Opini

Sudut Pandang Lain Kenaikan BBM

Indah Pratiwi - 07/09/2022 19:13
Ditulis Oleh : Muhammad Nurdin

Sekitar tahun 2014 saya pertama kali tinggal di sebuah pulau bernama Lembata. Letaknya di sebelah timur kepulauan Nusa Tenggara Timur. Meski suka bolak-balik ke Flores, tapi lebih banyak tinggal di Lembata.


Di Lembata, saya tidak tinggal di kota, tapi di sebuah kampung kecil bernama Watanglolo. Akses jalannya mengerikan. Dan lebih mengerikan lagi ketika musim hujan tiba.

Ini motor yang biasa saya pakai di kampung. Remnya hampir tak berfungsi. Tapi bagi warga kampung, keberadaan rem tak penting-penting amat. Yang penting ada bensinnya.

SPBU cuma ada di kota. Butuh waktu satu jam lebih untuk sampai disana. Gak bisa pakai derigen kalau tak punya surat nelayan. Sehingga, warga kampung hanya bisa pasrah dengan bensin warung yang harganya lebih mahal.

Penghasilan warga kampung tidak tetap. Rezeki mereka tergantung alam. Musim hujan mereka bisa dapat hasil dari ladang. Musim ikan mereka dapat tambahan rezeki lagi.

Cara mereka bercocok tanam relatif terbelakang. Begitu juga dengan cara mereka mencari ikan. Tapi begitulah kehidupan warga di kampung Watanglolo yang tak tersentuh kemajuan juga pemerataan.

Bahkan, ketika saya tinggal disana, listrik tidak ada. Hanya mengandalkan diesel dengan durasi 2 jam tiap harinya, itupun tegangan yang sangatnya memperihatinkan, yang membuat alat elektronik mengeluh.

Kampung kami cuma kampung kecil yang hanya bisa menerangi rumah-rumah warga selama 2 jam. Sistem pengadaan solarnya giliran. Harga solarnya, ya harga warung eceran Bibi Masturah. Bukan harga SPBU.

Itulah tiap jengkal kehidupan di suatu sudut kecil dari negeri ini. Tentu, keadaan seperti ini masih bisa kita temukan di banyak tempat yang jauh dari pemerataan pembangunan.

Sekitar 2016 saya keluar dari Lembata. Di tahun 2017, saya mendapatkan kabar bahwa akses jalan menuju kampung sudah beraspal. Tiang-tiang PLN menghiasi jalan-jalan baru tersebut.

Sebuah jembatan yang melintas di atas sebuah sungai sudah berdiri kokoh. Padahal dulu, kami biasa melintasinya tanpa jembatan. Menembus derasnya air sungai, dengan menjaga tarikan gas agar tetap stabil, karena posisi air sudah di atas knalpot.

Indonesia bagian Timur kini mulai tersentuh pembangunan dan pemerataan. BBM satu harga sudah bisa dinikmati. Padahal secara hitung-hitungan bisnis gak ada untungnya. Tapi inilah komitmen negara bahwa negara harus hadir di tempat-tempat tersebut.

Anda takkan pernah merasakan nikmatnya berkendara di atas aspal mulus layaknya di kota-kota besar seperti Jakarta, kalau belum merasakan jalan-jalan rusak, berbatu, berlumpur di tempat-tempat yang tak tersentuh pemerataan.

Indonesia tak cuma Jawa dan Sumatera. Ada lagi tempat-tempat lain yang menginginkan dekapan hangat sang ibu pertiwi. Mereka tak pernah menggerutu soal harga BBM yang naik turun. Toh, harga yang mereka beli tiap hari juga harga eceran. Bukan mereka pasrah, tapi mereka memilih untuk melawan dengan jalan lain yang lebih terhormat.

Dan tangan hangat sang ibu pertiwi akhirnya datang. Membawa sesuatu yang lebih besar dan bernilai dari sekedar BBM bersubsidi. Ya, itu adalah jalan beraspal. Listrik yang menerangi rumah-rumah mereka. Air yang berlimpah yang mengairi ladang-ladang mereka.

Bisakah mata kita menjangkau saudara-saudara kita nan jauh disana, yang merupakan satu tanah air, satu bangsa, satu tumpah darah Indonesia, yang mungkin tengah menunggu aspal, listrik dan air masuk ke kampungnya?

Bisakah subsidi BBM ini menjadi tali kasih yang bisa mewujudkan mimpi masyarakat di daerah terpencil untuk bisa menikmati indahnya pemerataan pembangunan?

Sumber : Status Facebook Muhammad Nurdin

TAG TERKAIT :
BBM Naik Harga BBM naik

Berita Lainnya