Kriminal

Polda Jateng Bongkar Distribusi Alat Rapid Antigen Ilegal Beromzet Rp2,8 M

Aisyah Isyana - 06/05/2021 00:41

Beritacenter.COM - Praktik penjualan alat rapid test antigen ilegal berhasil dibongkar jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Jawa Tengah. Pelaku SPM (34), meraup untung untung kotor Rp2,8 miliar dari penjualan rapid test ilegal tersebut.

Pengungkapan kasus bermula saat polisi mendapat informasi terkait peredaran alat rapid test tanpa izin pada Januari lalu. Dari informasi yang didapat, alat rapid test itu beredar di kawasan Padangsari, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

"Kita dapatkan informasi adanya masyarakat kita yang menggunakan rapid tes tanpa izin edar," kata Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Lutfi saat rilis kasus di Ditkrimsus Polda Jateng, Semarang, Rabu (5/5/2021).

Mendapat informasi itu, polisi langsung melakukan undercover buy atau menyamar jadi pembeli. Dari sini, polisi mendapati kurir membawa 25 boks yang masing-masing berisi 25 alat tes tanpa izin edar.

Selanjutnya, polisi langsung melakukan penggeledahan dan penyitaan terhadap pengirim berinisial SPM di Jalan Perak, Kwaron, Kecamatan Genuk, Kota Semarang.

"Sebanyak 450 pack kita amankan. Dia (pelaku) mencari keuntungan. TKP di wilayah Genuk Semarang," jelas Luthfi.

Terdapat tiga merek alat rapid antigen yang diduga tanpa izin edar, yakni 'Clungene', 'Hightop', dan 'Speedchek'. Tak hanya itu, ada juga beberapa benda tanpa izin edar seperti pulse oximeter, oximeter IP22, dan 59 pack masing-masing berisi 100 pcs stik swab.

"Kalau tidak punya izin edar jangan-jangan dipalsukan. Palsu dan tidak perlu penyelidikan lebih dalam. Jangan-jangan kualifikasi kesehatan tidak memenuhi persyaratan," ujar Luthfi.

Penjualan alat rapid test ilegal itu diketahui telah berlangsung sejak Oktober 2020 hingga Februari 2021. Pelaku dapat menjual 300-400 boks alat rapid test antigen, dalam waktu 1-2 minggu. Alat rapid test itu diedarkan di wilayah Jateng.

"Dia melakukan aksinya dengan keuntungan Rp 2,8 miliar. Dia lebih murah karena tidak punya izin edar," jelasnya.

"Diedarkan di wilayah Jateng, di masyarakat umum biasa, klinik dan rumah sakit. Merugikan tatanan kesehatan," sambungnya.

Dikatakan Dirkrimsus Polda Jateng Kombes Johanson Ronald Simamora, pelaky merupakan distributor dan sales wilayah Jawa Tengah yang memiliki rekanan di Jakarta sebagai kantor pusat yang mendistribusikan barang-barang itu ke area Jateng.

"Dia distributor, sales, mencari pasar. Ada pasar dia menghubungi Jakarta kemudian didistribusikan ke sini. Wilayah Jateng ada Pekalongan, Semarang dan luar daerah," jelas Johanson.

Kedepannya, Johanson memastikan akan segera menetapkan pimpinan perusahaan tempat pelaku bekerja sebagai tersangka. Mengingat penjualan alat kesehatan (alkes) ilegal ini dinilai merugikan masyarakat luas.

"Kemungkinan rencana dirut akan tetapkan jadi tersangka. Kita betul-betul concern pada masalah alkes," ujarnya.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, SPM dijerat pasal 197 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan sebagaimana diubah dalam pasal 60 angka 10 UU Cipta Kerja dengan ancaman 15 tahun penjara dan denda 1,5 miliar. Kemudian untuk UU perlindungan konsumen ia dijerat dengan pasal 62 ayat 1 dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp 2 miliar.

TAG TERKAIT :
Berita Kriminal Indonesia Polda Jateng Alat Rapid Test Ilegal Alat Rapid Antigen

Berita Lainnya