Opini

Buruk Sangka Penabur Hoax

Indah Pratiwi - 15/06/2021 15:36
Oleh : Supriyanto Martosuwito

Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya agar selalu berbaik sangka (‘husnudzon’) dan melarang berburuk sangka (‘su’udzon’). Selalu berbaik sangka kepada Allah SWT juga kepada makhluk ciptaanNya. Akan tetapi, pada kenyataannya kini orang yang mengaku Islam, mengatasnamakan Islam, bahkan yang bergelar ustadz – paling gencar melancarkan tudingan dan buruk sangka. Mimbar di masjid dan acara agama digunakan untuk melontarkan ujaran kebencian kepada kepala negara, kepada pemerintah dan kepada mereka yang berbeda paham.

Dan ketika buruk sangka dan tudingannya tidak terbukti – mereka hanya diam atau berkelit tanpa rasa malu. Dalam kasus paling aktual adalah gagalnya keberangkatan jemaah haji kita tahun ini. Pelaku buruk sangka adalah politisi dan anggota DPR RI Fadli Zon, penceramah kondang UAS, politisi PKS Hidayat Nur Wahid, dan mantan menteri Rizal Ramli, dan provokator FPI, yang dekat dengan Cendana, Haikal Hasan. Juga filsuf jadi jadian Rocky Gerung. Mereka bukan orang bodoh dan awam. Masing masingnya lulusan universitas dan pernah menyandang jabatan. Sebagiannya memiliki akses ke sumber informasi untuk meluruskan kekeliruan berita.

Kepandaian yang didapat dari universitas – sebagiannya lulusan universitas kondang luar negeri – tidak ada artinya karena mereka memiliki karakter negatif, penuh muslihat dan menggunakannya untuk menyebarkan buruk sangka, pembenci dan intoleran. Sebutan terbarunya, untuk mereka itu : “botol limun” – bodoh – tolol – licik – munafik. “Botol” untuk pengikutnya, “Limun” untuk penyebar hoaxnya. Amin Rais bergelar profesor doktor, pernah kuliah di Amerika Serikat, tetapi pernyataan-pernyataannya beberapa tahun ini cenderung dangkal dan kekanak kanakan. Itu salahsatu contohnya.

Kepiawaian menyebarkan ajaran agama yang dilandasi buruk sangka, tudingan rudingan tanpa dasar dan “tabayun” (cek – ricek), memanfaatkan masyarakat yang pikirannya mudah terombang-ambing – menghasilkan massa frustrasi yang mudah diajak anarkis. Jauh dari ajaran agama yang seharusnya membawa damai. Sejuk.

Ajaran agama dijadikan alat untuk menghimpun massa, menyebarkan opini sesat, prasangka jahat dan membenci golongan lain yang berbeda. Khususnya yang beda iman dan aliran politik. Agama dijadikan alat untuk memborong kebenaran. Penjual kavling surga neraka, haram – halal – cap “kopar kapir” yang beda golongan. TETAPI sebenarnya sudah lama saya menduga bahwa buruk sangka itu bukan semata mata karena tidak tahu dan kurang informasi. Tidak ‘Cek & RiCek’. Melainkan ada unsur kesengajaan untuk “dis-informasi” yaitu modus pengelabuan untuk mengacaukan suasana. Gaya agitasi mereka jelas dan terpola : sebarkan kebohongan dan ‘misleading’ berita, sebanyak banyaknya – provokasi dengan intink rendah massa mengambang – jika tidak terbukti, minta maaf.

Tapi berikutnya mengulangi lagi. Menciptakan ‘framing’ dan ‘hoax’ yang baru Sebab, mereka yang sebelumnya menerima kebohongan akan merekam terus dalam ingatan dan belum tentu mendapatkan pelurusan informasi – duduk perkara yang sesungguhnya. Demikian dalil agitasi Nazi yang dipakai politisi oposisi kita saat ini. Hapalan tudingan busuk, yang terus diulang ulang, kemudian dipercayai oleh pengikut golongan “botol” : Indonesia dikuasai rezim komunis – umat Islam terpinggirkan – ulama dikriminalisasi – jutaan TKA Cina berdatangan – dana haji ditilep pemerintah, dan seterusnya – itulah “disinformasi” yang disebarkan.

Dan sudah meresap di sebagian masyarakat yang minim literasi dan mudah diprovokasi.Kesengajaan menyebarkan informasi palsu atau “disinformasi” – yang dalam bahasa Rusia disebut “dezinformatsiya” – merupakan taktik intelejen untuk mengacaukan lawan – yang di Indonesia untuk merusak kredibelitilas pemerintah. Masalah bertambah karena komunikasi dari pihak pemerintah juga buruk.

Kalah cepat dari penyebar hoaks yang giat di media sosial. Penjelasan versi pemerintah selalu telat dan sering tidak jelas. Bayangkan berapa lama negara dibiarkan dituding nilep uang haji dan tak becus mengurus haji – sampai kemudian ada klarifikasi dari pemerintah Arab sendiri. Posisi oposan menyerang terus sedangkan pemerintah bertahan terus. Tak heran jika masyarakat lebih percaya hoax dari oposan, dan orang orang stress, daripada penjelasan versi pemerintah.

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

TAG TERKAIT :
Amien Rais Amien Rais Tukang Hoaks Tukang Hoaks Tukang Nyinyir Amien Rais Tukang Nyinyir Amien Rais Tukang Hoax

Berita Lainnya

BLBI.?

Opini 29/07/2021 13:22