Opini

Indonesia Menuju Generasi Emas

Indah Pratiwi - 10/08/2022 17:25
Oleh: Vika Klaretha Dyahsasanti

Indonesia diproklamirkan Soekarno-Hatta dalam kesederhanaan. Dunia dan juga Indonesia sedang prihatin usai Perang Dunia Kedua. Di tahun-tahun awal, Indonesia harus menghadapi perang kemerdekaan serta perjuangan mencapai pengakuan kedaulatan dunia. Setelah kedaulatan Indonesia diakui dunia, Indonesia pun dihadapkan masalah-masalah baru, mulai dari adanya pemberontakan dan gerakan-gerakan separatisme serta gesekan antara paham-paham politik di masyarakat.


23 tahun dari sekarang, tepatnya di tahun 2045, akan menjadi momentum bersejarah, karena saat itu Republik Indonesia akan genap berusia 100 tahun. Satu abad Indonesia. Akankah Indonesia menjadi negara berdaulat, maju, adil dan Makmur sebagaimana yang dicita-citakan? Atau justru terpuruk? Semuanya itu akan tergantung pada apa yang kita rintis dan kerjakan hari ini sebagai pijakan bagi generasi muda Indonesia di masa depan. Di tangan mereka inilah, masa depan dan nasib bangsa ini dipertaruhkan.

Mempersiapkan generasi masa depan ini kemudian menjadi salah satu alasan munculnya ide, wacana, dan gagasan Generasi Emas 2045. Generasi emas sendiri merupakan generasi yang mampu bersaing secara global dengan bermodalkan kecerdasan yang komprehensif, produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul. Pada dasarnya bibit-bibit unggul sudah ada dari sekarang. Kaum muda yang akan memimpin bangsa ini di tahun 2045 kelak.

Di tahun 2045 itu, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. 70 persen penduduk Indonesia berada dalam usia produktif. Bonus demografi ini akan berdampak buruk bila tidak dimanfaatkan dengan baik. Akan timbul banyak masalah sosial, seperti kemiskinan, kesehatan buruk, pengangguran, tingkat kriminalitas yang tinggi dan lain-lain. Namun ketika Indonesia berhasil membangun generasi mudanya, bonus demografi ini justru akan menjadi berkat dan nilai keunggulan bagi Indonesia di masa depan. Perlu rencana strategis dan kerja keras untuk mewujudkannya. Mengutip pidato Presiden Jokowi pada pelantikannya sebagai Presiden pada 2019, agar kita menjadi bangsa yang produktif dengan mengembangkan nilai-nilai dan cara-cara baru, membentuk rutinitas baru dan menjadikan inovasi sebagai budaya.

Di tahun 2019 lalu, Pemerintah telah berhasil menyusun Visi Indonesia 2045. Visi Indonesia 2045 ini sendiri merupakan kelanjutan dari gagasan Presiden Jokowi tentang “Impian Indonesia 2015-2085”. Visi Indonesia 2045 yang kemudian disusun, memberi gambaran mengenai wujud Indonesia pada tahun 2045 sekaligus cara mencapainya. Dimulai dengan melakukan identifikasi hasil pembangunan yang telah dicapai selama lebih dari 70 tahun Indonesia Merdeka.

Pembangunan di Indonesia mulai dilaksanakan secara menyeluruh dan berencana sejak tahun 1967. Hasilnya, pertumbuhan penduduk berhasil dikendalikan melalui program KB. Swasembada beras tercapai pada tahun 1984. Ekonomi Indonesia tumbuh tinggi sekitar 6,8 persen per tahun hingga datangnya krisis ekonomi di tahun 1997. Jumlah penduduk miskin yang mencapai 70 persen di awal tahun 70an berhasil diturunkan menjadi sekitar 11 persen pada tahun 1996. Pasca krisis ekonomi, era reformasi menitikberatkan pada pembangunan demokrasi dan desentralisasi. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,7 persen per tahun.

Di tahun 2045, penduduk dunia diperkirakan bertambah 2,1 miliar dibanding tahun 2015. 55 persen penduduk akan berada di Asia. Asia pun akan menjadi pendorong utama ekonomi dunia hingga lebih dari 50 persen, menjadi poros perdagangan dan investasi utama dunia. Perdagangan intra Asia meningkat dan investasi asing langsung antar negara berkembang berlanjut. Dominasi mata uang dunia bergeser menjadi multi currencies, tak hanya bertumpu pada Dollar AS. Secara singkat, di tahun 2045 peranan ekonomi Asia meningkat pesat. Bukan tak mungkin sebagai salah satu negara Asia, Indonesia menjadi salah satu motor utama ekonomi dunia bersama Cina yang diperkirakan menjadi pemain utama ekonomi masa depan sekaligus salah satu sumber keuangan utama dunia.

Namun dunia di tahun 2045 juga akan berhadapan dengan sejumlah masalah. Ketersediaan sumber daya alam (SDA) diperkirakan tidak mampu memenuhi kebutuhan permintaan meskipun teknologi akan meningkatkan efisiensi SDA. Tantangan pemanasan global semakin besar, baik berupa kejadian ekstrim maupun perubahan iklim jangka panjang. Kejadian ekstrim tak terduga serupa Pandemi Covid beberapa waktu lalu diperkirakan akan kerap melanda dunia. Geopolitik dunia akan diwarnai kerentanan di Kawasan Timur Tengah pada terorisme dan radikalisme.

Dari sini terlihat, tantangan 2045 bukan tantangan yang mudah, meski Asia diramalkan memegang peran kunci di dunia. Untuk menghadapi tantangan masa depan tersebut, Visi Indonesia Tahun 2045 kemudian disusun dengan empat pilar, yaitu: (1) Pembangunan Manusia serta Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, (2) Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, (3) Pemerataan Pembangunan, serta (4) Pemantapan Ketahanan Nasional dan Tata Kelola Kepemerintahan. Keempat pilar tersebut tentu saja dibangun di atas Pancasila dan UUD 1945.

Tak banyak yang sadar bahwa pembangunan kebudayaan menjadi salah satu unsur penting dalam membangun manusia dan penguasaan IPTEK. Untuk unggul di tahun 2045, bukan hanya taraf pendidikan yang harus ditingkatkan, tetapi terutama menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul dengan meningkatkan peran kebudayaan dalam pembangunan. Nilai-nilai luhur budaya bangsa dilestarikan, sebaliknya pandangan-pandangan yang dianggap kontraproduktif dan tidak humanis akan disesuaikan agar tak hanya adaptif dengan perkembangan peradaban, namun lebih jauh lagi, agar sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Dari sini jati diri bangsa Indonesia dan budaya bangsa tetap kokoh di tengah arus globalisasi. Bahkan mungkin menjadi rujukan bangsa-bangsa lain yang merindukan spiritualitas dan gotong royong sebagaimana akar budaya kita. Implikasinya apa? Masyarakat harus mulai didorong untuk menghargai dan mencintai kebudayaannya sendiri. Tak silau dengan budaya lain, apalagi bila budaya itu mengandung unsur-unsur kekerasan dan mengabaikan kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia.

Dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, Indonesia di tahun 2045 harus mampu melewati jebakan negara berpendapatan kelas menengah menjadi negara maju. Menjadi 5 besar ekonomi dunia. Bagaimana mungkin? Tentu kita bertanya demikian. Ternyata kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif, merata di semua lapisan masyarakat. Dimulai dengan pemerataan pembangunan yang tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, termasuk juga dengan memindahkan ibukota negara. Hal yang terakhir ini sudah dilaksanakan pemerintah dengan pembangunan IKN Nusantara dan pembangunan yang masif di Kawasan Timur Indonesia.

Yang tak kalah penting lagi adalah reformasi ketenagakerjaan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Pemerintah telah merintisnya dengan membuat UU Cipta Kerja yang merevisi banyak aturan-aturan perundangan usang agar meningkatkan iklim usaha. Pemerintah juga sedang mempersiapkan omnibus law tentag Pemberdayaan UMKM, karena disadari penuh bahwa UMKM adalah penggerak utama perekonomian Indonesia saat ini dan di masa depan.

Modernisasi industri juga akan difokuskan pada industri pengolahan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, peningkatan serta penguatan ekonomi kreatif dan digital di Indonesia juga pariwisata. Destinasi pariwisata menawarkan keragaman alam dan budaya sehingga peringkat daya saing pariwisata Indonesia meningkat menjadi 10 besar dunia. Ekonomi maritim ditingkatkan seiring pembangunan konektivitas laut, industrialisasi perikanan yang berkelanjutan dan berdaya saing, dan pariwisata bahari yang inklusif. Meski tahun 2045 masih 23 tahun lagi, pemerintah di bawah Presiden Jokowi telah merintisnya dari sekarang.

Ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih menjadi dua hal yang perlu diperhatikan pula. Indonesia harus mulai mewujudkan sistem ketahanan pangan mandiri dimulai dari hal-hal sederhana seperti mengkonsumsi produk pangan lokal. Tindakan ini dapat dilakukan setiap individu bila didasari kesadaran akan pentingnya Indonesia Maju di masa depan. Ketersediaan sumber daya air dilakukan efisiensi penggunaan air melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle. Inilah hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk merintis Indonesia Maju di tahun 2045.

Bila trend penurunan kesenjangan pendapatan dan kemiskinan terus dipertahankan, Rasio Gini diperkirakan turun ke tingkat ideal sebesar 0,34 pada tahun 2035. Artinya, Indonesia terbebas dari kemiskinan akut pada tahun 2040. Salah satu strategi pemerataan pendapatan dan pengentasan kemiskinan yang mencakup meningkatkan akses dan kualitas pelayanan dasar bagi seluruh penduduk serta peningkatan perlindungan sosial pun sudah mulai dirintis di era Presiden Jokowi. Mempermudah kepemilikan aset dan mendorong inklusi keuangan, dan memperluas kesempatan usaha dan akses terhadap sumber daya produktif menjadi PR pemerintah di masa depan.

Tak banyak yang sadar, untuk menjadi maju dan makmur di tahun 2045 memerlukan kualitas demokrasi yang lebih baik. Tujuannya agar ketahanan nasional dapat diwujudkan. Demokrasi saat ini bersifat prosedural dan formalitas. Masyarakat berduyun-duyun memberikan suara tanpa sadar benar konsekuensi dari pilihannya. Politisi yang disukai seringkali mereka yang kerap menggunakan politik identitas, money politics dan populisme. Ke depan perlunya kesadaran pada demokrasi substansial. Bahwa demokrasi harus mengemban amanat rakyat, sehingga lembaga perwakilan dan pemerintahan yang terbentuk harus sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Masyarakat berbudaya hukum juga harus terwujud melalui penegakan hukum yang berkualitas dan berlandaskan HAM. Reformasi di bidang hukum pun menjadi salah satu kunci keberhailan Indonesia di masa depan. Penguatan sistem hukum nasional di tahun 2045 ditandai dengan digantikan hukum kolonial seluruhnya dengan hukum nasional yang baru. Semua ini harus mulai dirintis dari sekarang.

Visi Indonesia 2045 juga tak lupa membahas bidang pertahanan dan keamanan. Pembangunan pertahanan dan keamanan diarahkan untuk meningkatkan kebanggaan terhadap identitas Indonesia di atas batas identitas suku bangsa, agama, ras, dan golongan. Ketertiban masyarakat yang berlandaskan keadilan dan kesetaraan dalam kebhinekaan dan wawasan kebangsaan serta nilai-nilai kemanusiaan. Tantangan ini tentu berat di tengah ketidakpahaman masyarakat pada bahaya disintegrasi atau perpecahan bangsa akibat pandangan-pandangan intoleransi dan radikal yang beredar di masyarakat.

Mencapai masyarakat berdaulat, maju, adil dan makmur di tahun 2045 memang tak mudah.Tetapi semua bisa dimulai dari tingkat individu. Dari kesadaran masing-masing pribadi untuk bertindak dan berperilaku yang menjunjung tinggi jati diri bangsa sebagaimana nilai-nilai Pancasila. Pemerintah di bawah Presiden Jokowi telah banyak membuka rintisan menuju Indonesia Maju di Tahun 2045, menjadi tugas kita pula agar Visi Indonesia 2045 terus diagendakan oleh pemerintahan-pemerintahan selanjutnya.

TAG TERKAIT :
Indonesia

Berita Lainnya