Opini

Pak Jokowi, Beda Rakyat Lapar dengan Pejabat Lapar

Indah Pratiwi - 13/07/2021 09:42
Ditulis Oleh : Ninoy Karundeng
FOKUS : Jokowi

Di tengah pandemi. PPKM Darurat. Lockdown. Jokowi mulai ditinggal pergi. Perkiraan saya dia mulai ditinggal parpol tahun 2023. Namun kejadian lebih cepat: 2021, jelang 2022. Parpol melakukan konsolidasi. Politik memang kejam.

Mulailah para partai akan mengelus calon presiden. Sekaligus membangun basis pendukung. Partai menjadi semakin jauh dari Jokowi. Karena 2024 Jokowi sudah habis. Bagaimana Jokowi menghadapinya?

Memang. Instink Presiden Jokowi sangat kuat. Baik sosial maupun politik. Dia bisa memahami banyak hal yang orang lain tidak paham. Maka ketika dia menghadapi fenomena politik, dia akan menggunakan instink dan informasi untuk membuat keputusan.

Ada satu keputusan Jokowi yang saya selalu ingat. Ketika dia harus menghadapi sepak terjang Jusuf Kalla. Saya bertanya ke Presiden. Jawabnya: “Saya tahu itu.”

Dan, dengan jawaban itu ternyata Jokowi hanya memberikan pekerjaan seremonial diplomatik kepada JK. Dia tak memberi angin bisnis sedikit pun bagi JK. Dari keputusan Jokowi itu musuh politik di belakang peran JK tumbuh tak terbendung – sampai JK berhasil menaikkan Anies Baswedan.

Akibatnya bisnis JK hancur. Jokowi harusnya ingat ketika JK melawannya. Bahkan JK mengundang teroris Zakir Naik ke istana Wapres, harusnya Jokowi sadar itu peringatan. Mbalelonya JK.

Untuk maneuver ribuan bisnis dan proyek diberikan ke LBP dan kawan-kawan. Para pejabat. Bukan ke relawan. Dua periode relawan sabar. Representasi rakyat. Ini menjadi catatan serem. Ya gelap dan bisa menyandung Jokowi. Karena rakyat menjadi penonton.

Di tengah PPKM Darurat. Kini Jokowi tampak lelah. Sangat lelah. Kusut. Karena dia ditinggal pergi.

Kisahnya sedih. Sejak pandemi, ekonomi morat-marit. Alih-alih rakyat menjadi sasaran bantuan, malah polah korup dan mafia bermain di semua sektor. Mafia menguasai segalanya.

Sementara rakyat kecil mengais rejeki hanya untuk makan. Hari per hari. Sebagian mengandalkan Rp300.000 yang hanya bisa untuk bertahan hidup 10 hari dengan keprihatinan. Berbeda dengan para mafia.

Rakyat lapar memang beda dengan pejabat lapar. Rakyat lapar hanya pengin makan. Tiap hari tercukupi kebutuhan. Namun, kini PPKM bisa membuat usaha kecil mati. Urat nadi kehidupan bisa mati. Rakyat bisa mati kelaparan.

Pejabat lapar beda. Mereka meminta fasilitas dan terus berusaha korup. Keputusan politik dan bisnis berkelindan. Pejabat mengeruk keuntungan di tengah pandemi. Kelaparan pejabat adalah kerakusan. Tidak ada empati.

Silakan PPKM Darurat diperpanjang sampai 6 minggu atau setahun. Biar rakyat kering busung lapar. Sebagian pejabat menari di atas mayat bergelimpangan – karena vaksin pun dimainkan. Prosedur dibuat rumit untuk memenuhi hasrat korup pejabat.

Klop. PPKM Darurat membuat rakyat lapar. Pejabat rakus mengeruk keuntungan akibat pandemi. Politikus bermanuver tinggalkan Jokowi. Hanya tersisa sedikit relawan, yang telah dilupakan Jokowi. Kini Jokowi harus dijaga. Karena dia seorang diri. PPKM Darurat jebakan pejabat dan politikus untuk Jokowi.

(Penulis: Ninoy Karundeng)

TAG TERKAIT :
Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Jujur Pembenci Jokowi Rakya Laper Pejabat Kenyang Jokowi Harus Tegas

Berita Lainnya

LBP MENGGUGAT

Opini 24/09/2021 12:00