Opini

Jauh Ganjar dari Jokowi

Indah Pratiwi - 22/10/2021 15:11
Ditulis Oleh: Pepih Nugraha

Ada pepatah lama mengatakan “jauh panggang dari api” yang bermakna, “tidak sesuai yang diharapkan”. Bagaimana kalau ada kiasan politik “jauh ganjar dari jokowi”? Semoga tidak ada yang tersakiti. Namanya juga kiasan atau peribahasa yang suka membuat perbandingan ekstrem.

Terbacalah hasil survei Litbang Kompas terbaru yang menyebutkan, elektabilitas Ganjar Pranowo sudah menyamai Prabowo Subianto yang sejak dua tahun terakhir menjuarai perelektabilitasan di Tanah Air. Skor keduanya berada di angka sama, yaitu 13,9 persen, sedangkan di bawahnya ada Anies Baswedan di angka 9,6 persen.

Kemudian di bawah ketiga nama ini tersebutlah: Ridwan Kamil (5,1 persen), Tri Rismaharini (4,9 persen), Sandiaga Uno (4,6 persen), Basuki Tjahaja Purnama (4,5 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (1,9 persen), Mahfud MD (1,2 persen), dan Gatot Nurmantyo (1,1 persen).

Satu-satunya nama perempuan yang terjaring survei Litbang Kompas adalah Tri Rismaharini yang mengatasi Sandiaga, Ahok, AHY, Mahfud MD dan Gatot Nurmantyo. Mengapa hanya Risma yang terjaring, kemana perempuan lainnya? Mengapa nama Muhaimin Iskandar dan Airlangga Hartarto yang getol pasang baliho tidak muncul? Jangan tanya saya, tanya saja si pembuat survei!

Kelak jika tiga bulan ke depan survei dengan metoda yang sama dilakukan lagi, besar kemungkinan Ganjar sudah berada di puncak, mengatasi Prabowo dan Anies.

Apa makna angka elektabilitas ini bagi nama-nama yang terjaring survei? Anugerah tentu saja, sebab setidak-tidaknya nama-nama itu menggambarkan (sebutlah cermin) para politikus yang akan berlaga di Pilpres 2024.

Bagi yang elektabilitasnya tinggi, harapan menjadi pengganti Jokowi sudah di depan mata dan ingin Pilpres segera dilaksanakan esok hari. Bagi yang elektabilitas rendah alias “Baskom” (barisan satu koma), segera menggerutu, bahkan tidak percaya survei-survei semacam itu. Mereka masih percaya jagoannyalah yang bakal jadi Presiden. Ukurannya apa, mbuh lah!

Harus diakui, suka atau tidak, preferensi publik saat ini jatuh ke gubernur Jawa Tengah itu, di luar bahwa kelak ia dimajukan partainya sendiri atau partai orang lain. Boleh dikata, diusung oleh Partai Sandal Jepit pun Ganjar tetap berpeluang besar.

Tetapi, benarkah Ganjar representasi atau kelanjutan dari Joko Widodo alias Jokowi yang kini Presiden RI?

Boleh jadi plesetan peribahasa tadi, “jauh ganjar dari jokowi” menemukan pembuktiannya.

Hasil riset sebelumnya yang dilakukan The Republic Institute terbaru yang menempatkan Ganjar pilihan masyarakat Jawa Timur sebagai calon presiden paling moncer, mengungkap alasan mengapa warga Jatim memilih Ganjar, padahal Ganjar bukan warga Jatim.

Sufyanto, direktur lembaga survei itu menjelaskan sebab-musabab elektabilitas Ganjar tinggi di Jatim, karena menurutnya sosok Ganjar yang merakyat. Sosok Ganjar juga diidentifikasi memiliki kemiripan dengan Jokowi selaku Presiden RI.

“Tampak bahwa Ganjar sangat mendominasi dari sisi elektabilitas. Hal ini terjadi karena Ganjar diidentifikasi oleh masyarakat Jatim sebagai sosok yang memiliki kepribadian dan jiwa kepemimpinan seperti Jokowi,” katanya.

Selain itu Sufyanto menyebutkan, tingginya suara Ganjar juga disebabkan karena orangnya low profile, yang tidak ditemukan pada calon presiden yang lain.

Low profile mungkin benar, tetapi ada beberapa hal yang mungkin masih jauh bila Ganjar dilekatkan begitu saja dengan Jokowi, yang boleh jadi bakal menjadi batu sandungannya.

Pertama, masyarakat Jateng sendiri terbelah sedemikian rupa sehingga ada yang “okay” dengan Ganjar dan “tidak okay”. Mengingat Jateng adalah kandang Banteng dan Solo sebagai basisnya, maka keterbelahan ini tidak dapat diabaikan. Ia akan menjadi “toa” yang kurang menguntungkan buat Ganjar di tataran nasional.

Hal ini tidak terjadi pada Jokowi yang saat dimunculkan sedang memegang jabatan Gubernur DKI (head to head dengan Ganjar sekarang), bedanya warga DKI menyambut antusias tanpa keterbelahan yang jembar.

Kedua, saat Megawati Soekarnoputri menetapkan Jokowi sebagai capres, di kandang Banteng belum ada preferensi capres sendiri. Kala itu Megawati tahu diri kalau memaksakan diri, sosok lain belum membayang, Puan masih “jauh panggang dari api” dalam arti yang sebenarnya.

Sekarang di saat Ganjar populer, tetapi ini tidak membuat kandang Banteng dan Megawati “happy”. Ada Puan yang sudah dianggap dewasa dan dianggap “tepat waktu” untuk dipanggungkan, digadang-gadang sebagai bakal capres, tidak peduli namanya belum nongol di survei Litbang Kompas kemarin sekalipun.

Intinya, jalan Ganjar tidaklah semulus Jokowi dalam hal pencalonan di kandang Banteng. Apalagi Ganjar kini dianggap atau distigmakan berada di kandang Celeng.

Ketiga, saat Jokowi dicapreskan, yang bersangkutan dikesankan sebagai sosok bersih dan merakyat. Tidak ada sangkut-paut dengan lembaga rasuah KPK, polisi atau jaksa untuk kasus kriminal lain, misalnya. Bukan mengecilkan Ganjar, coba ingat-ingat lagi peristiwa saat Ganjar harus bolak-balik berurusan dengan KPK untuk kasus e-KTP.

Memang tidak ada kelanjutannya, tetapi realitas politik mengatakan, kalau kasus ini diteruskan, bukan hanya Ganjar yang terseret, ada banyak politikus besar Senayan yang bakal menyesaki terungku KPK, yang disebut-sebut menerima dollar yang jauh lebih besar dibanding Ganjar.

Itu sebabnya kandang Banteng atau elite partai lainnya tidak berani membuka “kartu ace” dengan mengarahkan tudingan ke Ganjar sebagai “tidak bersih”, sebab empat jari lainnya kemungkinan bisa berbalik, bakal muncrat ke muka sendiri.

Keempat, melihat hasil kerja Ganjar di Jateng dengan hasil kerja Jokowi di DKI, sangat jauhlah. Keluhan warga Jateng bahwa jalanan macet, dibiarkan berlubang-lubang, infrastruktur memble menjadi indikasi utama mengapa Ganjar tidak semoncer Jokowi di saat memegang amanah sebagai kepala daerah.

Di luar itu semua, popularitas dan elektabilitas yang tinggi yang Ganjar miliki saat ini hingga ke depannya nanti, adalah modal besar baginya untuk melangkah menuju gelanggang Pilpres 2024, yang sejatinya membuat “ngiler” para politikus lainnya, yang saya sebut kaum “Ngebeters” itu.

Sejujurnya, preferensi publik sulit dibendung, meski dengan melekatkan stigma buruk kepada Ganjar sekalipun.

(Sumber: Facebook Pepih Nugraha)

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Ganjar Ganjar Pranowo Jokowi Dan Ganjar

Berita Lainnya