Opini

BANGSA YANG SULIT BERSAPA DALAM RUKUN

Indah Pratiwi - 10/06/2021 19:30

Stunting yakni kurangnya asupan gizi pada anak akan mengakibatkan banyak hal tak baik. Pertumbuhan fisik terganggu, demikian juga kemampuan otak anak tersebut. Bila dalam satu negara angka stunting tinggi, masa depan negara tersebut menjadi taruhan.

Indonesia telah berumur 75 tahun. Dibanding Singapore dan Malaysia yang lebih muda, kita justru tertinggal bila perkapita adalah apa yang menjadi acuannya.

Memakai tolok ukur yang sama, 1 orang Singapore dapat dikatakan mampu menghasilkan setara dengan hampir 14 orang kita. Pendapatan satu orang Malaysia, kita juga harus mengeroyoknya dengan 4 orang.

Stunting kita sebagai bangsa terkait erat dengan faktor sengaja atau by design. Bukan karena kita miskin dan maka tak mampu memberi gizi baik pada takyatnya, kita sengaja dibuat dalam kondisi stunting agar kita tak menjadi ancaman.

Tak menjadi besar dan pintar dengan target supaya mudah diatur. Mudah diarahkan sesuai kehendak si pemegang remote control.

Kita masih dan akan terus dikendalikan "invisible hands". Siapa mereka, bukan hal sulit membuktikannya.

Beberapa saat yang lalu ketika negara kita ingin memperkuat alutsista yang sudah menua, kita ingin beli pesawat F35 namun AS menolak. Ini bukan jenis pesawat kaleng-kaleng maka bukan pula tepat untuk Indonesia. Kira-kira begitulah cara AS sebagai pemilik dagangan itu berbicara.

Kelas seperti apa yang pantas bagi Indonesia sudah ditakar dan ditentukan. Maka pesawat F16 ditawarkan. Pesawat ketinggalan jaman yang dapat dikatakan sudah tak banyak diminati negara mana pun.

Berbeda ketika cara AS melihat Australia dan Singapore, kedua negara ini adalah sekutunya dan dianggap memiliki kasta lebih tinggi. F35 pantas mereka miliki. Mereka diijinkan membeli unit tersebut.

Ketika kita tak tertarik dengan F16 dan melirik dagangan Rusia yakni SU35, AS marah dan ancam kita dengan Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA). Atas alasan CAATSA ini, secara hukum AS bisa melakukan embargo atau sanksi atau hukuman secara sepihak.

Bisa dibilang CAATSA adalah sarana hukum yang dapat digunakan pemerintah AS untuk menekan negara lain. Bentuknya adalah memberikan sanksi seperti melarang transaksi finansial, menghentikan bantuan keuangan, hingga pencekalan visa bagi individu terkait.

Dalam ngedumelnya ketika kita tak melirik F16, AS memperbaiki tawarannya dengan pesawat yang kelasnya lebih baik yakni F15 dan F18 namun buru-buru F18 ditarik kembali karena masih terlalu berlebihan kalau cuma untuk Indonesia.

"Kenapa nurut? Kan duit-duit kita sendiri, suka-suka kita dong mo beli dari mana?"

Dunia sebagai sebuah sistem, AS adalah pengendali. Sejak kita merdeka, sistem itu sudah teraplikasi dalam keseharian kita. Sama seperti kita memiliki 10 akses dari rumah menuju kantor, tiba-tiba 8 yang lain ditutup, kita pasti tak siap.

Dalam sistem ekonomi dan keuangan, jaring AS telah tumbuh demikian kuat dan kita tak mungkin lepas darinya. Iran dan Korut dapat kita ambil sebagai contoh atas kasus itu. Kita tak mungkin siap menjadi seperti kedua negara tersebut karena embargo AS.

Panjang ceritanya, dan pasti akan berakhir dengan kekacauan tak berkesudahan pada negara ini bila masih tetap ngeyel.

Ingat peristiwa G30 S PKI? Dari sisi berbeda, kita akan melihat bahwa kejadian tersebut juga terkait dengan hal-hal seperti itu.

Melihat kejadian tahun 65 hanya dari satu sisi dan itu hanya tentang peristiwa pemberontakan semata, akan membuat kita miskin literasi. Kita tak akan menjadi dewasa dan akan selalu mudah dibuat saling bentur sesama anak bangsa. Dan itu adalah apa yang kita dapat hari ini.

Ketika Belanda tak kunjung menyerahkan Papua, Soekarno marah. Ide mengambil paksa pun digaungkan. Menjadi masalah adalah kita tak memiliki alutsista memadai bagi pengambilan paksa tersebut.

Meski saat itu kita sudah menetapkan bagaimana posisi kita atas dua blok barat dan timur yakni kita netral, secara hati kita tetap lebih condong ke barat. Bukan hal aneh karena cara kebanyakan dari kita berpikir adalah cara pendidikan Belanda atau barat. Kita lebih fasih berpikir dengan pola barat.

Maka, pilihan pertama ketika ingin membeli alutsista tersebut kita arahkan pada barat. Pada AS kita utarakan niat kita memperkuat alutsista tersebut.

Kunjungan selama 17 hari oleh Presiden Sukarno dilakukan pada 16 Mei hingga 3 Juni 1956. Pada kesempatan itu jugalah Presiden Sukarno membicarakan keinginannya untuk mendapatkan dukungan dalam merebut Irian Barat. Bantuan di bidang ekonomi sekaligus militer dari Amerika Serikat diharapkan oleh Presiden.

Sikap kurang antusias ditunjukkan oleh Presiden Eishenhower. Kunjungan yang dilakukan Presiden Sukarno tidak mendapatkan hasil. AS menolak permintaan tersebut.

Kita tak suka, apalagi ketika dikemudian hari kita tahu bahwa AS terindikasi memasok senjata bagi para pemberontak PRRI di Sumatera.

Soviet kita pilih. Sambutan luar biasa ditampakkan oleh negara itu. Dua bulan setelah kunjungan kenegaraan Presiden Soekarno ke Amerika Serikat gagal, Presiden melakukan kunjungan ke Uni Soviet pada 26 Agustus-12 September 1956.

Kunjungan Presiden Sukarno disambut meriah oleh 250.000 penduduk Moskow. Di setiap sudut kota tampak terpasang spanduk ucapan selamat datang dan sanjungan kepada Presiden Sukarno.

Sebagai balasan Nikita Khurchev pun pada tahun1960 menyempatkan diri berkunjung ke Indonesia.

Pembelian dan negosiasi pengadaan alutsista tersebut dipimpin oleh Jendral Nasution, (seorang yang sangat beraliran barat) dan berhasil.

Dan penandatangan pembelian senjata itu pun akhirnya ditandatangani di Moskow pada 6 Januari 1961. Indonesia membeli Meriam, kapal perang, kapal selam, kapal anti kapal selam, pesawat tempur, pesawat pemburu jet, pesawat angkut, kendaraan lapis baja, perlengkapan militer dan perlengkapan-perlengkapan lainnya.

Tak butuh waktu lama, pada akhir tahun 1961 alutsista itu berdatangan. Kekuatan APRI terutama AURI dan ALRI meningkat dengan pesat. Indonesia serta merta menjadi satu dari 4 negara di dunia yang memiliki pesawat pembom strategis yakni setelah AS, Inggris dan Soviet.

Atas hadirnya pesawat pembom ini, Australia langsung mingkem dan tak lagi tampak benderang mendukung Belanda di Papua.

Demikian pula dengan Belanda. Kaapal induk Belanda kabarnya diminta buru-buru hengkang dari Papua oleh AS karena hadirnya KRI Irian, kapal perang kelas Sverdlov yakni kapal kelas Cruiser paling berbahaya di dunia.

Kapal ini sebanding kekuatannya dengan kapal-kapal tempur terbaik Amerika, USS Iowa, USS Wisconsin, dan USS Missouri dari kelas Battleship terbesar dan tercepat di dunia.

Dengan bobot raksasa 16.640 ton dan daya tampung awak sebanyak 1270 orang termasuk 60 perwira, ini adalah kapal super. Selain itu, ini juga kapal perang yang tidak pernah dijual pada bangsa lain manapun. Ini adalah kapal penggentar, kapal pembuat bulu kuduk berdiri meski baru namanya saja yang disebut.

Maka bukan hal aneh bila pada akhirnya Belanda tak berkutik. Boleh dibilang hanya terjadi satu insiden yang mengakibatkan tenggelamnya kapal boat yang menewaskan Laksama Yos Sudarso pada peristiwa itu. Sisanya, Belanda sudah harus hengkang daripada menghadapi kehancuran total.

Atas dukungan alutsista senilai USD 2,5 miliar dalam rupa Kapal Perang tipe Sverdlov, 12 kapal selam kelas Whiskey, 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed, maupun 30 unit pesawat MiG-15 hingga pesawat pembom strategis itu membuat Indonesia tiba-tiba menjelma menjadi sosok negara menggentarkan dalam bidang militer.

Satu sikap dan satu tekad anak-anak bangsa negeri ini saat itu terbukti mampu mengusir Belanda dari tanah Papua. Namun cerita berbeda terjadi setahun kemudian.

Tahun 1963 Inggris dengan ide Negara Federasi Malaysia di mana itu melibatkan negara bagian meliputi Brunei, Singapura, Serawak dan Sabah atau Kalimantan Utara memancing marah Soekarno.

Malaysia yang terganggu dengan kuatnya pengaruh komunis, bersatu dalam federasi di mana Inggris berada di belakangnya.

Di sisi lain, federasi semacam itu oleh Soekarno dinilai sebagai cara-cara Kolonialisme ingin kembali. Marah dan sikap berani Soekarno tentu tak luput dari karena kita kuat pula secara militer. Indonesia berani berhadapan dalam langsung dengan Inggris.

Namun, ganyang Malaysia tak mendapat respon positif atau dukungan total militer Indonesia.

"Apa hubungannya dengan peristiwa 65?"

Pemilu tahun 1955 menempatkan PKI menjadi salah satu partai pemenang di bawah PNI, Masyumi dan NU.

Pada 1957, Presiden Soekarno mulai memperkenalkan konsep Demokrasi Terpimpin. Hal ini juga berdampak pada meningkatnya pengaruh dan kekuasaan militer.

Dalam pengaturan ini, panglima daerah mampu mencampuri urusan sipil seperti ekonomi dan masalah administrasi.

Atas perintah dari Soekarno sendiri, tentara juga mulai berpartisipasi dalam politik, mengisi posisi yang berkisar dari menteri kabinet hingga gubernur provinsi dan bahkan anggota DPR.

Pada bulan Desember 1957, tentara mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda yang baru dinasionalisasi. Selain meningkatkan peran tentara, langkah ini juga dirancang untuk menghentikan pengaruh PKI yang semakin kuat.

Ketika PKI terafiliasi dengan Soviet, mustahilkah militer menjadi pintu masuk pihak barat?

Ketika Soebandrio yang sangat kuat beraliran kiri menjabat sebagai menteri luar negeri dan aktif dalam dukungan pada Soekarno dalam peristiwa ganyang Malaysia, masuk akalkah militer mengambil jarak?

Dan bukankah Inggris dalam forum Negara Federasi Malaysia adalah juga tentang perlawanan negara-negara bagian itu pada Komunis?

Di sana, dalam sejarah ganyang Malaysia terlihat tumpang tindih kepentingan. Ada unsur Soekarno dengan imperialisme yang ingin ditolak, ada persaingan tentara dan PKI, ada kepentingan yang sama antara Inggris dan tentara terhadap satu musuh bersama yakni Komunis dan terakhir berbahayanya Indonesia bila Soekarno masih memegang kendali negara yang memiliki kekuatan militer luar biasa besar itu dan toleran pada aliran kiri.

Maka menjadi masuk akal ganyang Malaysianya Soekarno tak pernah mendapat dukungan total militer. Dan sejak saat itu, yakni tahun 1964 sedikit demi sedikit kekuasaan Soekarno tergerus.

Peristiwa 65 dan naiknya Soeharto membuat PKI bubar. Itu tak lepas dari dukungan barat. Dan sejak saat itu juga larangan terhadap alutsista berasal dari Soviet mulai kita dengar.

"Bukankah gara-gara Soekarno belanja alutsista itu negara kita bangkrut?"

Bila cara kita melihat dari sisi sejarah setelah Soeharto tampil, pendapat itu jelas adalah benar. Kita negara yang masih miskin tapi belanja alat perang secara gila gilaan. Itu salah satu penyebab negara kita menjadi bangkrut.

Namun ketika cara kita berhitung adalah Papua berhasil direbut dengan biaya US$ 2.5, tentu itu harga yang murah. Apalagi eksistensi kita sebagai negara langsung naik.

Namun sejarah sudah disepakati. Soekarno dianggap gagal. Paling tidak, itulah apa yang kita pelajari di sekolah-sekolah.

Benarkah demikian? Bila yang menjadi ukuran adalah fakta, sejarah mencatat dengan jelas. AS adalah pihak paling diuntungkan. Apa buktinya?

Untuk mendapatkan kembali Papua sesuai perintah Konferensi Meja Bundar dimana AS adalah salah satu pihak dan kita berniat membeli senjata dari mereka, langsung ditolak.

Ketika kita beralih pandangan dan berhutang peralatan militer pada Soviet, mereka pun kembali marah.

Anehnya, tak lama setelah Papua kita rebut dengan menggunakan hutang kita dari Soviet, AS datang sebagai pahlawan. Peristiwa 65 menjadi pintu masuknya. Gunung emas Freeport yang diperuntukkan baginya adalah buktinya.

Dengan kata lain, kita berhutang banyak hanya demi AS untuk bisa menggali emas di Papua bukan?

Lebih gila lagi, alutsista yang pernah kita beli dengan hutang dan darah dan berakhir pada untung AS, pun itu diminta oleh mereka untuk dimusnahkan dan kita nurut bukan?

Kita jatuh bukan karena kalah perang melawan Inggris dalam rencana mereka mendirikan Negara Federasi Malaysia namun justru kita saling pukul karena pintar mereka.

Kita saling bunuh pada sesama anak bangsa, alutsista hebat kita dibuang, dan kemudian memberi karpet merah pada AS dari hutang dan darah anak bangsa atas gunung emas di Papua yang baru saja kita rebut dari Belanda.

"Trus apa hubungan dengan pembelian pesawat F35 itu?"

Stunting pada tubuh negara kita akan terus terjadi bila bukan kita sendiri yang berusaha. Membeli dari Rusia hanya akan memberi alasan bagi AS menetapkan embargo, dan membeli langsung dari AS juga hanya mendapat barang kelas 2 atau bahkan 3 dan keduanya adalah sama-sama gizi buruk.

Bahwa saat ini kebutuhan akan hal tersebut sangat mendesak, kabar terakhir F15EX dan Rafalle dari Perancis adalah solusi jangka pendek. Kita juga masih punya kesempatan belajar dengan bekerja sama dalam membuat pesawat dengan kelas yang sama bersama Korea dalam tempat kita menaruh apa itu jangka panjang. Itu tergantung kemana sebenarnya kita ingin.

Bukan tentang hebat alutsista ingin kita beli, ini tentang kemandirian kita sebagai bangsa yang tak pernah terwujud. Ini juga tentang banyak pihak yang tak ingin kita menjadi bangsa besar.

Lebih parah lagi, ini adalah sejarah tentang senang kita bersama demi sekedar ingin saling cakar pada saudara sendiri.

Usia 75 tahun dan kita masih tak mengerti banyak tentang teknologi adalah bukti stunting kita sebagai bangsa. Tak ada kata terlambat, masihkah itu relevan?

SDA berlimpah kita adalah alasan kita yakin bahwa bangsa ini memiliki potensi sukses. Bagaimana kualitas SDM kita, ini PR kita bersama. Ini terkait dengan politik pecah belah dan kita bangga dengan hal itu.

Musuh kita adalah diri kita sendiri. Pun musuh bangsa ini adalah kita sebagai kolektif sebagai anak bangsa itu sendiri. Kita adalah bangsa yang sulit saling bersapa dalam rukun.
Masihkah kita akan?
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel

TAG TERKAIT :
Indonesia Bersatulah Indonesia

Berita Lainnya

BLBI.?

Opini 29/07/2021 13:22