Opini

Revolusi Mental dan Etika Politik Jokowi

Indah Pratiwi - 13/10/2021 17:17
Ditulis Oleh : Agung Wibawanto
FOKUS : Jokowi

Berpolitik dengan santun merupakan etika politik utama yang harus dipahami. Ada tiga falsafah yang diutarakan oleh Presiden Jokowi sebagai pegangan hidupnya. Pertama, “Lamun sira sekti ojo mateni –meskipun kamu sakti jangan suka menjatuhkan.” Kedua, “Lamun sira banter aja ndhisiki –meskipun kamu cepat jangan suka mendahului.” Dan ketiga, “Lamun sira pinter aja minteri –meskipun kamu pintar jangan sok pintar.”Jokowi dikenal sebagai orang yang “irit bicara” baik terkait apa yang akan dilakukannya, maupun dalam hal merespon “serangan” lawan politiknya. Seperti dalam perencanaan pembangunan infrastruktur, ia hanya bicara singkat di awal, dan tiba-tiba saja sudah ada jalan TOL, jalan perintis di pedalaman, pelabuhan, bandara, bendungan, PLTB, pos perbatasan, dan sebagainya.


Ambil contoh lagi soal revolusi mental. Banyak orang bertanya dan mengkritik, seperti apa implementasinya? Tidak ada instruksi, tidak ada pengarahan, tidak harus begini dan tidak harus begitu. Agar masyarakat Indonesia mulai usia anak-anak, dewasa hingga lanjut usia, semakin mengenal Indonesia, bangga dan cinta tanah air, Jokowi di setiap kunjungan kerjanya, baik di daerah dalam negeri maupun luar negeri, selalu bicara mengingatkan Pancasila, pulau dan suku, jenis kekayaan alam, dan sebagainya yang berbau nusantara. Begitu juga merubah kebiasaan acara resmi dengan nuansa budaya, pakaian adat. Bersikap sederhana dan membumi (dekat dengan rakyat kecil). Melaporkan setiap hadiah pemberian kepada KPK, dan sebagainya.

Tanpa banyak orang sadari, sesungguhnya Jokowi sedang menunjukkan atau mencontohkan revolusi mental. Ia mengajak tidak dengan kata-kata tapi dengan tindakan. Tidak berkesan menggurui. Bagi Jokowi, perencanaan tidak perlu digembar-gemborkan, yang terpenting eksekusi, “Jika sudah tahap eksekusi ya tidak ada yang lain selain kerja dan berbuat. Jika perlu ke lapangan untuk selalu dicek. Kalau tidak begitu suka molor. Kelemahan kita selama ini pada implementasi,” begitu yang pernah disampaikan Jokowi kepada media. Ia juga percaya bahwa bicara hanya menghasilkan alasan, dan kerja menghasilkan sesuatu. Bagaimana pula Jokowi merespon setiap kritikan? Mulai dari kritik ringan sampai yang berat, ataupun terhadap isu-isu yang menjadi viral? Prinsipnya, Jokowi enggan meladeni soal-soal yang menurutnya tidak terlalu penting, “Kritikan tentu diperlukan agar ada kontrol, pengawasan dan terjadi keseimbangan. Kalau rumor atau gosip buat apa diladeni sih? Nanti kan hilang sendiri,” komennya.

Bagi awam mungkin bikin gregetan jawaban ini.Seperti diketahui, sejak mencalonkan diri sebagai Cagub di DKI Jakarta 2012 lalu hingga sekarang, banyak sekali isu-isu miring yang menerpa Jokowi. Mulai dari PKI, keturunan china, bukan muslim, boneka partai, tidak tegas, diktator, antek asing aseng dan masih banyak lagi isu-isu yang bila pendukungnya membaca dan mendengarnya saja bisa bikin merinding dan panas telinga. Yang sewot malah pendukungnya. Tokoh yang suka menyindir dan sinis hingga bicara keras secara terbuka di hadapan publik pun tidak main-main. Mulai dari Wakil Pimpinan DPR RI yang sangat vocal membuat berita negatif kepada Jokowi (tau kan siapa? merekalah si kembar FZ dan FH). Ada pula Ketua Partai, Tokoh Agama, Pengurus Ormas, mantan Presiden, mantan calon Presiden, hingga dari kalangan organisasi mahasiswa. Jokowi pun dikenal sebagai media darling. Orang yang selalu dikejar-kejar, diikuti setiap langkahnya dan dinantikan komentarnya.

Entah ya, padahal Jokowi berbeda dengan politisi ataupun orang-orang yang basisnya suka eksis dengan mengobral omongan. Mungkin hampir bisa dihitung berapa kalimat yang dia ucapkan ke publik. Itu pun karena beliau ditanya, dan jika tidak buat apa ngoceh gak karuan? “Semakin sedikit ngomong, makin ditunggu komen-komennya. Secara dia orang nomer satu di republik ini. Apa yang dikatakan meski dikit bisa dipastikan viral. Dan komennya itu kadang tidak terduga, kadang juga ndagel (lucu)…,” demikian pendapat seorang rekan jurnalis yang saya kenal. Namun ia menambahkan, Jokowi bukannya sombong di kala senggang malah kerap bercanda dengan awak media.Narasi yang agak panjang yang sering dibuat Jokowi adalah saat mem-posting info aktivitas di akun facebooknya. Perhatikan konten di setiap postingannya. Tidak pernah sekalipun berkata buruk untuk orang lain.

Dalam dunia jurnalistik disebut good news. Jarang lho ada warga net yang konsisten tidak ngomongin keburukan orang lain, tidak menyindir-nyindir, tidak baperan. Selalu optimis dan positif bahkan kadang memotivasi dan memberi semangat.Pada prinsipnya, Jokowi tidak pernah mau secara sengaja mempersiapkan jawaban terhadap isu-isu miring yang menimpanya. Hampir jarang Jokowi menggelar konpres. Tapi pastilah ia sadar saat bertemu wartawan yang mengikuti aktivitasnya, pertanyaan-pertanyaan tajam nan memancing akan diterimanya. Semua jawaban Jokowi di hadapan jurnalis adalah spontan. Tanpa dibuat-buat.

Jokowi sepertinya orang yang sangat mengerti akan posisinya. Tidak perlu dengan nuansa formil, namun sering kali orang menganggap yang disampaikan Jokowi adalah serius. Contoh, masih ingat cuitan Si Mantan yang dikenal dengan #SayaBertanya? Jokowi hanya menjawab, “Kalau semua orang bertanya ke Kapolri dan Presiden, trus saya bertanya ke siapa?” Sangat diplomatis tapi ringan dan mudah dipahami pesan yang ingin disampaikan. Perhatikan pula saat Jokowi menjawab “pancingan” media yang kadang kerap memanas-manasi, soal “kartu kuning” dari Ketua BEM UI beberapa waktu lalu. Alih-alih marah, terpancing pun tidak. Justru jawaban yang muncul sangat tidak terduga, “Ya yang namanya aktivis muda ya namanya mahasiswa dinamika seperti itu biasalah. Saya kira ada yang mengingatkan itu bagus sekali,” ungkap Presiden. Tidak ada rasa menyesalkan, kecewa, prihatin apalagi tersinggung. Seperti biasa jawaban pendek dan tenang. Jawaban tersebut sepertinya tidak membuat media puas, kembali ditanyakan bagaimana dengan kritik BEM UI terhadap masalah gizi buruk di Papua? “Mungkin nanti ya, mungkin nanti saya akan kirim semua, ketua dan anggota di BEM untuk ke Asmat, dari UI ya,” tambah Presiden. Jawaban cerdas. Pecah!

Jawaban ini tidak pernah diduga sebelumnya baik oleh media maupun masyarakat awam. Banyak yang mengatakan bahwa jawaban Jokowi sangat cerdas dan mampu memukul balik secara telak kepada pengritiknya. Tentu saja jagad media sosial dan online dibuat heboh dan menjadi perdebatan yang seru, trending topic pokoknya. Jawaban ini pula dijadikan semacam model jawaban dari Kadrun yang kesannya nyinyir dan sok tau. Itulah etika politik dari seorang Jokowi yang kadang terlihat lemah tak berdaya, namun terkadang pula lihai membalikkan keadaan memojokkan pengritiknya. Tidak banyak tokoh yang mampu menahan diri seperti yang dilakukan Jokowi.

Menahan diri di sini bukan bermakna diam, melainkan tidak terpancing dengan gaya permainan lawan namun tetap berpikir cara mematahkannya tapi tanpa perlu melukai perasaannya.Cara mematahkan ala Jokowi bukan dengan siaran pers pakai marah-marah ataupun curhat dan baper di medsos. Beliau orang Jawa yang kerap segala sesuatu ditunjukkan melalui simbol. Tanpa banyak bicara, Jokowi sering menunjukkan itu. Bagi yang mengerti pastilah tahu. Jawabannya selalu positif, artinya tidak menyerang balik si nyinyir dan apa lagi menggunakan pilihan kata yang negatif. Bertutur pelan nyaris hati-hati dengan wajah kalem.

Mungkin Jokowi begitu meresapi ajaran Mahatma Gandhi yang mengatakan, “Pertama, orang akan mengabaikan dirimu. Kedua, orang akan mentertawakan dirimu, dan. Ketiga, orang mulai emosi kepadamu, dan pada saat itulah kamu menjadi pemenangnya”. Juga, dia lebih percaya bahwa menyalakan lilin lebih baik ketimbang mengutuk kegelapan. Inilah yang ingin disampaikan Jokowi, etika politik dimulai dengan revolusi mental.
Nb: Saya sendiri harus banyak belajar sabar dan ikhlas…

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

TAG TERKAIT :
Jokowi Penghina Jokowi Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku Jokowi Orang Jujur Pembenci Jokowi

Berita Lainnya