Opini

Suara Sumbang Benny K Harman

Indah Pratiwi - 25/08/2022 19:10
Ditulis Oleh : Karto Bugel
FOKUS : DPR RI

Tiba-tiba anggota komisi 3 DPR RI Benny K Harman sang senior partai berlambang Merci itu berusul sumbang penonaktifan Kapolri.


Benny K Harman dari Demokrat itu?

Serius.., orang model kaya gitu ga usah didengar. Terlalu sulit bagi nalarnya untuk diajak kerja. Bisa jadi, nalarnya sudah sulit bekerja ketika dia dan banyak anggota DPR RI dan terutama Komisi 3 yang mau tak mau, bukan mustahil juga ada unsur telah terhimpit dengan banyak kepentingan. Apapun bentuknya.

Ga percaya?

Di awal, pada perkara pembunuhan Brigadir J itu mulai menyeruak, DPR atau khususnya Komisi 3, sunyi senyap. Justru rakyat yang mereka wakili lah yang sampai harus terus dan terus berteriak tak kenal lelah atas fenomena janggal sebuah peristiwa pidana itu.

Para yang mulia wakil rakyat dan namun sekaligus partner Polri itu hanya tertegun. Seperti tak percaya tapi nyata dan namun ga tahu harus berbuat apa, mereka diam tak bersuara.

Pun Benny sebagai anggota Komisi 3, bukan dia sebaris dengan desakan rakyat, dia justru pernah tidak sepakat pada ide atau gagasan agar Ferdy Sambo harus dinonaktifkan. Padahal, diinisiasi oleh banyak pihak, jabatan pada diri Sambo memberi ruang untuk intervensi.

Dia justru berkata : “Irjen Ferdy Sambo tidak perlu dinonaktifkan. Silahkan Tim Pencari Fakta atau tim penyelidikan melakukan investigasi secara mendalam dan saya yakin Irjen Sambo tidak akan mengintervensi proses tersebut,” kata Benny pada Sabtu 16 Juli 2022.

Pernyataannya jelas bertentangan dengan nalar banyak pihak. Banyak pihak bilang bahwa Jabatan Kadiv Propam pada diri Sambo justru dikhawatirkan akan menghalangi penyidikan. Jabatan Ferdi akan memberi ruang bentur tak elok pada para penyidik.

Untuk itu maka usulan agar Sambo dinonaktifkan demi lancar penyelidikan itu sendiri adalah kisah menjemput nalar paling sederhana. Tapi, faktanya, untuk yang sangat sederhana itu, logika sebagai milik melekatnya pun seperti gak sampai.

Bisa jadi, pikirannya memang sudah terlalu penuh dengan rencana.

Lantas ketika kenapa Benny justru seperti tak sepakat atas penonaktifan Sambo, kita dapat kembali melihat alur pada komentar dia berikutnya.

Waketum Partai Demokrat itu, saat itu, juga meyakini bahwa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pasti akan objektif, transparan, dan akuntabel menyelesaikan kasus itu. Benny bahkan meminta semua pihak untuk memberi dukungan terlebih dulu.

“Tim ini jika ditangani secara langsung Kapolri yakin pasti akan bekerja objektif, transparan, dan akuntabel. Saya percaya Kapolri akan melakukan penyelidikan secara objektif kasus ini. Dan rakyat perlu mendukung penuh kerja Polri untuk ungkapkan kasus ini secara objektif dan transparan,” ucapnya.

Kemudian, Benny juga mempertanyakan alasan harus menonaktifkan Irjen Ferdy Sambo. Menurutnya, tidak ada ruang bagi Irjen Ferdy Sambo mengintervensi kasus tersebut.

“Bagaimana dia intervensi? Tim itu kan dipimpin langsung Kapolri toh. Gimana dia intervensi?” ujarnya

Untuk sesaat, alur pikirannya masih bisa kita anggap masuk akal. Posisi Kapolri memang lebih tinggi dan maka Kadiv Propam tak ada alasan dapat intervensi.

Namun, bukankah teori pak Mahfud terkait psiko hierarki jelas bukan tertuju pada Kapolri atau Wakapolri yang ditunjuk menjadi ketua timsus, tapi pada penyidik di bawah.

Demi kerja anak buahnya yang tak lagi harus ewuh pakewuh, demi lebih transparan sebuah penyelidikan, oleh Kapolri Sambo pun dinonaktifkan.

Dan benar, penonaktifan Ferdi Sambo oleh Kapolri justru mendapatkan apresiasi banyak pihak. Bukan hanya itu, bukan demi menjemput apresiasi belaka, dia yang oleh Benny seolah dibela, dia yang oleh Benny diusulkan tak perlu untuk dinonaktifkan, ternyata kini justru adalah TSK UTAMA.

Melalui penyelidikan yang intensif sejak jabatan itu dilepas dari dirinya, para penyidik tak lagi silau oleh psiko hierarki yang oleh Mahfud pernah diajukan sebagai teori.

Lantas, atas prestasi luar biasa Kapolri, di mana letak nalar Benny yang justru ingin beliau mundur?

Apakah dengan demikian dapat kita terjemahkan bahwa dia merasa sebagai satu-satunya orang pintar dan yang lain bodoh sehingga dia mampu berjalan pada rel paling berbeda?

Tidak! Bisa jadi dialah sosok paling sulit diberi julukan telah menggunakan nalarnya.

Jadi untuk sentara sepertinya clear ya kalau nalar Benny memang sulit diterima?

Usulan Benny terkait penonaktifan Kapolri jelas hanya sebuah kekonyolan justru setelah Kapolri bekerja dengan sangat baik. Tak ada dalam sejarah kita seorang Kapolri berani usut puluhan anggotanya dalam satu gebrakan.

Dan Pak Listyo melakukannya. Sudah banyak bintang, banyak melati sebagai ukuran tinggi sebuah pangkat di pundak dan juga menjadi ukuran jabatan yang telah beliau usut pada peristiwa ini. Ini tak pernah terjadi dalam sejarah polisi kita. Seringkali, mereka justru sering terlihat saling melindungi.

Dan atas prestasi luar biasa itu oleh Benny beliau justru diusulkan untuk dinonaktifkan?

Membayangkan bahwa orang-orang dengan kualitas seperti ini justru duduk di komisi 3, kita memang harus khawatir. Ini soal fakta bahwa rakyat memang selalu kesulitan untuk mendapatkan wakil dengan kualitas punya pikiran masuk akal, boro-boro baik.

Tiba-tiba, berita sebaliknya justru ramai terdengar dari Parlemen. Sejumlah fraksi tiba-tiba berteriak tak setuju dengan usulan Benny. Ramai-ramai fraksi yang ada berteriak tak sepakat.

PDI Perjuangan disuarakan oleh Trimedya Panjaitan, Nasdem melalui waketumnya Ahmad Ali, PPP melalui Asrul Sani, Golkar melalui Supriansa, PKB melalui Cucun Ahmad dan Gerindra melalui Desmond.

Lantas, apakah suara Benny K Harman yang adalah Waketum Demokrat juga merupakan sikap resmi partai berlambang merci itu?

Bila ya, itu benar-benar suara sumbang. Suara yang tak pantas kita dengarkan apalagi kita ikuti.

Suara rakyat, suara yang murni dari masyarakat banyak, pada akhirnya telah diminta kembali. Dan itu disuarakan para netizen. Militansi mereka bersuara demi benar sebuah arah penyelidikan telah memantik munculnya gelombang besar.

Dan Presiden pun mendengar….

Dari sana, dari Presiden mendesak, dari Menkopolhukam menterjemahkan perintah dari Panglimanya dan bersuara, rakyat mendapat legitimasinya. Vox Populi Vox Dei justru berjalan seolah tanpa peran para yang mulia wakil-wakilnya.

Kasus Sambo membuktikan bahwa publik lah yang justru mengambil alih amanat yang telah diberikan kepada para yang mulia wakil rakyat itu.

Pada kisah ini, Jelas sudah bahwa DPR seolah hanya sekumpulan orang yang selalu bangun kesiangan jika tak mau disebut pahlawan kesiangan. Dia justru seperti ingin menegaskan bahwa dirinya hanya lembaga stempel belaka.

Masih ga percaya?

Bukankah dengar pendapat dengan Kapolri hari ini pun mereka seperti rebutan ingin bicara? Ingin dilihat paling benar?

Diantara mereka sendiri justru terlihat sulit untuk menemukan kata sepakat sehingga saat RDP dengan Kapolri pun kita masih harus disuguhi debat dan keriuhan yang tak elok. Mereka seperti rebutan gelar menjadi paling doktor diantara para doktor.

“Saya lanjutkan ketua”

“Sudah doktor belum?”

Belum salah satu peserta rapat itu sempat melanjutkan apa yang diminta, kembali pembicaraannya dipotong.

Koq jadi malu sendiri ya punya wakil rakyat gitu amat...

.

.

RAHAYU

.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

TAG TERKAIT :
Komisi III DPR RI Kapolri Listyo Sigit Suara Panggilan Sayang Saat Rapat Di Komisi III DPR RI

Berita Lainnya