Opini

Cara Menghadapi Pandemi

Indah Pratiwi - 15/07/2021 12:10
Ditulis Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Dalam perang hanya ada dua pilihan menang atau kalah. Dalam aksinya pasti bertemu hidup atau mati. Para jenderal paham itu dan dimengerti oleh semua komandan lapangan. Makanya dalam perang penting sekali data intelijen dari kekuatan musuh. Waktu wabah covid melanda, china sudah mempublikasikan data ilmiah virus corona itu. Sehingga nagara manapun tahu bagaimana menghadapi corona.

Makanya china dalam menghadapi pandemi itu yang dilakukan adalah mengalahkan virus. China sadar memproteksi orang dengan prokes agar terhindar dari corona itu paradox terhadap eksistensi manusia. Itu bukan solusi utama. Yang tepat itu adalah segera lockdown dan berusaha menemukan vaksin agar sistem imun tubuh manusia bisa berfungsi efektif menghadapi covid. Tetapi sebagai tindakan preventif sebelum vaksin ditemukan dan terdistribusikan luas, china membangun rumah sakit darurat secara massal di beberapa kota agar korban bisa diminimalisir.

Setelah itu, lockdown diakhiri. 6 bulan kemudian china sudah mengizinkan pabrik berproduksi. Kehidupan ekonomi kembali berjalan normal. Namun tetap dipaksa rakyat mengikuti prokes secara ketat. Walau kegiatan ekonomi sudah berjalan normal, aksi meminimalkan korban berjalan terus tetapi lebih terarah. Yaitu dengan data ID yang terintegrasi, pemerintah langsung memantau mereka yang punya penyakit bawaan seperti paru paru, diabetes, lambung dll. Kalau kena covid, mereka akan mendapat prioritas tempat tidur di rumah sakit. Itu gratis.

Yang tidak punya penyakit bawaan tidak boleh dirawat di RS. Kalau tetap mau di rawat di rumah sakit ya harus bayar sendiri berkisar sebesar Rp 75 juta. Nah kalau memilih Isolasi mendiri, mereka diawasi secara IT oleh satuan tugas covid. Mereka dapat tuntunan secara online dari petugas. Itu gratis. Termasuk vitamin.

Kemudian china tahu bahwa Produksi antibodi itu tergantung suasana hati orang. Makanya semua berita buruk tentang covid dilarang beredar. Hasil test positif covid tidak boleh dipublikasikan. Semua berita baik dan positif saja yang dibolehkan. Pelanggaran itu akan kena hukuman dibawah UU wabah nasional. Jadi secara psikis orang kuat ketika terpapar covid. Mereka bisa tahan melewati proses inkubasi sampai virus inactive. Terbukti efektif dengan tingkat kematian rendah sekali.

Setelah vaksin ditemukan. Yang pertama divaksin adalah petugas yang ada di front line. Setelah itu rakyat diberi kebebasan mau ikut program vaksin mandiri bebas pilih mau merek apa, tetapi bayar. Atau ikut program vaksin pemerintah. Itupun hanya mereka yang punya kartu jaminan sosial kesehatan. Yang engga punya, ya bayar! Dengan mekanisme ini memaksa rakyat untuk sadar akan perlunya kartu jaminan sosial kesehatan.

Kini china sudah bisa beradaptasi dengan pandemi covid Secara sistem mereka sudah established. Secara komunitas mereka sudah mendekati mencapai kekebalan komunitas. Dan selama proses itu mereka hanya 6 bulan stuck ekonominya. Setelah itu jalan normal sampai sekarang. Bahkan china mencatat record pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.

Mengapa china bisa sehebat itu ? Pertama. Karena mereka punya sistem database kependudukan yang terintegrasi dengan data kesehatan dan jaminan sosial. Sehingga strategi mereka bisa efektif dalam perang menghadapi corona. Kedua. Sistem komando terpusat dan korupsi terhadap program penanggulangan wabah tidak ada. Resiko korupsi adalah hukuman mati dan pengawasan IT dalam setiap proses sangat efektif.

Kelemahan kita selalu membuat kebijakan dasarnya reaktif atau responsip, bukan holistik dan mendasar. Ya terpaksa trial and error. Mau gimana lagi? Kita tidak membangun dengan cara modern. Apalagi sebagian besar rakyat tidak percaya covid itu ada. Ya udah, terima aja nasip.

TAG TERKAIT :
Virus Corona Covid-19 Indonesia Bisa Lawan Corona Indonesia Pasti Bisa Lawan Corona Lawan Covid-19 VIRUS COVID-19 Melawan COVID-19

Berita Lainnya

LBP MENGGUGAT

Opini 24/09/2021 12:00