Opini

Nasehat Buat Felix Siauw : Toleransi Tidak Sebatas Makan Bersama Saat Hari Besar

Indah Pratiwi - 27/12/2021 19:20
Ditulis Oleh : Agung Wibawanto

Saat Natal, Felix Siauw yang mualaf dan berasal dari keluarga Katolik memposting acara makan bersama keluarga di akun ig nya. Sebuah momen spesial, yang mungkin juga sama dirasakan oleh keluarga lain yang berbeda-beda keyakinan. Tentu sangat ‘kiyut’ membayangkan kegembiraan dalam keluarga seperti itu. Saya bukan bagian keluarga tapi turut senang dan berbahagia.Setengah berpikir dan takjub juga, mengapa Felix bisa menerima dan ikut dalam kegembiraan Natal di keluarganya? Tidak takut dibilang kafir dan dosa oleh kelompoknya sendiri? Nek bosone, “Lha gene…?”


Dia sendiri gak mempermasalahkan acara perayaan yang merupakan budaya sebuah keluarga. Felix pun menulis bahwa dirinya tidak dipersekusi oleh keluarganya. Felix mengaku merasakan ketenangan. Ia menilai keluarganya juga merasakan kenyamanan yang sama. Ia menuliskan, “Ada yang persekusi saya? Nggak. Ada yang bilang saya nggak toleransi karena ga bilang “selamat natal”? Nggak. Ada yang bilang radikal karena saya sangat yakin agama saya benar? Nggak,” tulisnya lagi. Ya patut disyukuri bahwa keluarganya yang minoritas justru bisa bersikap dewasa, mengutamakan kebersamaan dan tidak ingin terjadi perpecahan hanya karena beda keyakinan.

Sayangnya kemudian dia membandingkan apa yang diterimanya dari masyarakat (utamanya netizen). “Tapi diluar sana. Mereka yang mendapuk diri kaum paling toleran. Justru paling lacur lidahnya, paling keras permusuhannya, paling anti dengan perbedaan, padahal masih beda dalam agama sendiri. Lu ngomongin toleransi yang mana?” ungkapnya lagi. Waduh, ustadz kok bicaranya gitu ya? Pahami dululah kritik masyarakat terhadap kaum radikal itu seperti apa? Awalnya sih saya sudah cukup simpatik atas postingannya, namun di akhir tulisannya membuat rasa itu menjadi hilang seketika. Sangat disayangkan jika keluarganya yang diakuinya sebagai pecinta penista agama (BTP), mau menerima Felix, namun dirinya tidak melihat itu sebagai anugerah yang harus disyukuri, tapi justru terus menyalahkan masyarakat.

Catatan saya begini lah. Felix dan kelompoknya (kaum fundamentalis) harus menyadari bahwa perbedaan seperti dalam keluarganya sendiri itu sangat indah, tenang dan damai. Bisa saling menjaga kata-kata, membatasi topik yang dibahas dll. Jika dia bisa bersikap seperti itu di keluarganya, kenapa tidak bisa bersikap yang sama kepada masyarakat? Apalagi kepada para pemimpinnya sendiri, Presiden Jokowi (yang selalu ia cerca dan maki)? Perlakukanlah orang lain seperti kamu berperilaku di dalam keluargamu. Sayangi dan hormati orang lain seperti kamu kepada keluargamu. Jika itu bisa kamu lakukan maka segalanya akan indah dan damai. Contoh soal ‘tidak mengucap selamat natal’, itu terserah pribadi masing-masing saja, sepanjang tidak memaksa atau melarang muslim lain mengucapkan selamat natal. Itu soalnya. Itu kritik masyarakat kepadanya.

Tidak cukup dengan melarang-larang, kamu tambahkan bahwa hal itu menunjukkan seorang kafir, haram, dosa dan neraka ganjarannya. Atas paksaanmu itu membuat pertentangan di kalangan masyarakat yang sudah sekian tahun adem ayem, itu soalnya. Bagi masyarakat muslim sendiri memang tidak pula diharuskan mengucapkan selamat natal, kembali terserah masing-masing. Kan beda jika disampaikan demikian? Lebih adem. Kelompok Felix dkk pakai melarang-larang bahkan ditambah bilang kafir dsb, sedang muslim lain mengatakan “tidak mengharuskan”. Saya yakin kaum Nasrani sendiri juga tidak terlalu mempermasalahkan apakah mendapat ucapan selamat Natal atau tidak dari siapapun. Mereka tidak menuntut itu. Tapi jangan melarang-larang orang yang mau mengucapkan, bahkan melarang mengenakan atribut natal.

Jika itu keyakinanmu ya silahkan, tapi jangan memaksa orang lain untuk mengikuti.Jika ingin ditarik lebih jauh lagi, hal ini terkait dengan perbedaan tafsir atas aqidah yang sesungguhnya sumbernya sama yakni Al Qur’an. Alim ulama dan pemuka agama, ahli tafsir, sekelas Quraish Shihab mengatakan sudah qodratnya berbeda-beda ya silahkan tidak apa-apa. Berbeda adalah keniscayaan meski bersumber yang sama, namun jangan dipaksakan hingga kamu harus menyakiti saudara dan kaum mu sendiri. Yang terpenting lagi, aqidah kita masing-masing. Mengucapkan natal tidak kemudian menjadikan saya seorang Nasrani.

Sama juga dengan mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri tidak akan mengubah kaum lain menjadi Islam. Ini sekadar menunjukkan sikap toleransi bahwa kita ikut senang jika ada orang lain senang. Sebaliknya kita ikut bersedih jika kabar duka menimpa orang lain, meski berbeda latar belakangnya.Jangan dibalik-balik, senang lihat orang susah, dan susah jika melihat orang senang. Toleran tidak sebatas bisa makan bersama dalam keluarga meski berbeda agama. Toleran itu sikap dan rasa saling hormat dan menghargai perbedaan antar sesama secara konsisten dan konsekuen. “Lix, elu sendiri ngemeng toleran yang mane? Toleran gak cuma ame keluarga, dan gak pas ciak doang, paham gak?” Maaf, saya hanya menjawab pertanyaannya saja.

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

TAG TERKAIT :
Toleransi Toleransi Beragama

Berita Lainnya