Kebencian, Awal Mula Menjadi Teroris

Indah Pratiwi - 08/04/2021 12:00

Kehidupan dan kedamaian berbangsa di Indonesia dalam satu dekade ini, sedang mengalami ujian berat. Kebhinekaan yang menjadi penopang utama kekuatan bernegara kita tengah menghadapi pukulan hebat secara bertubi-tubi. Itu karena serangan teror bom bunuh diri terhadap kelompok agama dan institusi kepolisian yang baru-baru ini saja terjadi. Celakanya, serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris ini selalu mengatasnamakan agama.

Lahirnya terorisme menurut beberapa analis adalah berdasarkan kesenjangan sosial ekonomi, merasa diperlakukan tidak adil, kapitalisme global, dan konspirasi. Namun, tidak banyak pakar yang berpikir secara mendasar bahwa terorisme juga lahir bermula dari faktor kebencian terhadap orang yang berbeda pemahaman, pemikiran, dan keyakinan, sehingga menempuh jalan pintas (short cut) dengan melakukan bom bunuh diri.

Kebencian yang berlebihan, dapat membuat seseorang lupa pada hakikat beragama. Beragama yang semestinya membuat orang itu menjadi tenang, bijaksana, memiliki hati bersih, dan berempati. Tapi mengapa belakangan ini yang terlihat justru orang beragama semakin menyeramkan? Bahkan menjadi monster pembunuh manusia yang tidak bersalah.

Saya sering mengatakan, terorisme tidak akan pernah habis dengan cara dibasmi atau diperangi dengan tindakan represif aparat. Terorisme dengan mengatasnamakan agama harus diberangus dengan cara menyentuh hal-hal paling dasar. Salah satu faktor yang melatarbelakangi seseorang terjerembab ke dalam lumpur kebiadaban ini tidak lain: hasutan kebencian, permusuhan, dan provokasi secara sengaja dan sistematis. Baik oleh aktor politik, maupun pemuka agama yang dianggap otoritatif dalam dakwah dan khutbah kebencian.

Banyak pengajian-pengajian, tapi sesungguhnya di sana tidak ada pengajian. Yang ada adalah provokasi, propaganda, dan hasutan dengan modus pengajian. Dalam hal ini, kita harus terus terang, harus menyadari bahwa ada yang salah dalam cara dakwah tokoh agama kita. Tentunya kita semua perlu untuk terus berupaya secara kolektif melakukan tindakan-tindakan pencegahan sebagaimana yang dilakukan oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dalam menolak ustadz-ustadz radikal yang berceramah kebencian, sebelum gerombolan teroris banyak merekrut generasi muda kita yang terkontaminasi pemahaman ustadz radikal.

Anak muda memang sedang dalam pencarian jati diri. Banyak pemuda yang dalam masa pencarian diri, mereka dihinggapi oleh lingkungan tidak sehat narkoba, perkelahian atau anarkisme, dan terorisme. Banya manusia modern mengalami kehampaan spiritual, krisis makna, dan legitimasi hidup, serta kehilangan visi dan mengalami keterasingan (alienasi) terhadap dirinya sendiri (Haidar Bagir, 2020: 54).

Secara kebetulan, pemuda yang masih rapuh dan resah itu, menerima dogma kedengkian, ujaran kebencian, dan kemarahan dengan menyentuh wilayah emosional keagamaan dari para da’i yang profokatif, ustadz yang menghasut, dan mubaligh yang memecah belah persaudaraan. Biasanya tidak hanya karena ideologi keagamaan saja, tapi juga lantaran kepentingan diri sendiri dalam kancah elite politik kekuasaan.

Semua tokoh agama yang selalu menyiarkan kebencian semacam itu, seharusnya tidak boleh lagi diberi panggung. Bahkan harus disingkirkan dari banyak akses ke area publik. Sebab, seorang teroris memiliki dasar kebencian yang kuat yang juga berdasarkan doktrin permusuhan. Benci penguasa atau pemerintah misalnya dengan mengatakan pemerintah taghut—malah pemerintahan kafir, darul harb atau negara musuh yang harus diperangi—karena tidak berdasarkan syariat Islam ala mereka.

Benci terhadap ideologi atau mazhab tertentu yang dianggap menyimpang, dapat membuat seseorang itu meluapkan emosinya dengan mencaci. Selain itu, benci terhadap agama atau keyakinan lain juga kerap menimbulkan konflik sosial keberagamaan. Kebencian inilah yang menjadi dasar gerombolan bengis teroris melakukan tindakan-tindakan di luar akal sehat mereka sendiri dengan melakukan bom bunuh diri. Doktrin jihad, diselewengkan sedemikian rupa menjadi sesuatu hal yang mengerikan.

Padahal prinsip dan ajaran Islam yang dibawa oleh manusia paling sempurna sepanjang zaman, Nabi Muhammad SAW sudah jelas: menolak segala kebencian yang mengarah pada permusuhan sesama yang destruktif. Ajaran Nabi SAW telah direduksi adalah menghargai kemanusiaan dalam lingkup kedamaian dan kemaslahatan yang transenden atas dasar ilahiah (tauhid). Dengan prinsip itu jelas, pada tataran praksis kehidupan sosial, Islam sangat melarang umatnya mencemooh keyakinan dan menuntut untuk menghargai perbedaan dalam mozaik keislaman. Mencaci-maki saja dilarang, apalagi sampai melukai dan membunuh.

Kita tentu sangat meyakini agama kita merupakan agama keselamatan dan agama yang benar. Sementara agama lain keliru. Meski demikian, relasi dan kerjasama positif antar umat beragama dalam mengupayakan pembangunan nasional, harus terus dijaga harmonisasinya. Mudah saja, tidak mencaci-maki agama atau keyakinan lain, atau yang dianggap simbol dari kesucian agamanya. Para bijak mengatakan, “Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.”

Sayyidina Ali bin Abi Thalib saat menjabat sebagai khalifah ke-4, mengalami pemberontakan dari kelompok Khawarij. Kelompok ini menuduh Imam Ali telah sesat atau bahkan kafir. Saat ditanya oleh para sahabatnya tentang sikap terhadap Khawarij itu. Imam Ali dengan tenang menjawab, “Mereka adalah saudara-saudara kita yang memberontak terhadap kita.” (KH. Husein Muhammad dan Siti Aminah, 2017: 90). Jawaban Imam Ali sungguh memukau. Ia tidak menyebut Khawarij sebagai “musuh Islam”, ataupun “kelompok sesat dan kafir”.

Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa sikap Imam Ali terhadap kaum Khawarij masih digolongkan sebagai Muslim. Dosa besar yang dilakukan oleh kaum Khawarij, tidak membuat kelompok pemberontak itu keluar dari Islam. Karena itulah, kita harus betul-betul menyadari, ada yang salah dalam metode atau ajaran dakwah oleh sebagian dari pemuka kita yang tidak moderat.

Sebagaimana Gus Mus pernah menulis dengan indah pada bulan Oktober Tahun 2011: Saat ini banyak orang mengaku berdakwah, mengajak kepada Islam, tapi dia sendiri menjauh dari Islam. Bukannya memberi contoh moral yang mulia, malah mengajarkan untuk membenci sesama, lalu mengobarkan permusuhan kepada siapa saja di luar kelompoknya. Puncaknya menebar teror di mana-mana. Jika ada orang yang mengaku menghormati Allah tetapi tidak mendengarkan perintah-Nya, seperti menganiaya, bahkan membunuh hamba Tuhan lainnya tanpa hak, berarti orang tersebut pendusta (M. Zidni Nafi, 2019: 46-47).

Pada gilirannya, kebencian yang berlebihan akan mendorong seseorang berbuat hal-hal ekstrem yang merusak. Tidak hanya itu, keterasingan, kekeruhan, dan kekeringan spiritualitas dalam diri, mengalami pemberontakan sehingga mereka merapat pada jejaring terorisme dengan mengatasnamakan agama. Mereka terlalu kecewa akibat kebencian yang mendalam. Mereka telah kehilangan harapan atas kebahagiaan dan makna hidup yang sesungguhnya.

Beberapa organisasi masyarakat Islam yang moderat—seperti Muhammadiyyah dan Nahdlatul Ulama—perlu dilibatkan pemerintah untuk mengatasi problematika yang kompleks dan serius ini. Menutup akses para pemuka agama yang menebar kebencian, dan membuka seluas-luasnya pemuka agama yang lebih santun untuk naik ke panggung publik dalam rangka mengurai kekakuan dan kebekuan beragama, agar ujaran kebencian yang mendorong banyak teroris melakukan teror, tidak mendominasi lagi di ruang-ruang publik, termasuk di ruang maya.

Berita Lainnya