Opini

Saya Indonesia, Saya Pancasila

Indah Pratiwi - 03/08/2021 19:28
Oleh : Karto Bugel

Tak mudah berdiri pada posisinya. Hitam putih tak lagi mudah dimengerti. Kekinian pada dunia yang bergerak sangat cepat ini adalah tentang jebakan abu-abu posisi kita. Kita terbangun menjadi seolah tak memiliki akar. Kita demikian mudah tercabut dan roboh manakala angin menghantam. Dalam dunia nyata, pada kikinian kita dalam satu bangsa, kita terlihat seperti terlalu mudah dibuat menjadi ribut bukan demi hal esensial namun hanya karena masalah kaleng-kaleng saja. Masalah-masalah yang tak memiliki nilai pantas untuk kita jadikan rebutan benar.

Ketika makna oposisi telah bergeser menjadi mendorong jatuh demi merebut kekuasaan, hakikat koreksi demi tak salah jalan pemerintah sah telah musnah. Kita terjebak pada situasi tak mengerti makna satu kebersamaan. Nation building kita bukan lagi tujuan. Dia hanya manis dalam ucap tanpa makna. Itu mengingatkan kita pada trend kekinian di mana para ahli telah jauh hari memberi peringatan. Era modern saat ini adalah sebagai era VUCA. Itu Akronim volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity.

Itu berbicara tentang masa penuh gejolak, masa yang penuh dengan ketidak menentuan, rumit dan membingungan.Menurut para ahli itu, kondisi VUCA ini didasari oleh pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi informasi yang bergerak secara eksponensial. Bukan hanya aspek-aspek modernitas yang membangun dapat kita ambil, disana ada juga termuat risiko ancaman yang tak kalah mengkhawatirkannya. Itu seperti anda memberi perangkat smartphone canggih dengan kuota tanpa batas pada pada anak. Di sana ada ilmu pengetahuan tanpa batas, namun di sana ada juga jurang luar biasa dalam siap menelannya.Itu juga seperti anda memberi smartphone pada orang tua anda di kampung yang berumur 50 tahun lebih pada awal teknologi ini mulai tersebar.

Niatnya adalah baik, namun ketidak mengertiannya pada konsep smartphone justru menempatkan orang tua kita pada posisi serba takut. Tiba-tiba, beliau harus berjumpa dengan istilah kartu perdana, internet, kuota, setting, download hingga banyak istilah yang benar-benar baru. Kebingungannya lebih tinggi dibanding niat kita demi mudah berkomunikasi dengannya. Pada anak-anak mereka dibuat bingung karena tiba-tiba tersedia ribuan tempat main terbentang dihadapannya, pada orang tua, mereka cenderung takut pada dunia yang tak dikenalnya. Disanalah posisi kita saat ini pada kondisi VUCA. Kita terlihat ada namun seringkali tak hadir.”Trus sebaiknya bagaimana?” Bulan Agustus adalah tonggak penting di mana dalam satu tahun sekali kita kembali memperingati hari lahir kita bersama dalam satu nasional. Sama seperti kita harus berhenti sejenak manakala panjang jalan telah kita tempuh demi koreksi atas apa yang telah kita kerjakan, itulah makna 17 Agustus seharusnya.

Nasionalisme milik kita bersama yang dulu demikian kuat kembali kita hadirkan demi satu ingatan tentang makna MERDEKA. BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA RUNTUH adalah tentang slogan kita bersama ketika kemerdekaan harus menjadi milik bangsa ini.Revolusi 17 Agustus 1945 tak mungkin hadir tanpa Sumpah Pemuda 1928. Dan ikhtiar bersama dalam Satu Nusa Satu Bangsa dan Satu Bahasa pada Sumpah Pemuda itupun tak akan tampil tanpa Kebangkitan Nasional 1908. Itu seharusnya adalah tempat dimana kita menoleh dan menjadikannya sebagai titik pengingat manakala kita salah jalan.

Kita memang sering tersesat dalam panjang jalan negara ini mencari makna panggilannya sebagai bangsa dan kita berdarah. PKI Madiun, Permesta, DI/TII, Karto Suwiryo, Khahar Muzakar, hingga G 30 S PKI adalah cerita kita terlibat saling pukul sebagai sesama saudara. Namun ada catatan luar biasa hebat di mana kita selalu mendapatkan moment bersatu manakala asing adalah musuh kita bersama. Kles 1 dan kles 2 tahun 1947 hingga 1949 hingga perebutan Jogja, Solo dan banyak daerah yang dirampas Belanda, membuat kita lupa pernah saling tak suka. Kita bersatu. Pun pada perebutan kembali Papua Barat yang saat itu masih dikuasai oleh Belanda, kita bersatu tanpa sekat apapun dan kita lupa pernah saling pukul dan sekali lagi mampu membuat Belanda tunggang langgang.”Apa hubungannya dengan saat ini?”Pandemi Covid-19 adalah masalah nasional kita hari ini dan maka cara kita melihatnya pun seharusnya sebagai musuh kita bersama. Itu tanda panggilan nasional kita hari ini.

Apapun kondisi membingungkan akibat derasnya informasi pada era VUCA ini dan pada faktanya juga telah membuat banyak bangsa lain di dunia kebingungan, tak harus membuat kita terpecah. Bahwa tanda-tanda kita mulai saling tak suka dan saling maki pada sesama anak bangsa terdengar, bulan Agustus sebagai tonggak sekaligus mercusuar itu kini hadir. Pada terang cahaya yang dihasilkan dari mercusuar itu kita punya rujukan bagaimana membenahi posisi kita. Tak ada kebingungan dalam sebuah pegangan pasti. Tak ada kerumitan, tak ada pula ketidakpastian dan tak akan ada gejolak seperti pada kondisi VUCA manakala kebingungan itu sendiri tidak pernah sempat hadir dalam kebersamaan kita.

Dan itu harus dimulai karena ikhtiar kita bersama tanpa terkecuali. Di sana, hal itu hanya mungkin terjadi ketika kita memiliki satu pegangan yang sama. Bukankah bulan Agustus adalah pegangan sekaligus sebagai tali pengikat bagi kebersamaan tersebut? Dengan cara sederhana yakni mengibarkan bendera Merah Putih sejak 1 Agustus dan berhias dalam kerlap kerlip lampu sebagai tanda bahwa bulan Agustus ini adalah bulan istimewa, bukan mustahil persatuan sebagai milik kebanggan kita dalam Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa akan menjadi cara kita bertemu dalam saling memahami. #sayaIndonesiasayaPancasila Kibarkan Merah Putihmu….RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

TAG TERKAIT :
NKRI Harga Mati Saya Indonesia Saya Pancasila Saya Indonesia Saya Pancasila

Berita Lainnya

LBP MENGGUGAT

Opini 24/09/2021 12:00