimkan surat ke istana.


SBY dan AHY dengan strategi joroknya berusaha menggiring opini publik sehingga seolah-olah gejolak yang terjadi di Partai Demokrat ada kaitannya dengan pihak istana dalam hal ini adalah Presiden Jokowi.

Tujuannya ada dua. Pertama, dengan menyeret Presiden Jokowi, maka tentu saja akan ada preseden buruk terhadap pemerintahan Jokowi yang telah mencampuri masalah internal Partai Demokrat, karena telah mengintervensi dan memecah belah partai.

Tujuan yang kedua adalah untuk menyelamatkan AHY.

Dengan Presiden Jokowi masuk ke dalam lingkaran persoalan internal Partai Demokrat dan supaya tidak dituding telah mengintervensi dan memecah belah partai, maka hanya ada satu opsi yang dilakukan Jokowi yakni membatalkan keputusan Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat.


Ketika keputusan KLB dibatalkan, maka tentu saja AHY akan tetap sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, minimal sampai tahun 2024.


Dan itulah yang diinginkan SBY untuk menyelamatkan karir anaknya supaya tetap eksis di panggung politik. Sehingga di tahun 2024 nanti, AHY tetap memiliki peluang untuk jadi Calon Presiden karena dia ketua umum partai.


Bijaknya, dalam hal ini SBY sebagai tokoh bangsa dan mantan Prsesiden tidak etis menyeret nama Presiden Jokowi soal urusan dapur partai yang dipimpin anaknya itu.

Karena tugas Jokowi jadi Presiden bukan untuk mengurus internal Partai Demokrat, melainkan Jokowi dipilih oleh sebagian besar rakyat Indonesia jadi Presiden adalah untuk mengurus persoalan bangsa dan negara.

Terlepas dari persoalan itu.


Tindakan AHY yang bicara soal hak demokrasi lalu kemudian mengemis dan merengek kepada Presiden Jokowi untuk meminta keadilan terkait persoalan partai yang dipimpinnya adalah selain menununjukkan sifat kekanak-kanakannya juga merupakan tindakan bodoh.


Kenapa tindakan bodoh? Karena sesungguhnya penyelesaian persoalan internal partai tidak ada hubungannya dengan Presiden dan masa ia AHY yang sudah jadi ketua umum partai tidak tau hal ini? Pantas saja Partai Demokrat babak belur dibawah kepemimpinannya.


Jika tidak terima dengan hasil KLB, maka seharusnya AHY menggunakan jalur sesuai prosedur. Ada UU Partai Politik, ada AD/ART Partai dan ada mekanisme hukum. Bukan malah merengek meminta tolong dan perlindungan sana sini layaknya bocah baru sunat kemarin sore.

Sumber : Status Facebook Seruanhulu

TAG TERKAIT :
Partai Demokrat SBY AHY Kudeta Demokrat AHY Akan Digulingkan Demokrat Kudeta AHY

Berita Lainnya