Opini

Kebencian Pada Joko Widodo

Indah Pratiwi - 14/06/2022 16:07
Ditulis Oleh : Sunardian Wirodono
FOKUS : Jokowi

Apakah hidup Anda, nilai Anda, ditentukan oleh medsos? Jika iya, berarti Anda termasuk dalam golongan orang kurang piknik. Hanya karena bangsa dan negara ini pernah dijajah oleh Soeharto, kita kemudian tidak siap menjadi bangsa yang baik dan benar, hanya karena mak-jegagik menggenggam gadget yang disebut smartphone. Phone-nya smart, pemiliknya bila-bila masa. Bukan hanya sekedar gaptek dalam arti gagap memfungsikannya, melainkan juga dalam mendayagunakan secara smart.


Bukan hanya awam, melainkan bahwa anggota parlemen dan para politikus yang entah kaya dari mana hingga punya smartphone mewah dan canggih, pun juga gaptek. Punya smartphone tapi korupsinya tetap manual. Bisa membeli perkakas berteknologi digital tapi menggunakannya secara analog. Kalaulah dia awam bisa dimengerti. Tapi jika ada sosiolog terlibat dalam sassus model medsos, mungkin ia menganggap medsos kependekan dari media sosiologi, atau bahkan media sosiolog.

Beberapa hari lalu di medsos, seorang sosiolog, tepatnya dosen sosiologi mengcapture dua foto Jokowi yang sedang pidato mengepalkan tangan. Tidak ingin secara langsung, dosen sosiologi itu mengatakan ekspresi kemarahan Jokowi lebih menggelikan daripada mengerikan. Kita yang awam akan ketawa dengan logikanya ketika membandingkan Jokowi dengan Soeharto, yang senyum tapi diam-diam tegas dan tega. Sayangnya kita tak dapat penjelasan dua foto yang dicapture itu foto kapan, di mana dalam konteks apa. Dan lebih sayang lagi, postingan itu sudah dihapus.

 

 

Bagaimana dengan foto-foto Jokowi ketika bertemu rakyat, apakah penuh kemarahan yang menggelikan? Apakah Jokowi masuk ke dapur penduduk di Ende itu hanya teater? Kita butuh pendewasaan untuk tidak sekedar dijawab dengan argumentasi defensif dan normatif seperti ‘jangan anti kritik’. Seorang akademisi mestinya proporsional, sebagaimana manusia awam dan lumrah pun juga mesti proporsional. Tapi seperti dalilnya sendiri, segala sesuatu memang hanya dipandang dari sudut kepentingan sing-masing.

Soal senang dan tak senang, sesuatu yang eksistensial secara psikologis. Dan hanya berbeda dalam bahasa yang dikenakan. Di situ, bukan saja agama, ilmu pengetahuan juga tak bisa menyelesaikan masalah. Hanya karena kita kehilangan empathy dan kindness. Dan selalu merasa gagah jika merasa benar sendiri. The world’s great men have not commonly been great scholars, nor its great scholars great men, tulis penyair AS abad 19, Oliver Wendell Holmes. Orang-orang

hebat di dunia umumnya bukan cendekiawan yang

hebat, atau para ulama yang

hebat. Itu sebabnya Indonesia ke depan lebih berharap pada anak-anak muda yang non politicking. Karena sebagaimana ujar Cale Yarborough, “Dont ever wrestle with a pig. Yout ever wrestle with a pig. Youll both get dirty, but the pig will enjoy it.” Metharjum with love! | Sunardian Wirodono III

TAG TERKAIT :
Jokowi Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku Jokowi Orang Jujur Jokowi Orang Tegas

Berita Lainnya

Seragam Sekolah

Opini 05/08/2022 18:22