Opini

DUH NEGARAKU...

Indah Pratiwi - 16/06/2021 19:00

Peluru yang mereka tembakkan memang tak membuat kita luka dan berdarah maka tak ada rasa sakit spontan dapat kita rasakan. Tak ada warning bahwa tubuh kita melemah. Itulah satu dari target perang asimetris. Kita dibuat rusak dari dalam secara perlahan dan kita tidak tahu.

Ketika kita sudah memberi ruang pada perdebatan tentang para pembaca dan penghafal kitab suci mendapat prioritas masuk dan bahkan mendapat beasiswa pada banyak perguruan tinggi, sejatinya kita memang sudah sakit. Kita sudah toleran pada hal tidak masuk akal.

"Kenapa?"

Dalih telah mereka sisipkan pada ruang bawah sadar kita dan dari sanalah segala hal tak logis ini bermula. Secara perlahan dalih itu memiliki nilai layak menjadi pertimbangan.

Dalih dalam rupa : dia yang hapal kitab adalah dia yang beragama dengan baik. Dia yang beragama, pasti memiliki akhlak yang baik pula. Dan dia yang berakhlak adalah tempat di mana bangsa ini harus bertumpu padanya dan maka dia yang hapal kitab harus mendapat prioritas untuk mendapatkan pendidikan di universitas-universitas top di negara ini.

Kurang lebih itulah premis yang mereka bangun. Dan dari premis itu pula pada akhirnya kita memberi ruang debat yang sebenarnya tak layak apalagi memiliki mutu akademis.

Maka ketika dari tahun ke tahun peringkat Universitas di negeri ini selalu mengalami penurunan, seharusnya dilihat sebagai hal wajar. Tak perlu kita marah dan menunjuk mereka sedang mendiskreditkan negara ini.

Tahun ini, UI sebagai universitas terbaik negeri ini hanya menduduki peringkat 196 di Asia turun dari peringkat ke 162 pada tahun 2020 yang lalu. Pun ITB sebagai universitas teknik terbaik negeri ini hanya menduduki peringkat 310 turun dari 264 pada tahun 2020.

Selain itu ITS yang sebelumnya ada di posisi 312 menjadi 372. Kemudian IPB dari 381 turun ke 395. Ada pun UGM yang tahun lalu ada di peringkat 339 melorot ke posisi 385. Kita panen

Kita kalah jauh dibanding Malaysia yang mampu menempatkan 7 universitasnya dalam daftar 200 universitas terbaik di Asia plus 1 universitas yakni University of Malaysia yang kini bahkan telah duduk pada peringkat 49 terbaik di Asia.

Pada tahun 70an, negeri kita adalah eksportir terbesar guru bagi negri jiran tersebut.

"Ada apa dengan kita?"

Kita memang tak berdarah. Tak ada pula luka menganga pada tubuh kita dapat kita lihat dan rasakan. Kita tidak sedang dalam perang konvensional dimana senjata dan militer asing adalah musuh kita.

Kita terluka dari dalam tubuh kita. Ideologi kita sebagai perekat tengah dibuat koyak. Perang asimetris dengan target membuat kita runtuh dari dalam sedang dan akan terus kita saksikan terjadi didepan mata kita dan kita diam membisu.

Pada perang konvensional, 3 pola serangan selalu kita saksikan :
1. Bombardir melalui kapal perang dan pesawat pembom.
2.Turunkan pasukan kavaleri dengan ragam tank dan alat berat.
3. Dan terakhir infanteri untuk merebut dan menduduki wilayah yang sudah mereka taklukkan.

Tiga pola serangan yang sama pada asymmetric warfare mereka lakukan yakni :
1. Gempur ideologi negara dengan paham baru melalui aktor-aktor pemecah.
2. Turunkan pasukan demo dalam banyak wajah dan bentuk.
3. Dan terakhir dudukkan aktor boneka pada jabatan strategis pada pemerintahan atau negara.

Pada perang konvensional kita terluka dan berdarah dan kita segera tersadar dan kemudian melawannya. Pun sekala kerusakan yang diakibatkannya terlihat nyata. Perang konvensional akan meruntuhkan banyak bangunan fisik dan infrastruktur namun mudah kita segera perbaiki.

Pada perang asimetris, kerusakan yang ditimbulkannya adalah runtuhnya persatuan kita sebagai satu bangsa. Itu sering dimulai dengan pembodohan terstruktur dan massif melalui banyak hal. Dan itu dapat kita lihat pada kondisi pendidikan kita saat ini bukan?

Mereka belum menang mutlak namun nanyak dari mereka kini telah duduk pada posisi pembuat undang undang. Pada jabatan Bupati, walikota hingga Gubernur bahkan di MPR hingga aparatur hukum. Mereka leluasa menyuntikan doktrin saat duduk menjadi guru, dosen hingga rektor. Kita sudah terkepung...

Adakah itu masih akan kita anggap wajar?

Yang jelas, tak akan pernah ada Indonesia tanpa persatuan. Bangsa ini akan runtuh tanpa pernah ada harapan dapat kembali bangkit tanpa ada persatuan. Dan kini, tempat kita menyemai benih pun telah dan sedang mereka rebut.

Kualitas pendidikan kita yang terus menurun telah diberitakan. Times Higher Education sebagai wasit didukung oleh audit PWC yang terkenal bersih dan selalu transparan jelas tak memiliki kepentingan berpihak.

Sinyal bahaya itu telah sampai pada telinga kita, akankah kita masih diam dan tak juga ingin bergerak?
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel

TAG TERKAIT :
Peringkat Kampus Peringkat Kampus Indonesia Turun

Berita Lainnya