Opini

Ragam Job Desk Teroris

Indah Pratiwi - 07/04/2021 10:05
Oleh : Max Hendrian Sahuleka
FOKUS : Terorisme

"Tidak semua teroris bertugas di lapangan, ada juga teman segolongan mereka yang bertugas melakukan pembelaan di media sosial."

Saya sangat setuju dengan komentar yang ada dalam gambar yang saya sertakan ini yang mengomentari cuitan si @ArieKuntung.

Tujuan teroris dengan terorisme-nya adalah menciptakan kegaduhan dengan berbagai cara.
Para pendukung terorisme, seperti artis yang satu ini, berusaha membangun opini-opini.

Opini-opini yang dibangun di antaranya :
1. Opini bahwa peristiwa tersebut adalah bohong belaka.
2. Opini bahwa peristiwa tersebut adalah upaya pemerintah mengalihkan opini.
3. Opini bahwa pemerintah adalah dalang di balik peristiwa bom bunuh diri di Katedral Makassar dan peristiwa penembakan di Mabes Polri.
4. Opini yang menyalahkan pihak lain di luar dirinya yang melakukan hal tersebut.
5. Dan mungkin masih ada opini-opini lainnya

Argumentasi-argumentasi yang diberikan pun sesungguh sangat tak berdasar dan mudah dipatahkan, seperti :
1. Meragukan rekaman video dari CCTV seperti yang dikatakan @ArieKuntung dalam cuitannya di twitter. Tentu saja argumentasi ini dengan sangat mudah dipatahkan dengan membuktikan bahwasannya video CCTV yang beredar benar-benar berasal dari CCTV.

2. Mengatakan bahwa dalangnya adalah sama (sambil mengarah atau menunjuk kepada Pemerintah) dengan mendasarkan argumentasinya pada surat wasiat pelaku yang tulisannya hampir sama bahkan tanpa memperhatikan dengan seksama menganggap tulisan tersebut dibuat oleh orang yang sama. Tentu saja argumentasi ini dengan sangat mudah dipatahkan karena jika diperhatikan dengan seksama maka kedua tulisan dalam surat wasiat tersebut sangatlah berbeda.

3. Menuduh pihak atau kelompok lain sebagai yang berandil besar atau kedua peristiwa tersebut dengan hanya karena di rumah pelaku terdapat foto / gambar Abdul Qodir Jaelani. Bahkan mereka dengan segala kebodohannya yang ingin menisbatkan itu pada kalangan Syiah membangun opini bahwa itu adalah foto Imam Syiah sehingga menjadi menyalahkan kalangan Syiah. Namun mereka mengabaikan fakta dari temuan di lapangan dan media sosial pelaku bahwa mereka tergabung dalam ormas tertentu dan dari media sosialnya diketahui bahwa mereka menganut paham tertentu dan takfirisme.

4. Menganggap ini sebagai upaya pemerintah mengalihkan isu hanya karena media menjadi sangat intens menyoroti kedua peristiwa ini. Lah yang namanya media kan memang mencari berita-berita terbaru yang hot. Jangan-jangan pernikahan Aurel dan Atta Halilintar dituduh sebagai upaya mengalihkan isu

Dan percayalah, opini-opini yang dibangun oleh orang-orang sepaham dengan pelaku bom bunuh diri di Katedral Makassar dan pelaku penembakan di Mabes Polri ini LEBIH BERBAHAYA DARIPADA PARA PELAKU TERSEBUT karena aksi para pelaku tersebut dan dampaknya selesai pada saat peristiwa terjadi. Namun opini-opini yang dibangun oleh orang-orang yang sepaham dengannya akan terus menyebarkan pahamnya dan membangun opini sedemikian rupa untuk memperkeruh dan menggaduhkan suasana.

Semoga pemerintah dan pihak kepolisian bertindak lebih tegas lagi dan dengan cepat.

Salam Cerdas,
Sumber : Status Facebook Max Hendrian Sahuleka

TAG TERKAIT :
Terorisme Kelompok radikal Kelompok teroris Bahaya Laten Radikalisme FPI Tukang Hoaks FPI Teroris FPI Tukang Ngebom FPI Ormas Teroris FPI Ormas Radikal

Berita Lainnya

Filsuf Dungu

Opini 17/05/2021 08:50