Opini

Bisik Merdu Nama Papua

Indah Pratiwi - 08/10/2021 08:38
Ditulis Oleh: Karto Bugel
FOKUS : Papua

Ketika banyak saudara kita masih dalam lelap tidur, mereka telah bergegas. Mereka berkabar bahwa hari telah berganti.

Selalu seperti itu dan selalu berulang setiap hari sejak pertama nama Indonesia resmi menjadi milik bangsa ini. Tak ada kata lelah, tak ada rasa iri terungkap. Mereka hanya selalu berusaha menjalani kodrat itu dengan senang.

Entah kenapa mereka yang selalu setia, selalu menjadi yang pertama memulai hari selama lebih dari 70 tahun bangsa ini merdeka adalah yang justru tak mendapat perhatian. Mereka tertinggal dalam banyak hal dari saudaranya yang lain. Bangsa ini terlihat terlalu lama abai pada mereka.

Setelah 76 tahun merdeka, kini si sulung mulai mendapat perhatian.
“Loh koq SULUNG? Bukannya Papua justru baru diakui secara internasional bergabung dengan Indonesia setelah Pepera tahun 1969?”

Entah bagaimana caranya, pada 200 M, ahli geografi bernama Klaudius Ptolemaeus dari Yunani telah menyebut pulau Papua dengan nama Labadios. China menyebutnya dengan Tungki pada 500 M.

Pada 600 M dalam buku Kertagama 1365 yang dikarang Mpu Prapanca, Sriwijaya menamainya dengan Janggi.

Nama Papua sendiri baru melekat pada pulau tersebut pada abad ke-14 saat dikuasai oleh Kerajaan Tidore. Papua dalam bahasa Tidore berarti tidak bergabung atau tidak bersatu, yang artinya di pulau ini tidak ada raja yang memerintah.

Sebelumnya, Majapahit pernah menyebut pulau terbesar nomor dua di dunia setelah pulau Pulau Greenland di Denmark itu dengan nama WANIN pada akhir 1.300 M. Dan sebelumnya lagi, para pedagang dari Gujarat India hingga Persia mengenalnya dengan nama Dwi Panta dan Samudranta pada 700 M.

Era kolonialisme dimulai saaat Spanyol datang pada abad 16. Mereka kemudian menamainya dengan Nueva Guinea atau Gova Guinea (Pulau Guinea Baru) karena melihat ciri-ciri penduduk asli yang berkulit hitam dan berambut keriting sama seperti manusia yang mereka lihat di belahan bumi Afrika bernama Guinea.

Inggris tetap bertahan dengan penyebutan Papua New Guinea dan Belanda yang pada awalnya menyebut Nieuw Guinea, suatu saat nanti merubahnya dengan nama Nederlands Nieuw Guinea.

“Koq tiba-tiba bisa ikut menjadi bagian dari Republik Indonesia?”
Ketika kita membeli tanah, tentu bukan hanya tentang kepemilikan faktual semata ingin kita dapat. Bukan tentang fakta bahwa di atas tanah itu boleh kita bangun rumah atau boleh kita tanami. Tanah itu harus legal. Tanah itu harus bersertifikat. Artinya, ada ranah hukum dari pemilik otoritas turut terlibat disana.

Itu seperti fakta bahwa kita merdeka pada 17 Agustus 1945 dan namun legalitas atau surat resminya baru keluar pada 2 November 1949 setelah ditandatanganinya Konferensi Meja Bundar dan Belanda mengakuinya.

(Kita bisa berdebat panjang lebar tentang makna de jure yang seharusnya sudah langsung berlaku manakala Mesir, Libanon, India dan beberapa negara telah mengakui sejak 1946.)
Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat pada bulan Desember 1949, dan terkait Irian Barat, penyelesaiannya ditunda satu tahun setelah pengakuan kedaulatan.

Itu seperti balik nama pada sebuah dokumen kepemilikan. Dari milik Belanda dengan nama Hindia Belanda, menjadi milik Rakyat Republik Indonesia. Artinya, luas wilayah negara baru bernama Republik Indonesia itu adalah seluas Hindia Belanda pernah merasa memilikinya. Dari Sabang sampai Merauke konon kalimat itu sering kita ucapkan sambil bernyanyi.

Uti possidetis Juris, demikian azas atau aturan hukum internasional tentang batas wilayah atau teritori sebuah negara baru merdeka ditetapkan. Negara yang baru saja merdeka, otomatis akan memiliki teritori sama luas dengan negara yang menjajahnya.

Kekuasaan Belanda pada wilayah bernama Hindia Belanda yang diakui oleh Internasional karena pihak Belanda pernah mendaftarkan kepemilikan aset tersebut pada LBB (PBB) pada tahun 1920an yang membentang dari Sabang Sampai Merauke itulah yang kini menjadi Indonesia. Dan Merauke sebagai titik terjauh di sebelah timur dari untaian jamrud katulistiwa bernama Indonesia adalah tentang Papua.

Tentang bagaimana Belanda bisa terkesan sah memiliki aset bernama Hindia belanda, sejarah telah berbicara. Kolonialisme adalah kambing hitam yang tak pernah merasa dirinya kambing apalagi berwarna hitam.

Bahwa kemudian Belanda ingkar karena tak memenuhi janjinya yang akan mengembalikan Papua setahun setelah KMB, Sorkarno sebagai Presiden marah. Belanda yang tak konsisten dengan seolah ingin memecah sertifikat besar bernama Indonesia dengan tetap bercokol di Papua adalah kriminal negara terhadap negara dan itu harus dipeoses hukum.

Untuk sesaat, nama Papua kembali berubah dan nama Irian kita kenal. Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisepo pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Papua pernah mengatakan : “Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan”.

Bung karno menyematkan nama IRIAN yang artinya adalah Ikut Republik Indonesia Anti Nederland (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107-108) sebagai bentuk ingin membangun semangat juang bagi para prajurit yang ditugaskannya merebut Papua.
Pada 1 Mei 1963 saat wilayah ini dikembalikan dari Kerajaan Belanda ke dalam pangkuan Negara Republik Indonesia, Papua berubah menjadi Irian Barat.

Dan kemudian pada tanggal 1 Maret 1973 sesuai dengan peraturan Nomor 5 tahun 1973 nama Irian Barat resmi diganti oleh Presiden Soeharto menjadi nama Irian Jaya.

Memasuki era reformasi, dalam acara kunjungan resmi kenegaraan sekaligus dalam menyambut pergantian tahun baru 1999 ke 2000, pagi hari tanggal 1 Januari 2000, Gus Dur memaklumkan bahwa nama Irian Jaya menjadi Papua seperti yang diberikan oleh Kerajaan Tidore pada tahun 1.400 -an.
Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke 7 mengisinya dengan pembangunan.
Tiba-tiba seluruh mata dan telinga rakyat Indonesia tertuju ke arah timur. Pada ujung paling timur negara kita, pada dimana pagi pertama selalu hadir demi membuka hari Indonesia, pesta besar kini tengah berlangsung.

PON XX yang digelar di tempat paling ujung sebelah timur Indonesia itu dihadiri oleh kontingen yang berasal dari 34 propinsi dari seluruh Indonesia. Dalam gempita dan sorak pesta, mereka bernyanyi dan menari gembira bersama dengan si sulung.

Rakyat Papua adalah si sulung. Fakta bahwa secara de facto kita merdeka pada 17 Agustus 1945 dan de facto rakyat Papua seolah baru bergabung dengan Indonesia pada PEPERA tahun 1969, itu tak merubah makna Konferensi Meja Bundar dengan Uti Posidetis Juris nya sebagai hukum yang lebih tinggi. Itu juga tak membuat mereka menjadi si bungsu. Secara de jure kita semua merdeka sejak 2 November 1949.

Mereka adalah sulung. Bukankah mereka selalu lebih dahulu menerima sapaan matahari sebagai tanda hari telah berganti?

Bukankah mereka telah lebih dulu menyibak dan membuka hari rabu saat kita masih berdiri di sisi Selasa?

Mereka selalu lebih tua 1 atau 2 jam dibanding kita yang di tengah dan di barat.
Manakala si sulung telah mentas, seharusnya mentas pula keluarga ini. Bahwa si sulung seolah selalu harus mengalah demi sukses adik-adiknya terlebih dahulu, bukankah itu konsep tentang apa itu makna berkeluarga pada banyak keluarga Indonesia?

Ya, si sulung sebagai anak paling besar akan sudah harus membantu bapak dan emak demi adik-adiknya yang lebih lemah dan lebih kecil untuk didahulukan. Dan itu cerita tentang kita, cerita tentang keluarga kita, cerita tentang Indonesia dengan gotong royongnya.
Masa depan si sulung yang seharusnya turut menikmati kemakmuran adik-adiknya kini mulai mendapatkan ” SAAT”. Marwah Orang tua yang seharusnya tetap menjadi pemegang utama makna sebuah tanggung jawab pun kini juga terlihat “sudah waktunya”.

Presiden Jokowi sebagai ayah, sebagai Presiden republik ini secara perlahan dan pasti telah mampu membuat keluarga ini bangkit, Indonesia bangkit. Dan ini tak akan terjadi tanpa pengorbanan si sulung di masa lalu.

Inilah saat bagi si sulung melesat untuk mendapatkan apa yang seharusnya. Dan PON XX di Papua adalah seremonial tentang cerita sukses keluarga besar bernama indonesia.
Itu bukan cerita indah berakhir angan, itu sungguh terdengar seperti bisikan merdu tentang papua yang seharusnya, surga kecil yang tertinggal di bumi milik bangsa ini.
.
.
RAHAYU

(Sumber: Facebook Karto Bugel)

TAG TERKAIT :
Papua PON Papua

Berita Lainnya