Opini

Negara Melindungi Keberagaman

Indah Pratiwi - 10/01/2022 10:12
Oleh: Erizeli Bandaro

Saya pernah naik pesawat ketika bulan puasa. Ketika waktu pembagian makanan di pesawat saya menolak karena alasan saya sedang melaksanakan kewajiban agama , yaitu puasa. Dengan penuh hormat, pramugari itu minta maaf. Tak berapa lama captain cabin datang ke tempat duduk saya dan meyakinkan saya bahwa dia akan memastikan tepat buka puasa makanan akan terhidang. Dan dia persilahkan saya melanjutkan tidur.

Benarlah ketika waktu buka puasa, saya di bangunkan. “ Apa lagi yang anda inginkan untuk buka puasa? Kata pramugarin setelah menghidangkan buka puasa. Begitu ramahnya melayani saya buka puasa. Padahal saya tidak berharap berlebihan. Air minum saja ok. Saya maklum, saya minoritas di pesawat ini. Mengapa begitu pedulinya mereka? standar kepatuhan bagi perusahaan yang sudah listed di bursa hong kong, salah satunya menghormati kewajiban beragama.

Pernah juga ada pengalaman ketika saya pesan makanan di restoran. Saya sudah tegaskan bahwa saya tidak makan babi atau turunannya dan ini saya tegaskan ketika menanyakan menu nasi goreng plus meat ball. Tapi ketika menu dihidangkan, saya perhatikan bahwa dalam nasi goreng itu ada babi. Saya tanya kepada waitress dan dia dengan santai mngatakan semua nasi goreng disini ada babinya. Saya tidak marah. Saya hanya tersenyum. Menghentikan makan. Saya pesan bubur ayam saja.

Tapi di sebelah saya yang mendengar itu langsung protes kepada waitress itu. Karena dia dengar sendiri bahwa saya tidak makan babi. Padahal di sebelah saya itu bukan muslim dan sama ras dengan waitress itu. Tak berapa lama manager datang menemui saya, dengan segala hormat dia minta maaf. Berkali kali dia menundukan kepala tanda hormat dan maaf. Saya terima.

Apakah masalahnya selesai. Belum. Tak berapa lama datang Polisi, mendatangi pegawai restoran. Polisi bersama satpam mendatangi meja makan saya. Menuru polisi ada laporan dari pengunjung restoran bahwa saya diperlakukan rasis dan tidak menghormati agama saya. Belum sempat saya jawab, orang yang duduk disebelah saya mengiyakan dan dia yang lapor. Manager restoran nampak takut sekali. Karena ancamanya bisa ditutup restoran itu kalau mereka melakukan rasis karena perbedaan agama atau warna kulit.

Tapi dengan tersenyum saya mengatakan bahwa saya sudah memaafkan dan mohon agar masalahnya selesai. Polisi itu berkali kali menegaskan akan hak saya untuk menuntut berdasarkan UU hongkong. Tapi saya tetap dengan sikap saya yaitu memaafkan.

Apa yang dapat saya katakan dari pengalaman saya itu bahwa bangsa yang sudah maju peradabannya dan sangat menghormati agamanya tentu mereka juga sangat menghormati agama orang lain. Engga perlu lah pakai label Haram/Halal. Bukan mempermasalahkan apakah agama orang itu salah atau benar, atau kafir kafar tapi semua agama mengajarkan cinta dan menghormati orang yang berbeda itu adalah pesan cinta dari Tuhan.

(Sumber: Facebook DDB)

TAG TERKAIT :
Toleransi Toleransi Beragama

Berita Lainnya