Politik

MENIMBANG GANJAR, MENENDANG PDIP

Indah Pratiwi - 31/05/2021 17:32
Ditulis Oleh : Karto Bugel
FOKUS : PDIP

Entah bagaimana caranya, peristiwa Semarang telah menciptakan kutub antara Ganjar dan Puan. Lebih jauh, Ganjar dan PDIP sedang pula mereka coba benturkan. Narasi "PDIP buang Ganjar, PDIP akan berhadapan dengan rakyat" kini mudah kita temui.

Itu berawal dari Puan tak mengundang Ganjar pada pertemuan di Semarang. Bambang Pacul sebagai kader senior justru berkomentar terbalik dari rasa ingin membuat teduh suasana.

Namun, adakah Ganjar sudah berikrar ingin menjadi Presiden? Ataukah Puan sudah ditetapkan sebagai calon dari PDIP? Kita sibuk bertendensi. Kita berebut sesuatu yang tak pernah ada. Gelombang itu hanya menciptakan buih tanpa makna.

Puan tak berkualitas dan bisa tampil hanya karena faktor turunan disandingkan dengan Ganjar yang tersurvey positf. Ganjar yang bagus namun tak berdarah ningrat akan dibuang demi trah. Keduanya sebagai narasi, sedang dibangun.

Memecah belah PDIP dari dalam sedang dibuat setelah usaha meruntuhkan dari luar menemui kegagalan.

"Emang pernah?"

Satu tahun yang lalu, ramai PDIP sebagai partai terhubung dengan PKI kita dengar. Peristiwa itu terakumulasi pada peristiwa pembakaran bendera PDIP saat unjuk rasa RUU HIP di depan Gedung DPR/MPR RI, 24 Juni 2020.

Arogan mereka berteriak "PKI..!! PKI..!!" dalam aksi pembakaran bendera partai berlambang kepala banteng itu bukan tanpa perencanaan.

Mereka secara sistematis telah membuat perencanaan dan RUU HIP adalah batu lompatan.

"Siapakah mereka sehingga begitu nekad melakukan kegilaan itu?"

Sebenarnya, mereka hanya buih. Kecil dan tak berarti. Menjadi besar karena mereka berbaju agama dan bersuara rasis.

Mblandang, sedikit agak mewakili tapi masih terlalu lunak. Nekat, mungkin terlalu cepat menunjuk pada kebiasaan melekat kelompok itu.

Bodoh, mungkin lebih tepat.

Ya...,kombinasi mblandang dan nekat tanpa melihat seberapa kuat pijakannya, telah membuat kelompok ini terlihat menjadi bodoh.

"Piyék" (anak ayam baru kemarin sore netas) ngelabrak banteng, tepok jidat pun masih terlalu halus untuk menggambarkan kebodohan akut itu.

Sejarah berbicara bahwa tahun 1996 PDI Megawati (cikal bakal PDIP) sudah berani tolak pinggang dengan sebelah tangan menunjuk muka penguasa Orde Baru yang sangat represif. Yang lain, justru berebut mencari muka.

Saat itu, efpei (dan onderbow-nya), jangankan lahir, indukannya pun belum terpikir untuk diselingkuhi. Orde baru belum tertarik bikin preman apalagi yang berdaster. Masih terlalu kuat. Orde Baru masih jadi penguasa tunggal bagi segalanya.

27 Juli 96 adalah puncaknya. Sebelumnya, orasi kebangsaan, hiburan langka pada jaman Soeharto berkuasa, dapat kita nikmati hampir setiap hari di Diponegro no 58 itu.

Tempat itu selalu ramai. Ruang orasi politik seolah mendapat tempat pada panggung itu. Sebelumnya, dijamin pasti akan disambut dengan pentungan dan bunyi tembakan ketika hal seperti itu terjadi.

Jadi ingat peristiwa Priok. Masjid sebelah rumah di Kelapa Gading BCS. Saat itu, sekitar tahun 80an, beberapa hari terakhir dari speaker masjid itu terdengar kotbah langka. Kotbah beraroma sindiran pada sang penguasa.

Dan benar, tak lama kemudian barisan tentara terlihat menyisiri sawah yang saat itu masih tersisa beberapa petak di sana. Tentara segera mengepung masjid kecil tersebut dan kemudian mengamankannya.

Keesokannya, heboh Priok terjadi. Suara tembakan, entah siapa dan kenapa mereka harus ditembak, tak penting lagi. Menteri penerangan yang akan membuat pernyataan.

Demikian pula peristiwa Juli 96, orang-orang berbadan tegap (karena hanya seperti ini berita koran waktu itu) mengepung, menyerang dan kemudian menghancurkan panggung plus bangunan di Diponegoro 58.

Untuk membuat efek dramatis, entah bagaimana ceritanya, beberapa tempat yang tak terlalu jauh dari peristiwa gropyokan Diponegoro 58 itu, tiba-tiba terbakar. Jakarta membara dalam panas api kebakaran.

Keesokan paginya, berita bahwa para perusuh yang membakar adalah mereka yang kemarin berada di Diponegori 58. Tak ada klarifikasi dibutuhkan karena mereka yang bertugas untuk memberi klarifikasi sudah dugebukin dan bengkak-bengkak dan entah dikurung dimana.

Budiman Sudjatmiko dan PRD nya didapuk menjadi kambing hitam. Budiman dan anak-anak muda pemberani itu dianggap sebagai dalang dibalik orasi sekaligus munculnya api pada banyak gedung dan puluhan kendaraan di Jakarta Pusat.

Itulah gambaran Jakarta saat itu. Itu gambaran ketika Orde Baru terusik, marah dan selalu berakhir dengan cara yang sama. Selalu ada bakar- bakar menyertai.

PDI tak gegabah. Dibawah Megawati, arah justru berbalik. Ketenangannya sebagai seorang perempuan trah Soekarno menuai berkah. PDIP lahir menjadi penerus sah PDI dan kini menjadi partai terbesar negeri ini.

PDIP sebagai aset berharga negara ini kini sedang dirong-rong gurem. PDIP, satu-satunya partai politik pada era reformasi sebagai partai perjuangan, partai yang berjuang dengan mengorbankan darah dan nyawa para anggotanya dalam pendiriannya ditantang dalam benderang, benderanya dibakar dan PKI disematkan padanya.

PDIP memang lahir karena perjuangan, bukan dibentuk karena hasrat seseorang yang ingin mencalonkan menjadi Presiden. Perjuangan itu lahir dan bergelora sebagai jawaban atas tekanan orde baru terhadap pengerdilan demokrasi saat itu.
PDIP membuka pintu reformasi 98. Panjang perjalanan sejarah partai yang satu ini sungguh berbeda dibanding dengan banyak partai yang lain. Halangan, tantangan, bahkan penghancuran dengan kekerasan tersisteminasi pun dialami. Dan kemudian ada "piyek" mau main-main dengannya?
Memancing marah dengan mem PKI kan dan membakar benderanya?
Kaum bigot itu jelas bukan lawan tanding seimbang dan PDIP tak sebodoh itu untuk secara fisik melayaninya meski dengan mudah, markas plus manusia bodoh penghuninya akan rata dengan tanah bila militan partai itu turun membalasnya.
Bukan itu jalan ditempuh. PDIP tak mungkin merendahkan martabatnya dengan mengotori tangannya sendiri menyentuh barang haram dalam rupa keberingasan seperti apa yang telah mereka mulai.
Saat itu, cukup dengan kedipan mata sang Ketum. Pada saatnya, pasti mereka akan terkencing kencing dalam takut.

Dan benar, kelompok itu secara perlahan tersudut pada jurang ketidak pastian. Tak perlu waktu panjang, tak berjarak hingga 1 tahun, salah satu organisasi terbesarnya tumbang dan para pimpinannya meréngék dalam nada memilukan.

Pun dengan peristiwa saat ini. Mereka yang bermimpi ingin membuat kacau PDIP dengan isu Ganjar vs Puan tak akan mendapat apa-apa selain perih. Partai ini adalah partai di mana para tangguh berkumpul.

Bendera kebesaran milik mereka dibakar, tak berhasil memancing amuk. Konsolidasi ke dalam dan percaya pada para pimpinannya justru telah membuat para pembencinya tumbang satu persatu.

Adakah hal yang sama atas isu dibuat hari ini akan mampu merongrong kebesaran partai itu? Sepertinya partai ini justru akan menjadi semakin besar.

Sama ketika pada akhirnya Jokowi dipilih menjadi capres 2014 karena syarat dan ketentuan berlaku terpenuhi pada dirinya dan kemudian bu Mega tak menunjuk dirinya sendiri sebagai capres, pada Ganjar pun Puan Maharani sebagai anak bu Mega tak akan pernah menjadi halangan.

Ini tak terkait trah Soekarno. Ini tentang siapa paling layak dan PDIP punya aturan baku yang tak mungkin dapat diintervensi siapa pun.

Yang penting, syarat dan ketentuan berlaku yang pernah Jokowi lalui, adakah itu telah dan akan sanggup dilalui Ganjar?

Pun pada Ganjar, bukankah hingga hari ini Ganjar tak pernah bilang bahwa dirinya siap dicalonkan?

Di sisi lain, pilpres 2024 masih sangat jauh, masih 3 tahun lagi. Belajar dari pengalaman Jokowi, pencalonan beliau pun baru diumumkan pada 14 Maret 2014. Artinya, pengumuman tersebut baru dilakukan oleh PDIP pada tahun pemilihan

Surat perintah harian itu dibacakan oleh Ketua Bappilu PDI Perjuangan, Puan Maharani, di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Jumat (14/03) siang.

"Mendukung bapak Joko Widodo sebagai calon presiden dari PDI Perjuangan," demikian Puan Maharani menyampaikannya di depan wartawan.

PDIP adalah partai besar. Partai perjuangan, di mana pada dirinya melekat makna dewasa atas banyaknya ujian yang pernah dilaluinya.

Mendorong dan memaksakan Ganjar sambil menghujat PDIP hari ini, sama artinya dengan menjerumuskan Gubernur Jawa Tengah ini pada posisi serba salah terhadap partai yang telah membesarkannya.
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel

TAG TERKAIT :
PDIP Ganjar Ganjar Pranowo Puan maharani Capres 2024 Pilpres 2024 Pemilu 2024 Ganjar Pranowo Vs Puan Maharani PDIP Memanas

Berita Lainnya