Opini

Menegakkan Supremasi Pancasila

Indah Pratiwi - 10/06/2021 16:59
FOKUS : Pancasila

Hari Senin lalu (31/05/21), Buya Syafii Maarif menulis opini di Kompas dengan judul Lumpuhnya Pancasila. Dalam penggalan tulisannya, ia menyebut Pancasila dalam tataran filosofi dan teori merupakan temuan terbaik para pendiri bangsa. Yang mana, dalam sejarahnya dari segi konstitusional Pancasila sudah sangat kuat dan aman. Namun, jika dilihat dari segi pengamalan nilai-nilai luhurnya dalam politik negara dan strategi pembangunan nasional, maka Pancasila seperti dibiarkan lumpuh tak berdaya.

Faktanya, hal itu memang benar. Maraknya korupsi dan beberapa kasus lainnya membutikan bahwa Pancasila belum terlaksana secara maksimal. Bahkan, di tengah pandemi seperti saat ini, penangannya tercederai oleh korupsi dan berbagai kasus. Sebut saja korupsi dana bantun sosial, penjualan vaksin ilegal, alat tes rapid palsu, hingga pemalsuan dokumen kesehatan (Kompas, 31/05/21). Dengan kata lain, Pancasila tidak kuasa dan bertenaga menghadapi korupsi dan kasus-kasus besar yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Belum lagi gempuran radikalisme, ekstremisme, dan ideologi-ideologi transnasional yang anti-Pancasila, kian menjadikan posisi Pancasila melemah di masyarakat. Di satu sisi, masyarakat percaya bahwa Pancasila merupakan suatu kerangka konsepsi paling ideal bagi bangsa ini untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Dalam bahasa Yudi Latif, Pancasila merupakan ideologi tahan banting yang kian relevan dengan perkembangan global kekinian (Media Indonesia, 31/05/21). Namun, di sisi lain masyarakat pesimis terhadap implementasi nilai-nilai Pancasila yang dirasa belum dilaksanakan secara menyeluruh. Di sinilah ideologi-ideologi radikal-ekstremis menemukan ruang dan momentumnya untuk mengebiri posisi Pancasila.

Karena itu, perlu usaha serius untuk menegakkan kembali supremasi Pancasila sebagai satu-satunya ideologi bangsa dan negara. Persoalan korupsi, radikalisme, ekstremisme, dan sejumlah kasus-kasus lainnya, tidak akan pernah sirna jika supremasi Pancasila ini lemah. Pancasila harus dikembalikan ke dalam posisinya sebagai sumber ideal norma dan pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara bagi masyarakat luas. Setidaknya, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, menguatkan materi pendidikan Pancasila di sekolah dan perguruan tinggi. Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila terhadap anak bangsa. Bisa dibilang, pendidikan menjadi satu-satunya instrumen yang dimiliki negara yang paling efektif menyemai—yang dalam istilah Frans Magnis Suseno disebut lima prinsip etika bangsa, yaitu Pancasila.

Persoalan radikalisme-ekstremisme misalnya, telah menyasar kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai target utama. Survei-survei yang ada membuktikan bahwa banyak kalangan pelajar dan mahasiswa yang terpapar virus radikalisme, ekstremisme, intoleransi, dan yang paling parah adalah mereka menjadi anti-Pancasila dan NKRI. Sebuah malapetaka besar yang akan menjadi bom waktu bagi bangsa ini bila hal itu terus dibiarkan tumbuh subur tanpa kendali.

Namun, jika pendidikan Pancasila di sekolah dan perguruan tinggi dapat disampaikan dengan baik, maka hal itu akan mengikis tumbuh suburnya radikalisme dan ekstremisme serta memungkin kita untuk lebih saling menerima, menghormati, dan menghargai perbedaan antarsesama anak bangsa. Lebih dari itu, penguatan materi Pancasila di sekolah dan perguruan tinggi juga bertujuan menjadikan warga masyarakat yang pancasilais sejak dini. Karenanya, penguatan materi pendidikan Pancasila menjadi keniscayaan bagi kita.

Kedua, menjadikan Pancasila sebagai kesadaran kolektif yang harus terus dipupuk dan dijaga dalam berbangsa dan bernegara. Kita ketahui, bahwa maraknya praktik korupsi di atas, diakui atau tidak, disebabkan oleh pudarnya kesadaran kolektif akan Pancasila sebagai pedoman hidup bersama. Pasalnya, praktik korupsi tersebut tidak hanya merugikan negara secara sepihak, tetapi juga menyengsarakan rakyat secara keseluruhan. Jika bernegara tidak didasari pada kesadaran kolektif tersebut, maka Pancasila sebagai dasar negara tidak akan pernah tegak di bumi pertiwi.

Maka dari itu, kesadaran kolektif tersebut mutlak bagi kita. Salah satu cara menumbuhkan kesadaran kolektif tersebut adalah menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila tersebut ke dalam diri setiap individu. Tidak hanya untuk golongan tertentu, melainkan seluruh warga masyarakat di Tanah Air, lebih-lebih para pejabat dan penyelenggara negara. Pancasila harus terinternalisasi ke dalam setiap diri individu sebagai dasar etika berbangsa dan bernegara serta kemanusiaan. Dengan demikian, praktik-praktik korupsi yang sangat mencederai sisi kemanusiaan kita dapat dihindarkan. Dan dengan begitu, supremasi Pancasila menemukan tempatnya untuk kembali tegak berdiri.

Ketiga, pemerintah harus mengimplementasikan Pancasila secara menyeluruh dan nyata. Sebagaimana kita ketahui di atas, bahwa Pancasila secara filosofi dan teori merupakan temuan terbaik founding fathers kita, bahkan ideologi yang tahan banting sepanjang sejarah bangsa ini. Namun, pada tataran implementasi, Pancasila seperti lumpuh tak berdaya dan bertenaga. Bisa dikatakan, Pancasila hanya sebatas dagangan politik rezim yang memerintah. Tanpa pengamalan nilai-nilai Pancasila secara nyata, mustahil supremasi Pancasila dapat ditegakkan di negeri ini.

Dalam hal ini, pemerintah merupakan aktor utama dalam pembangunan nasional kita. Pemerintahlah yang memiliki segala kewenangan dan akses tunggal untuk mendistribusikan keadilan, seperti yang diamanahkan Pancasila. Atau dalam bahasa lain, pemerintahlah kepanjangan tangan negara yang diberi tugas untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah sejatinya cita-cita kemerdekaan Indonesia yang tertuang dalam sila ke-5 Pancasila. Karenanya, menjadi wajib bagi pemerintah untuk berbenah diri dalam rangka mengimplementasikan Pancasila secara menyeluruh dan nyata.

Saya berharap agar Pancasila tidak lagi hanya sekadar menjadi mantra yang diucapkan berulang-ulang setiap kali upacara bendera. Pancasila tidak lagi hanya dijadikan tameng kekuasaan bagi rezim seperti sebelum-sebelumnya. Pancasila tidak hanya menjadi pajangan yang tersimpan mewah dalam etalase dokumen kenegaraan setiap tahunnya. Namun, Pancasila adalah jimat yang harus dirawat, didudukkan, dan dilaksanakan dalam tindakan secara nyata.

Saya yakin, bila tiga langkah tersebut dilaksanakan, supremasi Pancasila akan menemukan ruang dan momentumnya kembali untuk berdiri tegak sebagai saka guru bangsa dan negara tercinta ini. Selamat hari lahir Pancasila 1 Juni.

TAG TERKAIT :
Pancasila Nilai-nilai Pancasila

Berita Lainnya

BLBI.?

Opini 29/07/2021 13:22