JOKOWI, DIA MEMANG LIHAI

Indah Pratiwi - 10/03/2021 22:38

Siapa mbah Min semua orang paham. Dia paling suka kritik Presiden dengan bawa-bawa pengalaman hebat dia di masa lalu tapi trus buntutnya minta Presiden mundur.

Anehnya, hari ini Presiden justru mau bertemu dengannya di istana. Bersama 6 orang yang lain, mereka ingin berbicara tentang peristiwa KM 50 tol Cikampek.

Setidaknya, ada 3 poin yang mereka telah sampaikan kepada Presiden,

1. Mereka meminta penegakkan hukum peristiwa tewasnya 6 laskar Rizieq Shihab harus sesuai dengan ketentuan hukum.

"Sesuai dengan perintah Tuhan bahwa hukum itu adil," kata si mbah.

2. Mereka menyampaikan bahwa apabila orang membunuh orang mukmin tanpa hak maka ancamannya neraka jahanam.

3. Mereka meyakini bahwa tewasnya enam orang tersebut adalah merupakan tindakan pelanggaran HAM Berat dan oleh karenanya harus dibawa ke Pengadilan HAM.

Terlihat cemen bukan? Tak ada satu pun dari 3 tuntutannya yang masuk akal atau terlihat memiliki tingkat pantas untuk dibahas dalam level istana.

Tuntutan pertama dan kedua membawa konsep gado-gado. Tuhan dan juga neraka di bawa-bawa dalam perspektif hukum positive negara kita.

Terkait permintaan ke 3, Komnas Ham sebagai lembaga yang independen pun juga sudah memberi rekomendasi. Hasilnya, ada pelanggaran Ham biasa.

Dengan kata lain, ke 7 orang tersebut tak percaya pada rekomendasi Komnas Ham yang rekomendasinya adalah pelanggaran Ham ringan dan lalu menuntut Presiden mengganti rekomendasi itu menjadi pelanggaran Ham berat gitu?

"Trus kalo ga penting, kenapa Presiden mau menerima mereka?"

Serius, 3 poin itu tak ada yang layak untuk ditukar dengan waktu berharga milik Presiden, Menkopolhukan dan Mensesneg. Ketiganya adalah orang sangat sibuk.

Pasti ada maksud, ada strategi yang bersifat samgat politis di balik semua itu.

"Apa itu?"

Bisa saja masalah Demokrat kan?

Bukankah ramai mereka yang protes di Kemenhukam sedang berusaha mendiskreiditkan pemerintah atas polemik intern mereka sendiri adalah salah satu cara pansos di mana mereka sedang sangat butuh panggung?

Bukankah tabuhan gendang itu kini juga telah menarik minat mantan Panglima menari dalam iringan musik itu?

Satu dibiarkan terlihat menjauh, satu yang lain dibuat mendekat. Seperti main layang-layang, demikianlah tarik ulur adalah seni dalam permainan itu. Satu ditarik, yang lain diulur atau dibiarkan putus, siapa yang tahu?

Namun di balik semua itu, panggung itu kini justru dialihkan oleh Presiden. Aksi panggung itu benar hanya 15 menit, namun lebih dari cukup untuk menutup gemuruh panggung di sebelah.

Anggapan masyarakat luas atas diterimanya mereka yang selalu kritis padanya semakin mengokohkan Jokowi sebagai orang baik. Dan itu ditengok oleh siapa pun. Itu menarik untuk dilihat.

Berita besar tentang sosok Amin Rais yang diterima Presiden di Istana Negara adalah berita tentang kemenangan Presiden Jokowi. Kemenangan kesantunan atas kebencian yang selalu ditampilkan oleh mbah Min pada sosok sederhana dari Solo itu.
.
.
RAHAYU
,
Karto Bugel

Berita Lainnya