Opini

Menyoal Pemaksaan Jilbab Bagi Siswi Sekolah Negeri

Indah Pratiwi - 11/08/2022 19:45
Oleh : Bintang Prabowo

pertama-tama, harus disadari bahwa kita tinggal di negara yang menganut prinsip rechtsstaat (hukum negara) bukan machtsstaat (kekuasaan), dan para pendiri negara kita sepakat untuk menghilangkan klausul “Negara berdasar atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” sesuai dengan Piagam Jakarta..


jadi, kalau tidak cocok dengan bunyi konstitusi pasal 29, alternatifnya adalah silahkan pindah kewarganegaraan atau aktiflah di sistem legislatif dan eksekutif, lalu rubahlah konstitusi.. atau kalau berani, gugatlah Pasal 29 UUD 45 ke Mahkamah Konstitusi.. jangan beraninya merundung anak kecil..

perkara perundungan karena masalah selembar kain yang di dalam internal islam sendiri masih terjadi perbedaan pendapat ini bukan sekedar rumor, karena saya mengalaminya sendiri.. bukan saya yang dirundung tentunya, tapi anak kesayangan..

ironisnya, pelakunya bahkan bukan guru agama, tetapi guru mapel PKN.. semacam Pendidikan Moral Pancasila pada zamannya.. dilakukan di tengah jam pelajaran tentang Pancasila dan Kewarganegaraan dan diamini (baca: disoraki) oleh nyaris seluruh siswa di kelas..

anak gadis insyaAllah kuat menghadapi rundungan cemen demikian.. tapi pasti meninggalkan goresan di batin dan kognitifnya untuk selamanya..

saya ngerti, bahwa semua pemeluk yang taat beragama pasti merasa agamanya yang paling benar.. termasuk si ibu guru yang al-Mukarrom suci tanpa dosa tersebut..

yo mesti..

kalau nggak merasa agamanya bener, ya ngapain dipeluk..

jilbab itu bukan hanya milik islam.. biarawati katolik orthodox juga pakai jilbab.. beberapa sekte yahudi juga pakai jilbab.. di sini, di Roma, Italia, kota dengan lebih dari 900 gereja, dan hanya sepelemparan batu, sakudutan, sepeminuman teh saja dari Vatican City sebagai pusat tahta Katolik dunia, tidak hanya sekali dua kami berjumpa dengan para biarawati (dan biarawan) yang memakai kerudung, bahkan lebih rapat dari sebagian besar jilbab muslimah di Indonesia.. apalagi di Malaysia..

Profesor Quraish Shihab dengan tafsir al-Misbah dan segenap pengetahuannya yang mendalam tentang syariat juga memberikan keleluasaan bagi si cantik Najwa untuk menjalankan gaya busana sopannya sendiri.. mosok situ boleh percaya tafsir ustad galaknya situ, sedangkan saya nggak boleh mengikuti tafsir Prof. Quraish yang lebih adem..

saya juga tidak pernah memaksakan cara berbusana anak dan istri kepada orang lain.. sebagaimana saya juga tidak berkenan anak saya diatur cara berbusana sekolah di luar aturan resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan..

saya malah justru sering berdialektika dengan diri sendiri mengenai hijab/ jilbab dari sudut pandang lain..

misalnya, mendiskusikan mengenai mengapa hanya rambut yang ditutupi, bukan wajah.. apakah wajah (dan bibir) tidak lebih menggoda daripada rambut..

atau, jika seluruh tubuh wanita itu begitu menggoda, sehingga harus ditutup, plus dicadari, mengapa tidak lelakinya saja yang ditutupi matanya di ruang publik.. perempuannya yang dibebaskan berpakaian sopan.. tidak ribet, dan lebih ringkas..

atau mengapa angka kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan di Norway sangat kecil dibanding dengan negara Wakanda Wadinda Waakhy Waukhty, padahal kalau summer, baju para ladies di Norway ya sembrono sangat.. alkohol dijual bebas pula..

ataukah itu semua mirip dialektika kentut yang membatalkan wudhlu.. yang ketika harus berwudhlu ulang justru wajah yang dibasuh, bukan pantat..

Sumber : Status Facebook Bintang Prabowo

TAG TERKAIT :
Hijab Berhijab

Berita Lainnya