Opini

Hati-hati Menitipkan Donasi untuk Palestina

Indah Pratiwi - 15/06/2021 17:00

Penderitaan yang dialami bangsa Palestina telah sejak lama menyita perhatian publik dunia, tak terkecuali warga negeri kita. Gelombang atensi disampaikan dalam berbagai bentuk, seperti gelaran aksi solidaritas untuk mengecam pihak Israel, beragam webinar membincang masa depan Palestina, dan yang paling menjamur adalah penggalangan donasi untuk rakyat Palestina.

Kehati-hatian dalam berderma adalah hal yang tak bisa ditawar karena maraknya penyalur tidak bertanggung jawab. Bukan tidak mungkin uang tersebut mengalir ke kantong pribadi, kelompok, atau bahkan ke jaringan teroris dan kelompok radikal. Oleh karena itu, dalam memilih lembaga donasi kita harus selektif dan memastikannya sebagai penyalur yang valid serta terpercaya, agar niat baik beramal tidak malah menjadi bumerang bagi pihak yang hendak kita berdayakan.

Berkaca dari kasus Suriah sebelumnya, ada dari donasi sosial yang dikumpulkan tidak tersampaikan ke masyarakat terdampak dan malah menjadi sumber penghidupan bagi milisi teror di Suriah. Pada umumnya donasi digalang melalui media sosial, seperti Facebook maupun Instagram dengan mencantumkan rekening dan nama lembaga tertentu.

Kecenderungan sasaran jaringan teroris adalah captivate audience, yakni orang yang sering menghabiskan waktu di ruang maya. Sebab memang hampir semua orang kini tak lepas dari dunia tersebut. Selain itu, ada juga pengumpulan dana yang dilakukan secara langsung dengan turun ke jalan. Dan modus operandi yang tak kalah marak adalah penempatan kotak amal di toko-toko ataupun minimarket.

Dalam kasus Suriah, pernah ditemukan kardus-kardus sumbangan berlogo lembaga amal Indonesia Humanitarian Relief (IHR) yang berada di markas pemberontak Jaish al-Islam (milisi teror) di kawasan Aleppo Timur yang diliput oleh EuroNews. Lebih dari itu, ternyata masih banyak lembaga filantropi Indonesia yang terindikasi memiliki afiliasi dengan lembaga pro-kelompok teror. Melansir dari www.indonesiamedia.com, dalam tulisan berjudul Melacak Aliran Dana untuk Suriah dari 10 Lembaga Amal Indonesia, menunjukkan setidaknya ada 10 lembaga yang terhubung dan bekerjasama dengan LSM pro-teroris.

Belum lama ini, laporan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memperlihatkan fakta mengejutkan. Di mana pada Januari 2021 PPATK menemukan adanya pergerakan dana mencurigakan dalam jumlah besar dari dalam negeri, yang diduga kuat untuk pembiayaan terorisme di luar negeri.

Pendanaan memang menjadi urat nadi dalam menjalankan aktivisme teror. Uang yang terkumpul akan dipakai untuk melatih teroris baru, dana operasional kelompok teror, mencari dukungan publik dengan propaganda media, sebagai gaji para milisi, serta untuk membeli persenjataan. Maka dari itu, memutus mata rantai keuangan mereka adalah hal yang amat penting dan mendesak untuk dilakukan serta harus menjadi kesadaran bersama.

Sejauh ini pola penjaringan donasi hampir selalu sama. Oknum-oknum tak bertanggung jawab itu kerap menjual tragedi kemanusiaan di daerah konflik seperti Suriah dan Palestina. Mereka menampilkannya melalui demonstrasi visual memilukan yang dibalut narasi emosional. Dengan bermodal gambar warga sipil berlumuran darah atau mayat yang terkapar di bawah reruntuhan bangunan. Mereka mencoba merebut simpati publik agar tergerak untuk menyumbang uang. Padahal, gambar yang dilampirkan acapkali bukan foto dari tragedi terkait, tapi hasil mengunduh secara random dari internet. Tak lupa, isu perang antaragama atau kelompok turut diselipkan untuk membentuk efek psikologis publik yang mendalam.

Dalam buku Salju di Aleppo, Dina Sulaeman, seorang pakar geopolitik Timur Tengah mengumpulkan sejumlah hoaks foto yang beredar di internet. Sebagai contoh, dalam temuan Dina, banyak foto yang menampilkan korban kekerasan dan diklaim sebagai korban penindasan pemerintah Suriah, diimbuhi dengan ajakan berdonasi. Padahal foto itu adalah konflik di lain tempat dan waktu yang jauh berbeda, tapi kemudian oleh oknum pro-milisi teror diberi label sebagai korban gempuran pemerintah Suriah. Fakta ini menunjukkan adanya penggiringan opini dan pemanfaatan simpati publik untuk meraup keuntungan finansial.

Masyarakat jangan sembarangan menyumbang donasi ke lembaga yang mengaku akan menyalurkannya kepada korban krisis atau konflik. Terlebih dahulu teliti kredibilitas, rekam jejak, reputasi, dan prosedur penyalurannya. Pastikan lembaga itu transparan, menyalurkannya secara legal, dan tidak terafiliasi dengan kelompok teror baik di dalam maupun luar negeri.

Sebaiknya pilih lembaga pengumpul donasi yang bermitra dengan Kedutaan Besar, karena jelas merupakan otoritas resmi yang akan menjadi jembatan bagi donasi untuk masyarakat terdampak konflik. Dalam konteks ini, pilihlah lembaga yang bekerjasama dengan Kedubes Palestina dan KBRI. Sementara itu, pemerintah juga harus lebih aktif mengawasi lembaga-lembaga pengumpul dana, apalagi jika sumbangan ditujukan ke daerah rawan konflik terkait terorisme. Semata-mata agar bantuan itu tak jatuh ke tangan yang salah, seperti kelompok teroris.

Terorisme adalah kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Di mana uang adalah pelumas aksi jahat tersebut. Jangan sampai semangat beramal dan niat mulia membantu korban berujung pada penguatan kelompok teror itu sendiri. Untuk itu, kita harus waspada dan berhati-hati betul dalam menitipkan rupiah ke lembaga donasi. Sikap kritis dan jeli dalam mengelola empati saat dihadapkan dengan tragedi kemanusiaan adalah hal yang harus dilatih. Karena pihak oportunis yang akan memanfaatkan penderitaan serta rasa peduli masyarakat sangat mungkin ada, atau barangkali akan selalu ada. Wallahu a’lam. []

TAG TERKAIT :
Konflik Palestina Donasi Untuk Palestina

Berita Lainnya

BLBI.?

Opini 29/07/2021 13:22