Opini

Dzolim! Serang dan Jerumuskan Jokowi

Indah Pratiwi - 23/06/2021 23:00
(Penulis: Ninoy Karundeng).
FOKUS : Jokowi

Indonesia sampai saat ini masih bertahan. Benteng 10 tahun terakhir adalah Jokowi. Dia berkat bagi Pancasila dan NKRI. Namun dia malapetaka bagi agenda Khilafah, Ikhwanul Muslimin, HTI, FPI. Maka dia diserang dan dijerumuskan. Yang ujungnya kepentingan duit.

Provokasi Jokowi 3 periode adalah upaya menjerumuskan Jokowi. Cari muka, alias carmuk. Atau, lebih tepatnya cara menyerang legitimasi prestasi Jokowi, infrastruktur dan politik-ideologis. Prestasi ini hendak dilawankan dengan seolah ada ambisi Jokowi.

Dan, parpol pendukung Jokowi pun dibusukkan. Itu sebab PDIP tidak mendukung wacana Jokowi 3 periode. Karena jelas sekali bagi PDIP dan kaum waras wacana itu melanggar konstitusi. Pun warganet relawan normal dan waras Jokowi akan menolak wacana itu.

Kampanye media dan media sosial, dengan kaderisasi di kampus dan banyak BUMN, menjadi ujung tombak serangan terhadap ideologi bangsa. Karena Jokowi sebagai benteng, maka serangan terhadap Jokowi berlangsung marak.

Infiltrasi budaya Wahabi, gerakan teroris khilafah, Ikhwanul Muslimin, salafi haroki dan salafi jihadi yang merusak di Indonesia. Mereka mendorong publik untuk anti pemerintah. Bahkan mendorong untuk keluar dari pekerjaan sebagai ASN dan perbankan; dengan isu riba dan haram. Anti pemerintah.

Hasilnya? Bangsa ini semakin lama makin kehilangan jati dirinya. Bangsa besar yang dilumpuhkan oleh peradaban dan budaya kadal gurun. Sebagian kecil kaum kadrun, yang mengenakan celana cingkrang, yang anti songkok nasional, yang melakukan propaganda khilafah dan HTI.

Konten Youtube Nussa Rara, misalnya. Saking pinternya penyusupan oleh HTI, Sandiaga Uno, Triwan Munaf pun menyambut gembira premier film Nussa Rara yang sejatinya corong untuk promosi konten Youtube ala HTI. Propaganda lewat pakaian cingkrang anak-anak jelas tampak kerja HTI.

Orang paling oon pun akan melihat dengan jelas bahwa busana yang dipakai oleh para tokoh dalam film dan konten Youtube bukan pakaian normal ala Nusantara. Bahkan keberagaman diberangus. Cerita hanya seputar rumah. Dan, propaganda surga.

Kenormalan kehidupan anak-anak ala Upin-Ipin, ala Unyil, ala Jejak Petualang, ala Bolang, misalnya sama sekali tidak ada. Yang ada adalah jejalan indoktrinasi cerdas ala HTI. Lewat busana yang tidak Nusantara, tidak beragam.

Dan, bau politik khilafah kental. Sandiaga Uno pun mendatangi premier. Dia memang berasal dari habitat lama. Harusnya Sandiaga ingat Pilpres sudah selesai. Dia pun pembantu presiden; bukan capres. Mencari dukungan dari kaum kadal gurun tak membuahkan hasil. Prabowo pun telah meninggalkan kaum kadrun yang dalam pilpres lalu pernah dia tunggangi.

Publik paham. Politik itu adalah fenomena kejadian yang bergerak. Artinya, isu, narasi dinamis, propaganda, pencitraan adalah kenyataan. Karena, dalam politik persepsi dianggap sebagai kenyataan. Kebenaran. Ideologi post truth paling pas untuk bermain dan memainkan isu, narasi, propaganda yang sekali lagi dianggap sebagai suatu kebenaran (baca: kenyataan).

Dan, propaganda kadal gurun alias kadrun sangat merusak negeri. Kebencian terhadap Pancasila dan NKRI, karena mimpi khilafah utopis, dengan janji surgawi membuat bangsa Indonesia kehilangan jati diri; identitas digadaikan dengan janji surga.

Karena Jokowi sebagai perusak mimpi kaum pengasong khilafah, teroris, maka secara cerdas Jokowi dijerumuskan. Jokowi digiring agar merusak demokrasi, melanggar konstitusi: presiden 3 periode. Jokowi sadar kepentingan merusak dirinya sangat kuat: dari internal dan eksternal. Karena 2024 Jokowi selesai!

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Presiden Jokowi Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Orang Jujur Jokowi Orang Tegas Jokowi Tiga Periode Jokowi Mantul

Berita Lainnya