Kesehatan

Puasa itu Menyehatkan Jiwa dan Raga

Indah Pratiwi - 20/04/2021 08:27

Setiap kali bulan Ramadhan datang, umat Muslim selalu menyambutnya dengan gembira. Bahkan, berbagai tradisi dan perayaan dilaksanakan untuk menyambut bulan mulia tersebut. Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah hikmah dilaksanakannya puasa, yaitu menyehatkan untuk jiwa dan raga kita.

Sebagaimana diketahui, di tengah kemakmuran serba benda ini, manusia terkadang cenderung merasa ada kurang dan kering dari segi spiritual. Perasaan seperti itu, pada akhirnya akan menimbulkan kecemasan, kekhawatiran, ketakutan akan masa depan, konflik batin, ketegangan emosional dan gangguan kejiwaan.

Kehidupan yang dialami seseorang dalam keadaan gangguan jiwa tidak kurang pedihnya dengan sakit jasmani atau raga. Namun, orang dengan gangguan jiwa, pada ujungnya kesehatan raganya pun ikut terganggu. Kehidupan jiwa yang sehat mungkin dapat menolong atau mengurangi pedihnya sakit jasmani tersebut.

Kondisi jiwa memang sangat menentukan dalam hidup ini. Hanya orang yang sehat jiawanya sajalah yang dapat merasa bahagia dan sanggup menghadapi kesulitan-kesulitan atau rintangan hidup. Apabila kesehatan jiwa terganggu, maka akan muncul gejala-gejala tertentu dalam segala aspek kehidupan, misalnya perasaan, pikiran, kelakuan dan kesehatan raganya.

Di antara yang termasuk gangguan jiwa adalah penyakit hati, sebagaimana disebut dalam Al-Quran (QS. al-Baqarah [2]: 10). Dalam hal ini, Yedi Supriadi dalam Bimbingan Kesehatan Mental (2018) menyebut, penyakit hati yang menyebabkan gangguan jiwa seseorang di antaranya ada hasud, iri, dengki, dusta, takabbur (sombong), khauf (takut), riya’ (pamer), ananiyah (keakuan/egois), marah, tidak sabar dan sebagainya.

Ramayulis dalam Psikologi Agama (2007) menjelaskan gejala-gejala gangguan jiwa tersebut dapat dilihat dari segi perasaan, pikiran, tingkah laku dan kesehatan badan. Dari segi perasaan ditandai dengan adanya rasa gelisah, cemas, takut kehilangan harta, iri, dengki, sombong, cinta pangkat dan harta, ketegangan batin, rasa putus asa, murung dan sebagainya. Dari segi pikiran tanda-tandanya antara lain adanya ketidakmampuan berkosentrasi dan seringnya muncul pikiran-pikiran buruk. Dari segi tingkah laku orang yang mengalami gangguan jiwa perbuatannya selalu mengganggu dirinya maupun orang lain. Dan dari segi kesehatan fisik akan tampak kelemahan fungsi organ jasmani atau raga.

Dalam konteks ini, puasa sebagai salah satu ibadah yang diwajibkan kepada umat Muslim (QS. al-Baqarah [2]: 183) memiliki dimensi spiritualitas yang sangat tinggi. Puasa tidak hanya bermakna menahan lapar dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, tetapi lebih dari itu puasa dapat dimaknai sebagai upaya meningkatkan kesehatan jiwa dan raga. Dengan kata lain, puasa dapat mencegah terjadinya gangguan-gangguan jiwa dan sakit raga, seperti yang saya sebut di atas. Setidaknya, ada beberapa hal yang mendasarinya.

Pertama, puasa tidak hanya terbatas pada dimensi spiritual, tetapi juga dimensi psikologis. Zakiah Derajat dalam Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental (1989) menyebut di antara penyebab gangguan kejiawaan adalah karena rasa berdosa atau bersalah dan dendam. Dalam temuannya sebagai konsultan kejiwaan, ia menyarankan agar orang yang diliputi rasa bersalah dan dosa memperbanyak puasa, terlebih puasa Ramadhan. Hasilnya, orang tersebut merasa lebih menjadi lebih baik secara psikologis.

Dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan kesadarannya, maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni. Dari hadis ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh disertai rasa iman kepada Allah SWT, maka orang tersebut akan mendapat ampunan dari Tuhan.

Dalam hal ini, perasaan berdosa atau bersalah, yang menyebabkan seseorang terganggu jiwanya dan akhirnya terpuruk, dengan berpuasa seseorang akan merasa lebih berguna dan berarti dalam hidupnya. Pasalnya, ia menjalani kehidupan berdasarkan perintah Tuhan yang Mahapengampun dan luas ampunannya. Bisa dibilang, dengan menjalani puasa secara terus menerus dan konsisten, maka secara perlahan kesehatan jiwanya akan kembali seperti biasa lagi.

Lebih lanjut, Zakiah menjelaskan bahwa dendam yang menjadi terjadi gangguan jiwa juga dapat diobati dengan berpuasa. Begitu juga penyakit hati lainnya seperti, hasud, iri, dengki, dusta, takabbur (sombong), khauf (takut), riya’ (pamer), ananiyah (keakuan/egois), marah, tidak sabar dan sebagainya. Dengan berpuasa, orang berlatih mengendalikan diri, termasuk mengendalikan sifat-sifat tercela di atas. Alhasil, jika seseorang tidak lagi memiliki sifat-sifat buruk tersebut, ia akan jauh lebih sehat kejiawaannya.

Kedua, puasa melatih kita untuk tidak menyantap makanan secara berlebihan. Seorang yang banyak makan macam-macam makanan, ia berpotensi lebih banyak mengidap penyakit, khususnya penyakit jasmani. Yuval Noah Harari dalam Homo Deus (2018) bahkan menyindir dengan sinis bahwa kematian manusia di dunia ini lebih banyak disebakan oleh makanan yang berlebih dibanding serangan kaum teroris. Kolestrol, asam lambung, gagal ginjal, kencing manis, kencing batu, dan lain-lain, semua itu disebabkan oleh makanan yang berlebihan.

Puasa mengajari kita untuk mengurangi jumlah makanan yang kita konsumsi tersebut. Kalau biasanya kita setiap hari menyantap makanan tiada henti, dari pagi, siang, sore, bahkan malam, pada bulan puasa Ramadhan ini, selama satu bulan penuh kita hanya makan di saat buka dan sahur. Dengan konsumsi makanan yang tidak terlalu banyak, potensi untuk mengidap penyakit pun semakin sedikit.

Saya pribadi merasakan secara langsung, ketika saya berpuasa saya merasa lebih sehat secara jiwa dan rohani. Puasa membuat saya lebih bisa bersikap sabar, menerima keadaan, tidak tamak terhadap sesuatu, dan bermurah hati. Bahkan, beberapa tahun terakhir saya merasakan betul, selama bulan puasa Ramadhan, saya tidak pernah sakit. Padahal, diluar bulan puasa saya kerap merasakan sakit, entah sakit kepala, flu, batuk-batuk, hingga tipus sekalipun. Alhamdulillah, di bulan puasa kesehatan selalu menghampiri saya.

Namun demikian, yang perlu kita perhatikan adalah, tanpa kesehatan jiwa seorang tak akan terhindar dari kesehatan jasmani atau raga. Abdul Aziz El-Quusiy, seorang psikolog asal Mesir mengatakan, kesehatan jiwa sama juga dengan kesehatan raga. Artinya, jika seseorang sehat jiwanya, maka akan sehat pula raganya. Demikian juga sebaliknya. Jika jiwanya sakit, maka akan berdampak pada meningkatnya resiko sakit jasmani ata raga, bahkan hingga kematian sekalipun.

Dengan berpuasa, jiwa menjadi lebih sehat, begitupun raga menjadi lebih sehat. Ada adagium yang terkenal bahwa “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat” atau Mens sana in corpore sano. Namun, bagi saya sebaliknya, di dalam jiwa yang sehat, di situlah terdapat tubuh yang sehat dan kuat. Singkatnya, puasa pada dasarnya telah mengajari kita banyak hal. Namun, yang paling penting adalah puasa mengajarkan kita untuk terus menjaga kesehatan, terutama kesehatan jiwa dan raga.

TAG TERKAIT :
Kesehatan Ramadhan Puasa Puasa ramadhan Puasa Ramadhan 2021

Berita Lainnya