Politik

PDIP (TIDAK) DALAM PERSIMPANGAN

Indah Pratiwi - 27/05/2021 11:30
FOKUS : PDIP

Umpan telah dimakan dan kita larut dalam tegang drama tarik menarik tersebut. Judul berita terbaca sangat tendensius telah muncul dan emosi kita diborong tuntas : "PDIP Persilahkan Ganjar Angkat Kaki Bila Dipinang Partai Lain di Pilpres 2024".

Hanya butuh waktu 4 hari hingga spekulasi seperti pada judul berita tersebut muncul. Butuh 4 hari menggoreng isu itu hingga emosi tercabik dan masyarakat larut di sana.

Benarkah judul itu sama dengan isinya? Kita tidak tahu. Pertanyaan wartawan adalah bila Ganjar dipinang oleh partai lain dan Bambang Pacul dengan diplomatis menjawab siapa pun berhak.

Tahukah anda bahwa ARSC beberapa hari yang lalu telah merilis hasil survei elektabilitas partai politik dan hasilnya, Partai Demokrat masuk tiga besar dibawah PDIP dan Gerindra?

Tahukah anda bahwa PD justru masuk 3 besar dalam survey itu justru karena alasan heboh kudeta?

Sangat mungkin, ini pun adalah cara PDIP melakukan pemanasan menjelang pemilu 2024 nanti. Membuat nama partai tersebut menjadi bahan pembicaraan adalah salah satu cara menanamkan memori.

"Apa ga rugi kalau yang diomingin adalah hal buruk?"

Kurang sensasional apa PD ketika isu kudeta dijadikan rujukan? Tak butuh waktu lama partai tersebut melonjak drastis.

Kurang menggelikan bagaimana ketika seorang Trump pertama kali dimunculkan? Ternyata tak butuh lama Trump pun terpilih jadi Presiden kan?

Di sana istilah "Firehose of Falsehood" atau sering kita terjemahkan dengan semburan dusta mulai sering kita gunakan. Ternyata, bukan melulu hal baik kita dengar dan maka kita suka atau sebaliknya. Itu tentang semakin sering kita sebut, semakin tertanam dalam ruang benak kita.

"Apa indikasinya?"

Ganjar dan Puan tak pernah berdiri pada saling berseberangan. Dalam hal apa pun. Bahkan, keduanya pernah sangat dekat satu sama lain saat proyek "menggulung" Bibit Waluyo.

Perkasa sang incumbent Bibit Waluyo dengan segala ketenarannya pada publik Jawa Tengah ternyata tak mampu melawan duet Puan dan Ganjar hingga kursi Jateng 1 berhasil direbut pada 2013 silam.

Di sisi lain, bukankah Ganjar sehari sebelumnya diberitakan bertemu dengan bu Megawati di Jakarta?

Adakah itu tak terkait dengan berita tak diundangnya Ganjar pada acara Semarang yang diadakan oleh Puan?

Kenapa kita tak mencoba berpikir logis bahwa undangan bu Mega sehari sebelum peristiwa Semarang adalah agenda?

Apa jawaban Ganjar saat di tanya kenapa dia tak hadir? " Saya tidak diundang."

Logiskah seorang politisi senior sekelas Ganjar spontan dalam jawab jujur banget dan bahkan menonjolkan sisi innocent seperti itu?

Tidak!! Jawaban Ganjar tak logis ketika hal tersebut sebagai apa adanya. Bila kejadiannya adalah benar Ganjar tak tahu menahu, dia akan mencoba menjawab dengan diplomatis bukan to the point seperti itu.

Dia politikus ulung dan pandai dalam hal jawab menjawab terkait politik. Jawaban itu dibuat dengan maksud.

Dan kemudian kita heboh. Dan kemudian ada partai asing ikut berbicara. Dan kemudian para pengamat berteori. Dan kemudian medsos meledak dalam hingar. PDIP menjadi trending topic.

"Apa yang ingin direbut oleh PDIP?"

PDIP diprediksi akan tetap menjadi partai pemenang pemilu, jelas bukan katanya belaka. Logis prediksi kemenangannya tampak dengan telah dibuktikannya dari banyaknya survey.

Nama calon presiden akan diajukan pada 2024 mendatang menjadi domain bersama antara Presiden dan Partai, bukan mustahil adalah apa yang menjadi urgensinya. PDIP seperti sedang berkirim sinyal.

Itu terkait rencana bahwa tahun 2022-2023 Presiden akan menunjuk siapa menjadi Pj Gubernur pada 24 Provinsi dan Pj Bupati dan Walikota pada 224 daerah setingkat kota dan Kabupaten. Peristiwa tersebut akan membuat posisi Presiden sangat kuat. Beliau langsung punya kontrol pada hampir 70% secara nasional pada pemilu yang akan datang.

Dengan Kapolri telah dipilih dari kadernya dan baru-baru ini Pangkostrad diangkat adalah orang yang sangat loyal padanya, tentu bukan sesuatu yang tak ada hubungannya. Sangat mungkin hal tersebut makin mengokohkan posisinya.

Pendek kata, Jokowi adalah Kingmaker pada sosok siapa pantas menjadi Presiden pada periode 2024-2029 nanti. Siapa pun nama yang akan disebut sebagai calon penggantinya memiliki potensi paling besar pada perebutan kursi tersebut.

"Bukankah itu perlu kendaraan bernama partai politik?"

Partai mana yang tak akan mendukungnya bila siapa yang dimajukan oleh Jokowi pasti terpilih? Itu seperti tukar guling saja. Bukan hal prinsip bagi kebiasaan partai politik kita saat ini, kecuali PDIP tentunya.

Partai yang satu ini sangat mandiri, dewasa dan konsisten. Untuk itu, Jokowi akan tetap setia pada partai yang telah membawa dirinya menjadi Presiden. Itu pasti..!!

Bukan hanya sinyal itu pasti ditangkap oleh Presiden, sinyal yang sama sebenarnya telah dikirim oleh Presiden pada PDIP. Bukankah penunjukan Risma yang nota bene adalah kader unggulan PDIP adalah sinyal bahwa Presiden sedang mengkader sosok tersebut?

Bukankah kemunculan kembali nama Budiman Sudjatmiko akhir-akhir ini layak kita kaitkan dengan isu tersebut? Dia selain tokoh awal berdirinya PDIP, sekaligus dia juga adalah tokoh bagi lahirnya gerakan reformasi.

Sepertinya, pada waktunya nanti, nama-nama yang akan Presiden bahas bersama dengan bu Mega adalah kader-kader hebat yang berasal dari PDIP. Baik bu Mega dan Presiden memiliki peran seimbang.

Pada waktunya nanti, PDIP sebagai partai pemenang pemilu sekaligus memenangkan Pilpres bukan lagi sebagai hal mustahil.

"Siapa kira-kira calon akan diusulkan?"

Sepertinya tak jauh dari nama Ganjar, Risma, Budiman Sudjatmiko, Prananda Prabowo hingga Puan Maharani. Semuanya tokoh hebat. Semuanya kader PDIP. Semuanya sedang dan sudah mulai ditampakkan dalam partisipasinya masing-masing.

Semuanya adalah tokoh yang pantas dan mampu menerima tongkat estafet Presiden yang baik dan jujur ini.

Dan ingat, itu semua adalah hasil kesepakatan Presiden dan bu Megawati. Keduanya bersepakat dalam jujur demi masa depan negara ini.

Tak ada ribut dalam internal PDIP terkait peristiwa Semarang. Pun antara Ganjar dan Puan. Keduanya politikus yang pandai bahasa politik. Itu hanya gimmick politik bermakna "sedia PACUL sebelum hujan".
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel

TAG TERKAIT :
PDIP Ganjar Ganjar Pranowo Puan maharani PDI-Perjuangan Capres 2024 Pemilu 2024 Ganjar Pranowo Vs Puan Maharani PDIP Memanas

Berita Lainnya