Opini

Polisi Yuk Berbenah

Indah Pratiwi - 31/08/2022 05:40
Ditulis Oleh : Gunadi
FOKUS : Polisi

Ga usah ketinggian klo kita berharap Polri membersihkan diri dari oknum2 polisi yg terlibat dgn menjadi backing kasus2 Narkoba, Judi on Line, dan mafia kasus2 pidana lainnya. Itu memang penting, tapi kasus2 spt itu tidak bersinggungan langsung dengan masyarakat di bawah seperti pelanggaran2 hukum yg biasa dilakukan masyarakat hingga berujung berurusan polisi. Bos judi atau bos narkoba digulung jg nggak berpengaruh langsung thp persepsi masyarakat ttg perlakuan buruk polisi kpd pelayanan masyarakat secara umum. Pelayanan buruk spt apa yg sering dialami masyarakat umum?


Yg pertama tentu perlakuan polantas2 kita yg suka menilang para pelanggar dgn maksud damai di tempat, atau harus membayar tebusan jika kendaraannya diangkut ke kantor polisi. Katanya sdh pakai tilang elektronik, lah koq ini msh sering dilakukan razia2 rutin di jalan spt di Ps Minggu?

Kedua, kasus kehilangan. Pepatah hilang motor lapor polisi malah nambah ilang lagi duitnya. Akhirnya membuat org males lapor. Lapor jg percuma ga bakal dicariin pelakunya kalau kita nggak bayar (baca : ngasi duit buat operasional polisi)

Ketiga, soal narkoba. Kasus ini yg paling banyak terjadi di masyarakat kita itu ketika ada salah satu anggota keluarga ditangkap karena menggunakan narkoba bersama teman2nya misalnya. Memang sekarang, polisi sudah sedikit berbenah dengan memisahkan antara tersangka pengguna dan penjual – berdasarkan alat bukti narkoba & pengakuan/ keterangan saksi. Polisi juga memiliki alat deteksi tes urine.

Belakangan ini untuk menghindari penuhnya kapasitas penjara, Polisi telah bekerja sama dengan pihak BNN,rumah sakit & pihak2 terkait spt pusat rehabilitasi baik pemerintah maupun swasta. Jadi tersangka pengguna narkoba diarahkan ke pusat2 rehab tersebut.

Lalu apa masalahnya? Nah di sini justru masalahnya. Oknum2 polisi tersebut kerap memainkan posisi lemah tersangka narkoba utk “diperas”. Pertama, mengenai jumlah Barang Buktnya. Jika barbuknya banyak, maka Polisi bisa menawarkan utk “memperkecil” jumlah BB tsb dgn sejumlah imbalan. Tersangka maupun pihak keluarga pasti mau lah. Karena jika jumlahnya besar, tersangka bisa diproses ke ranah pidana atau hukum sebagai penjual. Tapi jika jumlahnya BBnya kecil, maka tersangka bisa lgs direkomendasikan ke pusat rehabilitasi.

Apakah sdh selesai masalahnya? Belum. Untuk dapetin surat rekomendasi tersebut, baik tersangka maupun pihak keluarga harus “membayar” lagi surat rekom tersebut, salah satu persetujuannya adalah dari dokter RS Polri. Anggeplah sudah membayar surat rekom tersebut, apakah masalahnya sudah selesai? Belum juga. Karena pihak keluarga harus menyiapkan lagi dana untuk Rehabilitasi tersebut. Koq rehab bayar? Ya iyalah kalau pusat rehabnya swasta. Bayar berapa? Tergantung tempat rehab yg diendorse polisi yg nangkep dimana. Ada yg tarifnya 10 juta per bulan. Berapa bulan rehabnya? Bisa 3 bulan bisa juga 6 bulan atau lebih.

Emang kalau pusat rehab yg disediakan pemerintah nggak ada? Ada beberapa. Tapi kalau mereka bilang penuh kita mau apa? Ok anggep lah bisa direhab di pusat rehab pemerintah. Lalu apakah itu gratis? Ya gratis teorinya. Tapi prakteknya tetep harus bayar, katanya untuk transportasi, test2 PCR, dan admin. Biayanya sekitar 3-5 juta rupiah sekali bayar kyk uang pangkal. Emang Itu resmi? Remang- remang. Hal2 spt itulah yg harus dibenahi oleh Polri kita klo benar ingin2 berbenah. Jangan cm kasus2 yg muncul dipermukaan aja. Justru kasus2 spt ini yg paling banyak dirasakan oleh masyarakat kecil.

Itulah kita heran mengapa di negeri ni semua celah bisa dimainkan oleh mereka – mereka yg sebenarnya sudah digaji untuk melayani masyarakat. Dan mereka tidak malu & tidak mempunyai empati sedikitpun terhadap sesama manusia yg mendapatkan musibah.

Sebagai masyarakat biasa, gue cuma nanya bisa nggak Polri membenahi masalah2 spt di akar bawah dlm struktur organisasinya ini?

Kalau kepala lurus, ekor pasti ikut lurus. “Sifat dasar manusia adalah sama. Yang menjadikan mereka jauh berbeda adalah faktor kebiasaan.”

Sumber : Status Facebook Gunadi

TAG TERKAIT :
POLISI Polisi Baik Polisi Humanis Polisi Hebat

Berita Lainnya