Opini

LAIN PAK BEYE LAIN PULA PIGAI....

Indah Pratiwi - 11/10/2021 21:49

Pilihan kata "kecil" disandingkan dengan "besar" dijamin takkan mudah menggerakkan rasa iba. Pun diksi lemah versus kuat. Pilihlah kata teraniaya dan segera sandingkan dengan si arogan, itu pasti jauh lebih menjual.


Iba atau simpati kita sebagai abstrak perasaan seringkali akan segera dibuat mudah menjadi terkecoh. Jejaring nalar sebagai saringan logis standar manusia tak lagi bermakna manakala emosi telah turut berbicara.


Pada suatu saat dulu, cerita seperti itu pernah terjadi. Misteri seorang berpangkat jendral yang seharusnya identik dengan makna gahar tiba-tiba berbalik menjadi baper. Tiba-tiba si perkasa itu masuk fase darurat butuh dibela dan dilindungi.


Paling tidak, itulah strategi yang konon pernah dipercaya banyak pihak pernah digunakan pak Beye saat berhadapan dengan lawannya pada pemilu 2004.


Teori bahwa membuat tumbang lawan yang terlihat lebih kuat ternyata tak selalu harus dengan membangun kekuatan dirinya hingga melebihi sang lawan.


Demi membuat tumbang lawannya, konon pak Beye hanya perlu image bahwa di sana seolah benar telah terjadi tindak tak pantas dalam rupa kesewenang-wenangan. Tampilkan saja bahwa dirinya seolah adalah korban dan maka simpati rakyat akan mengalir deras.


Dia yang inferior dikemudian hari justru tampil dengan sangat superior. Itu sekaligus tentang pembuktian teori "mengalahkan kemustahilan" karena sang lawan adalah incumbent. Bahasa kerénnya "against all odds".


"Loh koq Phil Collins dibawa-bawa?"


Walaahh...


Di luar sana, baru-baru ini, narasi "Jgn percaya org Jawa Tengah Jokowi & Ganjar. Mrk merampok kekayaan kita, mereka bunuh rakyat papua, injak2 harga diri bangsa Papua dgn kata2 rendahan Rasis, monyet & sampah. Kami bukan rendahan. kita lawan ketidakadilan sampai titik darah penghabisan. Sy Penentang Ketidakadilan)." dicuitkan oleh Pigai lewat akun Twitter-nya @NataliusPigai2.


Bukankah cuitan itu tampak tendensius? Tak hanya terdengar rasis dan terlihat bermaksud menuduh, namun itu juga terkesan ada aroma tercium sebagai bau yang memiliki maksud tertentu.


"Ngiikuti jejak pak Beye gitu?"


Pigai sungguh paham bahwa posisi dirinya saat ini sangat inferior. Dalam banyak hal..!! Bukan karena dia seorang Papua, dia hanya sedang terbentur pada masa depan pribadinya karena tak ada skill pantas yang kini dapat dia jual.


Dan maka menjadi wajar ketika dia terlihat berusaha menggunakan dan memanfaatkan "image" inferioritasnya sebagai seorang Papua (Bagian dari masyarakat yang konon teraniaya oleh sistem). Dia membangun prasangka demi rasa galau pribadinya.


Sama seperti pak Beye, teori Against all odds sebagai angan kini sedang dia jalankan dengan konsep untung-untungan.


Dia dijamin pasti akan menjaring sukses bila masyarakat Jawa Tengah terpancing dan kemudian larut dalam sibuk membuat balasan dalam marah. Itu seperti pucuk dicinta ulam tiba. Itu juga seperti Pigai sedang berungkap kejarlah daku maka kau akan kutangkap...


Simpati dan iba dunia internasional pada rakyat Papua yang tak lagi mereka butuhkan karena telah sangat diperhatikan oleh Presiden Jokowi dengan cara melawan balik ucapan Pigai yang terindikasi rasis dari orang-orang Jawa Tengah justru hanya akan memberinya panggung.


Sebaiknya biarlah hukum yang bekerja. Ada pasal dan aturan hukum yang dapat dipakai untuk menjeratnya. Laporkan saja, dan biarlah itu berproses secara alamiah.


Bukankah kalimat : "Mereka bunuh rakyat papua, injak-injak harga diri bangsa Papua dgn kata-kata rendahan Rasis, monyet & sampah" adalah tuduhan serius?


"Kepada siapa?"


Bukankah kalimat bermakna tuduhan itu terletak dibelakang kalimat : "Jangan percaya org Jawa Tengah Jokowi & Ganjar?"


Mereka adalah kata ganti majemuk. Lebih dari satu orang. Dalam kalimat itu bisa sebagai kata ganti bagi orang Jawa Tengah, atau Jokowi dan Ganjar sebagai orang Jawa Tengah. Siapa pun subyek yang dimaksud Pigai, seharusnya tak mungkin di luar dari dua kemungkinan itu.


Artinya, salah satu dari dua subyek itu telah telah dituduh melakukan pembunuhan rakyat Papua, injak-injak harga diri bangsa Papua, dengan kata-kata rendahan Rasis, monyet & sampah.


Bila benar seperti itu, seharusnya tak butuh ahli tata bahasa hingga bergelar profesor demi pembuktian sederhana tersebut. Itu sudah terlihat telanjang.


Dalam kalutnya dia kini justru terlihat main tabrak dengan ingin melaporkan banyak pihak seperti Sri Sultan, Risma hingga Luhut yang tak ada kaitan tampak terhubung.


Pada perkara ini, Pigai tidak serta merta mewakili rakyat Papua meski dari mulutnya selalu terdengar suara itu. Seperti berasal dari out of space, suaranya justru terlihat asing dan aneh bagi banyak saudaranya yang kini justru sedang menari dan bernyanyi dalam gembira pada pesta meriah PON XX.


Adakah mungkin dia marah karena sedang dalam kondisi jobless tapi tak turut dilibatkan dalam moment pesta meriah yang baru sekali terjadi dalam 76 tahun Indonesia merdeka di tanahnya padahal di sisi lain dia MERASA bahwa dialah satu-satunya orang Papua yang paling mendunia?


Dia merasa marah dan tersinggung tak dibuat terlibat di sana?


Apa pun sebab dari kemarahannya, dia tak pantas bersembunyi di balik rakyat Papua. Tak ada pasal bahwa atas nama bangsa apa pun boleh berucap seperti itu.


Kabarnya akan ada laporan terhadap dirinya. Proses penyelidikan dan penyidikan adalah wewenang aparat Kepolisian. Bila memenuhi unsur, proses penuntutan akan dilakukan oleh Jaksa dan kemudian sidang di pengadilan akan menyusul dan itu adalah cara paling elegant yang harus dilalui demi terang sebuah perkara hukum.


Biarlah itu terungkap dalam proses peradilan yang obyektif. Tak ada guna kita berdebat atas perkara ini. Bukankah tak pantas bila kita justru ribut saat di rumah kita sedang pesta?


Torang Bisa...
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel

TAG TERKAIT :
Natalius Pigai Pigai Natalius Pigai Tukang Hoaks Natalius Pigai Tukang Nyinyir Natalius Pigai Tukang Bohong

Berita Lainnya