Opini

DOKTER LANGKA DOKTER TERAWAN

Indah Pratiwi - 27/07/2021 18:00

Bila waktu adalah uang, terminologi yang sama atas kondisi pandemi kita dan dunia saat ini pada satu sisi adalah derita namun pada sisi yang lain adalah hadirnya peluang itu sendiri. Rentang waktu yang panjang atas derita rakyat atas pandemi ini adalah kesempatan bagi kita terlibat di dalamnya.

Bukan melulu selalu menjadi penerima, kita diajak untuk memberi. Bukan hanya membeli produk vaksin buatan negara-negara yang lebih dahulu maju, namun membuatnya. Lebih bagus lagi bila mampu menjualnya bukan?

Sesekali, sebagai bangsa, layak kiranya bila ikhtiar kita bersama mampu membawa bangsa ini maju selangkah. Menjadi inisiator bagi hadirnya teknologi kedokteran meski kemarin itu terlalu jauh dan muluk-muluk.

Kita didorong paksa karena keadaan untuk segera mengambil celah yang kini terbuka sangat lebar. Membuat vaksin untuk 270 juta rakyatnya adalah celah itu sendiri. Itu belum tentu akan terjadi pada kurun waktu 10 atau 100 tahun lagi.

"Bukankah kita telah membeli jutaan vaksin? Kenapa harus pusing buat lagi?"

Varian Delta yang konon kabarnya bermutasi di India ternyata telah meruntuhkan pendapat banyak ahli bahwa dua kali vaksinasi cukup. Booster atau vaksin ke 3 kita dengar harus diberikan pada nakes. Vaksin berbasis mRNA seperti Pfizer atau Moderna kabarnya adalah vaksin yang akan diberikan.

Dari kondisi itu, sebagai awam kita hanya dapat bertanya kenapa tanpa jawab jelas dan pasti. Jawaban sederhananya adalah mutasi virus telah berkembang menjadi lebih kuat. Dan paparan yang terus menerus pada para nakes misalnya, adalah sisi lain kenapa fakta vaksin ke 3 harus diberikan.

Itu bukan kegagalan. Seperti trial dan error, pandemi global yang terjadi dalam waktu sangat singkat dan tiba-tiba meluas dalam skala yang massif menuntut kita mencari jawab yang cepat. Dan jawaban yang cepat biasanya ada tertinggal akurasi.

"Kenapa harus vaksin berbasis mRNA?"

Ketika kita demikian memuji sosok Sarah Gilbert penemu Vaksin AstraZeneca yang menolak hak paten penuh dan sehingga harga vaksin buatannya menjadi murah, di dalam negeri banyak dari kita justru terlihat ingin memojokkan dr Terawan dengan vaksin Nusantaranya.

Vaksin Nusantara ini adalah produk buatan dalam negeri dan ini adalah tentang celah kita untuk masuk pada wilayah sempit teknologi kedokteran maupun kesehatan. Kita semua tahu bahwa nama Indonesia tak terlihat punya banyak jejak pada wilayah itu. Seharusnya, ini adalah kesempatan.

Rumit peristiwa pro dan kontra atas hasil karyanya jauh lebih sering kita dengar dibanding esensi sebenarnya dari apa vaksin Nusantara itu. Kita lebih sibuk berdebat pada gaung dibanding core atau makna tersembunyi dan hebat dari vaksin buatannya.

Uji coba pada fase pertamanya di Rumah Sakit dr. Karyadi Semarang sukses. Tiga puluh orang sebagai relawan telah divaksin dan tidak menimbulkan efek negatif.

Pada uji coba fase kedua, dari 220 orang yang berpartisipasi dalam uji klinis vaksin corona tersebut, 139 menyelesaikan penelitian. Dan sebanyak 136 orang dinyatakan aman usai mendapatkan vaksin Nusantara..

Itu sesuai dengan kesaksian peneliti utama vaksin nusantara Kolonel Jonny, dalam rapat dengar pendapat di DPR RI Komisi VII, Rabu 16/6-2021 yang lalu. Bahkan karena hasil tersebut, anggota komisi VII DPR RI pun menyatakan ingin terlibat.

Uji coba fase ketiga kini mendapat halangan cukup berarti. Dalam sengkarutnya, BPOM dikabarkan tak memiliki wewenang karena itu adalah wilayah milik Kemenkes. Di sisi lain, entah kenapa hingga hari ini uji coba fase ketiga yakni fase penting bagi penentuan oke atau tidaknya vaksin itu beredar secara massal, belum juga mendapat lampu hijau.

"Apa hebatnya sih vaksin Nusantara?"

Bukan cara mana yang lebih baik, namun esensi bahwa anak kita harus menjadi pintar maka sekolah bagi anak adalah wajib. Anda bisa memilih untuk sekolahkan anak anda di luar rumah atau justru mengundang guru masuk dalam rumah anda. Itu hanya soal pilihan.

Teori vaksinasi pada umumnya adalah seperti anda mengundang guru atau biasa kita kenal dengan home schooling. Sama pada proses homeschooling, Vaksin dalam rupa antigen atau virus yang telah dilemahkan maupun virus tiruan (mRNA) itu dimasukkan dalam tubuh.

Pada vaksin Nusantara, vaksinansi yang digagas oleh dokter Terawan, proses belajar itu terjadi sebaliknya. Anak andalah yang kini justru dikirim belajar di luar. Sel tubuh andalah yang harus sekolah diluar tubuh anda demi belajar.

Ini jenius. Ini ide yang bukan kaleng-kaleng. Bukan memasukkan virus ke dalam tubuh melainkan sel tubuh dalam rupa sel dendritik itulah yang kini harus keluar dari tubuh dan belajar apa itu antibodi.

Sel dendritik diperoleh dengan cara mengambil darah orang yang akan akan diberi antigen atau di vaksin dinluar tubuh. Sel dendritik adalah sel imun yang nantinya setelah dia menjadi pintar akan mengajarkan sel-sel lain untuk memproduksi antibodi.

Di dalam darah manusia diketahui ada tiga macam sel, yakni sel darah merah, sel darah putih, dan sel prekursor dendritik. Sel prekursor dendritik ini belum menjadi sel dendritik.

Sel dendritik bisa tumbuh hanya setelah sel prekursor dendritik ditumbuhkan di cawan laboratorium. Masa sekolah di luar atau masa inkubasi dari sel prekursor dendritik menjadi sel dendritik di dalam cawan ini membutuhkan waktu beberapa hari. Pada masa ini, antigen akan diberikan ke sel dendritik.

Setelah sel dendritik terpapar antigen, sel itu disuntikkan kembali pada orang yang diambil darahnya.

Sel dendritik yang sudah terpapar antigen itu dan kemarin diambil dari darah Paijo tidak bisa diberikan pada Paimo atau Tarigan. Itu harus disuntikkan kembali pada Paijo. Ini seperti dia yang sekolah di luar dan setelah pintar harus pulang kerumahnya masing-masing dan kemudian menularkan kepintarannya pada saudara-saudaranya.

"Lebih mahal dong harganya?"

Dari paparan anggota Tim Peneliti Vaksin Nusantara FK Undip/RSUP dr Kariadi, Yetty Movieta Nency, vaksin itu dijamin tidak akan lebih mahal.

Paling tidak, Vaksin ini dibuat di dalam negeri, kit dirakit dan didistribusikan oleh perusahaan lokal. Dan ingat lebih dari 90 persen komponen kit dibuat perusahaan lokal.

Paling tidak, produksinya tidak membutuhkan biaya peningkatan skala, karena bisa dibuat tanpa memerlukan pabrik, cukup di buat di tempat pelayanan, misalnya rumah sakit, klinik, atau laboratorium skala kecil.

Paling tidak, tidak ada vaksin cadangan yang harus terbuang, karena dibuat dari sel darah seseorang yang akan kembali diterima oleh orang yang sama ketika sudah menjadi vaksin.

Paling tidak, biaya pengiriman menjadi lebih rendah, karena tidak membutuhkan alat penyimpanan dengan suhu -80 C misalnya.

Paling tidak, vaksin ini akan cocok untuk kondisi medis dimana vaksin yang lain tidak bisa mencakupnya. Ini berasal dari darahnya sendiri.

Paling tidak, vaksin ini mudah diadaptasikan untuk patogen yang baru. Virus itu mengalami mutasi misalnya.

Sekali lagi, menurut Yetti Movieta, harga vaksin ini diperkirakan hanya sekitar 10 dollar AS atau sekitar Rp 140.000 saja. Bandingkan dengan vaksin import yang lain.

"Kenapa tidak direkomendasikan untuk booster atau vaksinasi yang ke 3 saja misalnya?"

Disrupsi seringkali menutupi hal esensial. Kita sering dibuat tak lagi memiliki pegangan pasti manakala gaung sengaja dibuat oleh pihak tertentu menjadi lebih berisik dibanding suara aslinya. Itu adalah salah satu efek negatif dari banyak hal baik atas massifnya informasi yang mampu didatangkan dalam seketika pada era Internet of Things. Namun, kita tak harus kalah bukan?

Bila teknologi kekinian yang dipakai dr Terawan adalah hal baik bagi bangsa ini dan kemudian mampu mengangkat martabat bangsa ini, bukankah seharusnya kita dukung?

Bila di luar sana ada sosok Sarah Gilbert penemu Vaksin AstraZeneca yang menolak hak paten penuh dan kita berterima kasih padanya, tak pantaskah sosok dr Terawan yang berjibaku demi lahir vaksin Nusantara mendapat penghormatan yang sama?

Bukan soal vaksin Nusantara ini pantas atau tidak untuk segera kita gunakan kita harus berdebat, fase ke 3 uji cobanya pun masih mendapat halangan. Ijinkan saja dulu, apapun hasilnya, itulah yang harus menjadi acuan pantas tidaknya vaksin Nusantara ini diproduksi.

Ini seperti Jokowi ingin membangun negara tapi prasangka buruk kita sematkan padanya dan kemudian sebagian dari kita terprovokasi dengan justru sibuk ingin menggulingkannya.

Dengan memberi tempat yang pantas pada ide seorang Terawan, kita seperti memberi ruang bagi inovasi dalam iptek anak negeri ini lahir. Sudah waktunya kita bangun dari tidur panjang. Sudah saatnya kita berbincang tentang science dalam keseharian kita. Dan vaksin Nusantara adalah tentang cara bangsa ini ingin mencapai keunggulannya pada bidang science.

Bukan tentang vaksin ini harus diterima dan maka negara ini akan menempati posisi pantas, debat sehat dengan argumen berdasar science adalah wasit paling tepat. Di sana, mafia alkes tak harus menjadi rujukan atau bahkan tuduhan agar debat ini berlangsung dengan sehat.

Di sana like and dislike pada sosok dan pribadi bukan pula menjadi acuan. Membudayakan debat berdasar logis dan data, di sana budaya seperti itu akan membimbing bangsa ini menempati posisinya.

Terawan pantas kita hormati bukan karena sebab vaksin Nusantaranya diproduksi massal, budaya science yang dia geluti adalah kunci bagi cara bangsa ini bangun.
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel

TAG TERKAIT :
Kesehatan Dr Terawan Terawan Vaksin Covid-19 Vaksin Nusantara Mafia Obat Corona Mafia Covid Mafia Covid-19 Vaksin Buatan Anak Bangsa

Berita Lainnya

LBP MENGGUGAT

Opini 24/09/2021 12:00