Opung Luhut : Kita Untung Punya Pemimpin Seperti pak Jokowi

Indah Pratiwi - 08/07/2021 15:01
Oleh : Muhammad Nurdin
FOKUS : Jokowi

Master Dedy Corbuzier tiba-tiba tertegun, saat Menko Luhut Binsar Pandjaitan yang biasa disapa Opung Luhut mengatakan dalam acara podcastnya, “Kita masih impor paracetamol dari India.” Dan saat India lockdown tahun lalu, kita gelagapan untuk memenuhi kebutuhan obat yang sangat akrab dengan kehidupan kita itu.

Sekitar 95 persen obat-obatan kita masih impor. Ini memang sebuah ironi yang terjadi di negeri yang besar ini. Tapi mengapa keadaan ini tetap lestari? Ya, ini adalah bisnis besar. Hingga hari kiamat orang butuh obat. Harga obat-obatan di Cina sepersepuluh dari harga obat disini. Jadi tak heran mengapa kita tetap nyaman dengan terus mengimpor obat-obatan. Ada pihak-pihak yang mendulang keuntungan di balik sakitnya orang-orang. Opung Luhut mengungkapkan, pandemi menjadi momentum untuk melakukan reformasi farmasi.

Kelangkaan paracetamol menjadi titik balik Pemerintah mendorong kemandirian farmasi. Akhirnya, Kimia Farma dan Pertamina sepakat membangun pabrik farmasi paracetamol dengan nilai investasi mencapai 700 miliar.Ia juga mengatakan bahwa Pemerintah telah melakukan kerjasama dengan Cina. Kita tahu, dua pertiga kebutuhan obat di seluruh dunia diproduksi di Cina. Menggandeng Cina untuk mendirikan pabrik farmasi di Indonesia merupakan bentuk keberhasilan Pemerintah dalam kerjasama bilateral.

Tujuan kerjasama ini, selain untuk menekan harga obat-obatan, ini juga sebagai proses transfer ilmu untuk menyukseskan program kemandirian farmasi. Sebab, kita sudah jauh tertinggal. Dan terus merasa nyaman dipermainkan oleh para mafia obat. Opung Luhut dengan bangga mengatakan, Inilah kehebatan Pak Jokowi soal hilirisasi. Karena ia tahu rimba di balik bisnis-bisnis pengeruk uang rakyat, Opung Luhut mengatakan, Ini pasti ada loh Pak yang tidak senang. Dengan tegas dan penuh keyakinan Pak Jokowi mengatakan, Lawan saja!

Presiden kita mendorong upaya hilirisasi produk. Sebab selama ini kita hanya bisa menjual bahan baku dan negara lain yang mengolahnya, lalu hasil produksinya kita yang beli. Di periode awal Pemerintahan Jokowi kita menyaksikan drama pembubaran Petral, anak perusahan Pertamina yang merupakan sarang mafia migas. Presiden memberikan mandat untuk membubarkan Petral. Tapi menteri dan tim mengatakan, “Apakah bapak sudah matang-matang untuk membubarkan Petral? Apakah bapak sadar betul dampak juga resikonya?” “Bubarkan Petral!” Jokowi dengan tegas menginstruksikan. Akhirnya, Petral dibubarkan.

Setelah dilakukan audit forensik oleh sebuah lembaga kenamaan, diketahui, dalam jangka waktu 3 tahun, Petral mampu mengeruk uang negara sebanyak 250 triliun. Sudah lebih dari 30 tahun bangsa ini tidak membangun kilang minyak. Kita punya bahan baku tapi kita masih harus impor BBM. Hingga akhirnya, Presiden Jokowi membabat habis mafia migas dan menggandeng Perusahan Rusia untuk membangun sebuah kilang minyak modern di Tuban dengan nilai investasi sebesar 225 triliun. Tentu ini sebuah proyek raksasa. Yang menggambarkan komitmen kuat dari seorang Jokowi, si tukang kayu yang sering diumpat “plonga-plongo atau klemar-klemer”.

Saya yakin, bukannya Pemerintah sebelumnya tak mau mengupayakan hilirisasi, tapi negara-negara maju tak menginginkan negeri ini maju. Itulah yang disampaikan Opung Luhut, “Negara maju itu tak mau negara berkembang jadi negara maju.” Ia mengungkapkan pengalamannya, “Saya ngalamin gimana mereka mempersulit kita untuk maju.”Mereka beli bahan baku dari kita dengan harga murah. Dan kita membeli barang jadi dari mereka dengan harga mahal. Untuk merubah ini perlu keberanian. Dan kebanyakan pemimpin kita ogah berurusan dengan kekuatan besar itu. Tapi tidak untuk Pak Jokowi. Ia adalah a new hope, tulis majalah Time. Yang berani berdiri di barisan terdepan untuk mengamankan negerinya.

Ada satu lagi program hilirisasi Pemerintahan Jokowi yang membuat gelagapan Uni Eropa. Yakni, digulirkannya aturan yang melarang ekspor bahan mentah nikel. Aturan ini membuat negara-negara Eropa tak bisa membeli bahan baku nikel dengan harga murah. Aturan ini dibuat untuk memberikan nilai tambah untuk Indonesia dengan menjual barang jadi. Kita sudah punya 13 smelter nikel. Dan ini rupanya mengganggu negara-negara maju karena mereka butuh bahan mentah.

Opung Luhut telah menemani perjalanan kerja Presiden Jokowi sejak 2014 silam. Ia tahu reformasi birokrasi yang dilakukan Presiden sangat baik untuk bangsa sekaligus penuh resiko. Tapi di sisi lain, ia mendapatkan dukungan penuh Presiden sekaligus jaminan bahwa kalau ada apa-apa saya yang tanggung jawab. Hingga Putra Toba Samosir itu mengatakan sesuatu kepada Master Dedy, “Kita untung punya pimpinan seperti Pak Jokowi.”Lalu Dedy bertanya, “Definisi untung itu seperti apa?”Dan terjadilah rangkaian tanya jawab yang asyik juga informatif menjawab segala hal terkait PPKM juga hal-hal sampingan lain yang perlu anda ketahui.

Sumber : Status Facebook Muhammad Nurdin

TAG TERKAIT :
Jokowi Jokowi Orang Baik Jokowi Presiden Ku Jokowi Orang Jujur Pembenci Jokowi Jokowi Orang Tegas Jokowi Mantul BEM UI Hina Jokowi Meme BEM UI Jokowi The King Of Lips Service Anak SBY Serang Jokowi Anak SBY Kritik Jokowi AHY dan Ibas Kritik Jokowi

Berita Lainnya