Kriminal

Langkah Polri Berantas 3 Ribu Pinjol Buat Resah Masyarakat

Anas Baidowi - 18/06/2021 08:45
FOKUS : Polri

Beritacenter.COM - Polri tengah membidik sejumlah layanan pinjaman online (pinjol) ilegal yang selama ini meresahkan masyarakat dengan bunga tinggi. Polri mengibaratkan pinjol yang memberatkan nasabah seperti preman yang meresahkan masyarakat.

"Sama seperti disampaikan kemarin, kasus preman, ini kasus pinjol pun juga meresahkan masyarakat," kata Wadir Tipideksus Kombes Whisnu Hermawan Februanto, Kamis (17/6).

Dalam memberantas pinjamana online yang tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto meneken surat telegram kepada jajaran kepolisian di daerah untuk segera menangani perkara-perkara pinjol di daerah.

"Data OJK sampai saat ini ada sekitar 3.000 pinjol yang tak terdaftar," ujar Whisnu.

Kasus-kasus pinjol seringkali meresahkan masyarakat lantaran korban-korbannya kerap mendapatkan teror oleh penagihan alias debt collector. Beberapa kasus, para penagih menyebarkan informasi pinjaman kepada kerabat-kerabatnya tanpa persetujuan.

Salah satu kasus yang diungkapkan Bareskrim ialah perusahaan Rp Cepat yang diduga dikendalaikan oleh WN China. Perusahaan ini mengambil data pribadi secara ilegal.

Kasubdit V Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Kombes Ma'mun mengatakan bahwa pelaku menggunakan aplikasi canggih asal China sehingga dapat menyedot data-data nasabahnya. WN China yang menjadi pengendali itu masih buron. Polisi baru menangkap lima orang penagih.

"Kalau soal teknologi luar biasa sekali memang ya teknologi dari negara tetangga kita itu (China). Aplikasinya ini enggak hanya untuk mendaftar orang, tapi juga sudah nyedot dan bisa ambil data yang ada di nomor-nomor yang dia mau," kata Ma'mun kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (17/6).

Mereka, lanjut Ma'mun, menggunakan metode pemalsuan data telekomunikasi sehingga dapat menyedot data-data penting seperti nomor kontak. Nantinya, data tersebut digunakan untuk meneror korban.

"Misalnya, si A telah melakukan pinjaman di sini, bahkan ada yang lebih kasar lagi yang sedang kami selidiki lebih jauh, sudah fitnah sifatnya dan ini lebih meresahkan," ujarnya menambahkan.

Dalam perkara ini, para tersangka dijerat Pasal 30 Jo Pasal 46 dan/atau Pasal 32 Jo Pasal 48 UU Nomor 19 Tahun 2016 Tentang ITE dan/atau Pasal 62 ayat (1) Jo Pasal 8 ayat (1) huruf f UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Mereka juga dijerat dan/atau Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 3 atau Pasal 4 atau Pasal 5 atau Pasal 6 atau Pasal 10 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU.

Dalam beberapa kasus lain, polisi juga menemukan ada pinjol yang mengirimkan foto-foto vulgar dan data pribadi milik peminjam kepada khalayak luas di media sosial. Sehingga, peminjam merasa tertekan.

"Bahkan sampai ada yang stres akibat pinjaman ini tidak benar," tambahnya.

Korban seringkali tak dapat membayar pinjamannya karena dicekik oleh bunga yang terlampau besar. Kasus-kasus pinjol ini, kata dia, telah memakan banyak korban.

"Makanya kami langsung diperintahkan oleh Bapak Kabareskrim untuk membuat telegram ke jajaran tentang pola penanganan dan antisipasi tentang pinjol yang ilegal supaya tidak ada lagi masyarakat yang di-bully," jelasnya.

Saat ini, kepolisian pun tengah menyelidiki sejumlah perusahaan pinjol tak berizin yang beroperasi di Indonesia. Namun, penyidik belum dapat membeberkan lebih lanjut dengan alasan untuk kepentingan penyelidikan.

TAG TERKAIT :
POLRI POLISI Berita Kriminal Indonesia Berita Center OJK Pinjol Ilegal

Berita Lainnya