News

Bareskrim Bongkar Penipuan Investasi 'Obligasi Dragon', Kerugian Mencapai Rp39 M

Aisyah Isyana - 02/06/2021 23:42

Beritacenter.COM - Bareskrim Polri berhasil mengungkap kasus dugaan penipuan investasi obligasi. Dalam aksi penipuan obligasi yang disebut 'Obligasi Dragon', polisi menangkap 2 tersangka. Penangkapan terhadap keduanya dilakukan polisi pada 2 Mei lalu.

Pengungkapan kasus dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan dan pencucian uang ini dilakukan tim Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri. Adapun kerugian akibat aksi penipuan ini mencapai Rp 39 miliar.

Baca juga : Bareskrim soal Perburuan Jozeph Zhang : Masih Menunggu, Kewenangan Kita Tak Sampai Kesana

"Kita lakukan 2 penangkapan terhadap 2 orang tersangka, yaitu AM dan JM. Kedua orang ini ditangkap di lokasi berbeda. Yang satu ditangkap di Tegal. Kemudian yang satu ditangkap di Cirebon Kota," ujar Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Helmy Santika dalam jumpa pers di Mabes Polri, Rabu (2/6/2021).

"Dari 3 orang korban, kerugian sekitar kurang lebih Rp 3 miliar. Bahkan dari informasi yang ada, korban-korban yang lain ini kemungkinan bisa mencapai sekitar Rp 36 miliar atau Rp 39 miliar," sambungnya.

Sekedar diketahui, obligasi adalah surat utang yang diperjualbelikan. Oleh pelaku JM dan AM, obligasi itu digunakan sebagai alat untuk menipu. JM dan AM diketahui sudah beraksi selama 3 tahun. Tak hanya menangkap keduanya, polisi juga menyita sejumlah mobil dan uang diduga palsu dari para tersangka.

"Jadi ada beberapa kendaraan ini disita di Cirebon, di Tegal. Ada mobil Honda Civic, Camry, Jeep, sepeda motor Kawasaki, Ninja, Honda, mobil Evercross, Hilux, CRV. Nah ini beberapa kendaraan yang bisa kita sita dan di antaranya kita juga menemukan berbagai macam pecahan uang ya, diduga mata uang termasuk obligasi yang dikatakan Obligasi China tadi," terang Helmy.

"Jadi misalkan, uang bon Korea ini ada 9.800 lembar pecahan 5 ribu, kemudian 2.100 lembar pecahan 1 juta euro, dan seterusnya. Jadi ada banyak sekali kemudian Obligasi China-nya itu sendiri ada 100 lembar senilai atau pecahan Rp 1 triliun," tambahnya.

Saat ini, polisi masih melakukan pengembangan terhadap kasus penipuan ini, guna mengungkap jaringan pelaku lainnya. Polisi juga tengah memburu pelaku lainnya yang membuat uang diduga palsu tersebut.

Helmy menduga jika obligasi yang digunakan oleh pelaku penipuan Obligasi Dragon ini adalah palsu. Helmy juga mengungkap modus yang digunakan para tersangka guna meyakinkan nasabah Obligasi Dragon.

"Terkait dengan obligasinya sendiri, ini mereka menyebutnya sebagai obligasi, surat utang, tapi kebenaran dari obligasi ini masih kita ragukan. Ini yang kita duga sebagai sesuatu yang palsu, makanya pasal yang kita gunakan adalah pasal penipuan sebagai pasal primer. Kenapa? Karena ini adalah bagian dari keadaan palsu. Kemudian menyampaikan rangkaian kata-kata bohong tipu muslihat dan sebagainya sehingga para korban tergerak menyerahkan uangnya," tutup Helmy.

Guna mempertanggung jawabkan perbuatannya, para tersangka dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 372 KUHP, Pasal 378 KUHP, Pasal 345 UU No 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, Pasal 36 dan Pasal 37 UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

Berita Lainnya