Opini

MEREKA SAUDARA KITA

Indah Pratiwi - 14/09/2021 14:45
Karto Bugel


.
Ketika mereka bukan saudara dalam satu iman, bukankah mereka masih saudara dalam satu kemanusiaan?


Lantas, adakah alasan dapat diambil bagi cara kita ingin membenarkan perusakan rumah ibadah milik mereka?


Lagipula, adakah hak melekat sebagai milik sehingga gerombolan itu merasa boleh membongkar apa yang tak pernah mereka bangun?


Mereka para korban itu adalah saudara kita sendiri. Mereka hanya ingin menjalankan keyakinannya. Adakah itu semua mengganggu sehingga harus hadir marah pada kita?


Bila keyakinan mereka melanggar hukum, kenapa tidak diproses saja secara hukum dan biarkan pengadilan yang berbicara?


Bila rumah ibadah mereka dibangun tanpa ijin, kenapa bukan negara hadir dengan aparatnya membongkar berdasar putusan hukum?


Gerombolan yang hadir dan merusak rumah ibadah Jemaah Ahmadddyah itu bukan saja telah seolah menjadi wakil Tuhan, mereka telah merampok hak negara.


Anehnya, bukan kita yang merasa bertuhan marah pada gerombolan itu. Bisik-bisik kita justru menyudutkan mereka yang menjadi korban. Keyakinan mereka salah. Mereka tidak berjalan pada tataran benar. Paling tidak, itu adalah apa yang sering kita dengar.


Anehnya, bukan negara hadir untuk melindungi rakyat yang diserang. Mereka sebagai korban diserang kini justru seolah adalah pihak yang menjadi penyebab dan dipersalahkan.


Lihat saja alasan pemda. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sintang, Kurniawan dengan benderang justru bicara bahwa keputusan dari Pemerintah Kabupaten Sintang menghentikan aktivitas operasional bangunan tempat ibadah secara permanen milik JAI di Desa Balai Harapan, Kecamatan Tempunak, Sintang, Kalbar itu adalah untuk menjaga keamanan, ketentraman, ketertiban dan kondusivitas masyarakat di Desa Balai Harapan.


Adakah dengan demikian 72 warga penganut JAI tersebut terlalu superior sehingga mereka mampu membuat keamanan, ketentraman, ketertiban dan kondusifitas pada Kabupaten itu runtuh?


Bagi sebagian warga negara Indonesia, hingga hari ini, mereka masih belum merdeka. Dan mayoritas dari kita, kini senang berdiri sebagai penjajah itu sendiri.


Mungkin kita tak turut merusak seperti gerombolan tersebut, namun diam seribu bahasa kita adalah bentuk dukungan terselubung.
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel

TAG TERKAIT :
Toleransi Beragama

Berita Lainnya