Politik

Turun Gunung "Politik Belas Kasihan ala SBY", Warganet : Belum Naik, Sudah Turun Gunung

Indah Pratiwi - 24/09/2022 10:40

Beritacenter.COM - Dalam beberapa minggu terakhir, terjadi sindir menyindir antara PDI-P dengan Demokrat lantaran Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan dirinya turun gunung mengawal partai Demokrat pada Pilpres 2024 kerena mengendus adanya tanda-tanda Pilpres 2024 bakal berjalan tidak jujur dan adil.


Menjelang Pilpres 2024 "Politik Belas Kasihan ala SBY" kembali akan digunakan oleh Partai Demokrat untuk meraup suara di pilpres 2024 dan menempatkan anaknya Pipo AHY Menjadi Presiden 2024, pasalnya politik SBY ini berhasil mengantarakan dirinya menjadi orang satu di Indonesia.

Hal tersebut mendapatkan sorotan dari warganet pemilik akun facebook Facebook Sunardian Wirodono III dengan menuliskan artikel yag berjudul "Belum Naik, Sudah Turun Gunung"

Oleh : Sunardian Wirodono

Bahwa dunia belum berubah, mungkin hanya diyakini mereka yang masih berpola pikir analog. Tak hanya orang tua, orang muda yang disebut generasi milenial pun bisa berpandangan sama.


Wacana-wacana konvensional, yang sering dimunculkan; Dia orangnya baik kok, nggak mungkin jadi teroris. Dia nggak punya komputer, nggak mungkin gini-gitu (tanpa menyadari bahwa sistem kerja smartphone pun sebenarnya tak jauh beda dengan laptop).

Beberapa anak muda di desa, sering dianggap mengingu thuyul, hanya karena terlihat di rumah saja, kok bisa beli barang-barang via internet. Tukang bingkil sepeda motor di desa yang tak laku, kok bisa beli perkakas mahal, apalagi jika bukan pakai ilmu jin? Bahkan banyak orang tua curiga, anaknya di rumah terus kok bisa dapet duit ratusan juta rupiah perbulan. Dan sebagainya.

Sadarlah, perubahan itu nyata, meski sulit dipahami. Bahkan, di dunia internet sekarang ini, ada orang yang bisa dapet duit jutaan tanpa harus berkarya. Hanya copy-paste karya cipta orang lain (kadang penciptanya malah nggak dapet apa-apa). Ada seorang penulis membacakan tulisan karyanya sendiri dan diposting di youtube, eh, dianya dituding oleh admin youtube menjiplak karya orang lain. Bahkan, misal saja, di video itu jelas Didi Kempot menyanyikan lagunya sendiri, oleh youtube bisa dituding sebagai lagu cover-version. Matamu sempal.

Bagaimana bisa? Maka doktrin kerja keras itu sering jadi tidak logis lagi. Karena ada kerja cerdas dan kerja julig, yang sebenarnya tidak kerja tapi bisa dapet duit atas hasil kerja liyan. Bagaimana bisa? Bisalah! Karena berbagai platform medsos yang berbasis internet dan teknologi digital, memungkinkan untuk itu. Para penyedia platform dari negara manca itu, tidak tahu persis bagaimana karakter manusia Indonesia dan sistem hukumnya dalam perihal copy-right atau hak cipta. Padal, mereka tidak menyediakan platform gratis, tetapi mereka mendapatkan keuntungan finansial pula dari Indonesia. Di youtube saja, mereka mengutip 40 persen dari total pendapatkan youtuber.

Dan berbagai platform medsos itu, nggak ada urusan apakah ketika visinya menjamin kesetaraan siapa saja. Senyampang itu mereka juga memfasilitasi terjadinya ketidakadilan dan ketidakjujuran. Bahkan ada orang yang bisa jualan teori: Bukan kerja bagus (walau jujur) melainkan kerja pinter (walau curang) yang kudu dilakukan. Karena semua platform medsos itu hanya berhitung dengan dasar angka, bukan nilai.

Apalagi ditambah kebijakan Kemenkominfo Indonesia yang liberal, hanya berpikir pemasukan dan laba. Gingga nomor simcard ponsel di Indonesia bisa mencapai 1,3 milyar berdasar NIK dari populasi penduduk Indonesia yang 270 juta. Kalau muncul MAH di Madiun, jualan akun ke Bjorka, misalnya, salah siapa? Bukan salah polisi menangkap, tapi salah yang berkomentar tapi dengan logika analog. Dalam hal ini, juga salah pemerintah, karena bagaimana membiarkan rakyat beli motor dengan cara kredit, padal pemasukannya dari jualan es tak mencukupi untuk kredit tiap bulannya. Belum pula BLT yang Rp600ribu tiap bulan ternyata hanya untuk tiga kali, dan itupun dia nggak dapet.

Kasihan Polisi yang sudah nangkep MAH malah diketawain. Sementara ada hacker internasional, dengan grammar bahasa Inggris yang ajaib, ngurusin kenaikan BBM di Indonesia nggak diketawain. PKS banget (PKS itu artinya Pokokmen Kacau Sekali). Kalau polisi diketawain dalam penyelesaian kasus Sambo yang belibet, hingga nyaris 3 bulan, itu memang layak.

Belum lagi ada bekas tentara yang mau jadi presiden, harus menurunkan ayahnya dari gunung. Kalau sakti kan mestinya dia nurunin Jokowi, bukan nurunin ayahnya. Tega banget. Mbok biarin di atas gunung saja, kan kasihan kalau mau naik gunung lagi, pasti akan susah payah. Kalau kayak Sisyphus sih mending. Lha tapi kalau kejatuhan batu yang didorongnya? Kan bisa bengep?

Jangankan berpikir, berbicara proporsional pun masih masalah. Tapi ya di negeri ini, memang masih demikian. Butuh kesabaran tingkat dewa menuju Indonesia merdeka yang “bangunlah jiwanya bangunlah raganya”. | Keterangan Foto: Nasib orang yang kepleset waktu turun gunung. |

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono III

TAG TERKAIT :
Demokrat Partai Demokrat SBY AHY Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) SBY Tukang Baper Demokrat Partai Tukang Nyinyir Demokrat Partai Korupsi SBY Turun Gunung

Berita Lainnya