Opini

The Next President, Mampukah Menyamai Jokowi?

Indah Pratiwi - 14/01/2022 10:10
Ditulis Oleh: Ayumi Lestari
FOKUS : Jokowi

Pemilihan umum Presiden masih 2 tahun lagi. Tapi para relawan, pendukung, supporter PARA calon sudah menggaungkan jagoan mereka masing masing. Di dunia media sosial, kita sudah banyak melihat para garis keras pendukung calon tertentu yang aktif memperkenalkan pilihan mereka.

Perkembangan global teknologi informasi & komunikasi telah memicu pertumbuhan komunikasi dunia maya. Dari pemerintahan, kelembagaan, bisnis, dan kalangan masyarakat tidak bisa lepas dari kebutuhan teknologi informasi dan komunikasi ini. Media sosial ini juga dipakai oleh tokoh politik luar negri maupun di Indonesia untuk memfasilitasi orang agar lebih mengenal mereka.

Medsos memang sangat efektif dan cepat agar orang lebih mengenal orang lain. Lewat media sosial, para tokoh politik menaikkan popularitas dan elektabiltas dirinya. Inilah creative champaign!

Walau ajang pemilihan umum sendiri masih lebih dari 24 bulan mendatang, kita sudah mendengar gaung-gaung para suppoter tokoh politik tertentu wira-wiri menghiasi segala ruang publik media. Dari obrolan warung kopi nama yang paling sering terdengar adalah 3 gubenur, Ganjar Pranowo dari Jawa Tengah, Ridwan Kamil dari Jawa Barat dan tentu saja gubenur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Anies Baswedan.

Ketiga Gubenur ini memang aktif dan mempunyai relawan militan yang tidak kaleng–kaleng di media sosial. Para relawan berusaha memperkenalkan tokoh pujaan pilihan mereka sebagai calon RI 1. Sebagai orang awam yang minim pengetahuan politik, rasanya ketiga nama ini yang diperkirakan orang yang maju mengikuti kontestasi 5 tahunan ini.

Setiap membuka kolom politik, pasti nama mereka hadir. Mungkin karena presiden kita hari ini, dulunya pernah menjabat menjadi seorang gubenur. Dia menang di pemilihan presiden dua kali serta menghasilkan banyak karya nyata, baik sewaktu menjabat gubernur maupun presiden.

Ketiga gubernur yang kini bersaing, adalah gubenur kekinian yang sadar teknologi. Bila butuh satu kata untuk untuk mendeskripsikan mereka, bisa jadi yang muncul kata “Blusukan” untuk bapak Ganjar Pranowo, “Romantis” untuk Ridwan Kamil, dan “212” untuk Anies Baswedan.

Secara karya dan kebijakan, sebenarnya belum banyak terdengar karya atau kebijakan mereka yang bermanfaat untuk orang banyak. Main policy seorang pejabat publik seharusnya kesehatan, pendidikan dan kemudahan administratif. Indonesia yang besar ini, terdiri dari ribuan pulau, ratusan etnis, budaya dan suku. Tidaklah cukup hanya dengan blusukan, romantis dan patung bambu senggama. Oops!!!! Kita butuh paket komplet yang bisa mengatasi problema dengan kerja nyata.

Dalam pemilihan presiden 2024, sudah selayaknya Presiden Jokowi menjadi standart. Banyak hasil kerja nyata yang sudah tercipta oleh mantan tukang kayu yang di anggap klemar klemer ini. Coba deh ketik di Google hasil kerja nyata Presiden kita yang seabrek abrek… mulai dari infrastruktur yang mengagumkan dari Sabang sampai Merauke, kebijakan BBM satu harga sabagai perwujudan sila kelima Pancasila, komitmen memberantas radikalisme, belum lagi prestasi-prestasi yang diakui dunia. Namanya bahkan diabadikan menjadi nama jalan di Uni Emirat Arab. Beliau juga yang membuat PT Freeport kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Keren kan? Ternyata Presiden kita wajah Hello Kitty, dalamnya Rambo.

Memang kepemimpinan beliau juga masih ada kekurangan yang menjadi PR kita bersama. Tapi beliau jelas sudah menciptakan standart nilai dan etos kerja seorang pemimpin. Beliau sudah teruji ketika badai pandemi datang. Ketika banyak negara menyerukan lockdown, beliau mengambil sikap lebih halus untuk mengakomodasi berbagai kepentingan, dan membela rakyat kecil. Pemberian vaksin gratis adalah wujud kerja nyata untuk pemerataan kesehatan dan mengatasi penyebaran virus corona.

Presiden Jokowi membuat kita memasang bench mark yang tinggi untuk the next president. Kita pun mengharapakan presiden mendatang paling tidak 11-12 dengan Presiden Jokowi. Lebih baik lebih bagus. Kita berharap di sisa 2 tahun ini barangkali gubenur-gubenur kekinian tersebut bisa membuat gebrakan nyata yang bermanfaat. Paling tidak mempercantik profile untuk maju ke pemilihan presiden.

Rasanya pekerjaan rumah pak presiden tidak akan selesai dalam 2 tahun ini. Masih ada proyek Ibu Kota Negara, infrastruktur yang masih berjalan dan kebijakan lainnya. Di antara kita mungkin ada yang berharap paling tidak beliau bisa 3 periode. Ada ketakutan jika beliau digantikan, legacy dan kebijakan beliau akan mangkrak.

Barangkali jika presidennya bukan Jokowi, jalan tol akan dihiasi patung bambu dengan alasan indah dan seni. Mungkin juga akan dibuat lubang biar air hujan turun ke dalam tanah. Atau gebrakan baru, jalan tol warna warni.

Masa jabatan presiden diatur dalam UUD 1945 Pasal 7. Bahwa, “Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama , hanya untuk satu kali masa jabatan”. Dalam hal ini, presiden yang sudah menduduki masa jabatan dua periode tidak dapat dipilih kembali atau diperpanjang. Kecuali, terdapat perubahan pada UUD 1945 yang mengatur tentang kekuasaan pemerintah, khususnya masa jabatan presiden.

Presiden Jokowi sendiri sudah menolak untuk perpanjangan jabatan presiden. Beliau memahami bahwa amendemen UUD 1945 adalah domain dari MPR. Sedangkan sikap politik beliau berdasarkan kesetiaan kepada UUD 1945 dan amanah reformasi 1998. Pasal 7 UUD 1945 amendemen pertama, merupakan masterpiece dari gerakan demokrasi dan reformasi 1998.

Namun Ketua Umum Relawan Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer, tetap mengusulkan agar masa jabatan presiden Joko Widodo diperpanjang 2 sampai 3 tahun mengingat kondisi pandemi yang membuat pemerintahan Jokowi tidak maksimal bekerja untuk rakyat. Menurunya durasi jabatan ditambah, berbeda dengan wacana presiden 3 periode.
Well… semua itu akan balik ke partai politik yang bermain. PKS sudah pasti akan konsisten menjadi oposisi. Demokrat yang masih berpengaruh kuat juga memiliki kepentingan untuk menaikkan putra mahkota AHY, sehingga akan menolak. Nasdem menolak wacana perpanjangan presiden dengan alasan berpegang pada aturan konstitusi, walau sesungguhnya mereka sudah merapat ke Anies Baswedan sejak pemilihan Gubenur DKI. Gerinda sendiri mungkin masih penasaran ingin Prabowo yang maju, mungkin dengan harapan sudah tiga kali maju, paling tidak dapatlah piring cantik.

Kecuali untuk PDIP. Bila Megawati di detik detik terakhir melakukan manuver yang orang tidak bisa tebak… entah apa yang terjadi. Politik memang kejam,

Hmm… rasanya perlu juga kita menaikkan putra terbaik bangsa kita yang masih tersembunyi. Di antara rakyat Indonesia yang berjumlah 272 juta, pasti banyak putra-putri bangsa yang bisa diandalkan untuk membangun negeri ini.

Sebenarnya selain 3 tokoh tersebut masih ada Dedi mulyadi dan Bima Arya.

Dedi Mulyadi dari partai Golkar sudah intens melakukan publikasi dan meraih simpati di media sosialnya dengan terjun langsung ke masyarakat. Namanya lebih dipilih oleh responden ketimbang ketua umumnya Airlangga Hartanto, yang kesandung kasus perempuan. Bima Arya mungkin masih jauh dengan senior-seniorny, tapai mungkin saja jadi kejutan secara dia cukup sukses di Bogor.

Yang jelas, Presiden yang terpilih dalam Pilpres 2024 nanti orang yang dapat menjalankan Pancasila dengan baik, memberikan legacy yang membanggakan, kebijakan kebijakan yang dibuat bermanfaat banyak untuk masyarakat. Indonesia tidak kekurangan orang pintar dan orang baik. Mereka ada, hanya kurang promosi. Mari kita munculkan orang orang yang berkualitas untuk menjadi permata dan aset bangsa. Yuk bisa yuk!!

TAG TERKAIT :
Jokowi Penghina Jokowi Jokowi Presiden Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku Jokowi Orang Jujur Jokowi Orang Tegas

Berita Lainnya

Menjaga NKRI

Opini 12/05/2022 14:05

Warisan Jokowi

Opini 07/04/2022 17:10