Opini

Islah Bahrawi : Terorisme Sang Pembunuh

Indah Pratiwi - 29/12/2022 22:04

Manusia dilahirkan untuk sebuah kehidupan yang nantinya akan menghadapi kematian. Maut mengintip kapan saja, yang kadang datang menghentak dan datang tanpa disangka. Manusia berusaha untuk bertahan hidup selama mungkin untuk menunda kematian.


Apapun upaya untuk bertahan hidup tak akan pernah bisa menepis, yang pada akhirnya berada pada satu etape “kekalahan”: kematian yang pasti.

Sejatinya proses kehidupan manusia adalah lintasan takdir dalam ruang dan waktu yang terbatas. Adalah keanehan, jika ada orang yang berhasrat membunuh dirinya lebih cepat agar segera memasuki surga dengan cara mematikan orang lain.

Satu kebiadaban itu, ketika seseorang merampas hak hidup orang lain demi memuaskan kematian dirinya.

Kematian bukanlah sebuah cidera, karena hidup bukanlah petaka. Ada ruang di antara lahir dan tarikan napas terakhir yang bernama “manusia”. Dalam rentang identitas bernama “manusia” itulah terdapat proses intimasi untuk menghargai manusia yang lain.


Sejarah lalu mencatat kebajikan antar manusia dalam banyak manuskrip setiap peradaban. Kematian orang-orang bijak nan bajik yang dikenang. Lalu, dari sini kita mengenal “manusia yang berkemanusiaan”.

Kita kadang terlalu sombong, merasa paling pintar dan melawan siapapun yang menggugat kesalahan kita. Dalam situasi seperti ini, tanpa disadari kita telah mengendap dalam kejahatan statis, yakni akselerasi hidup yang cenderung menindas orang lain.

Hidup dipertahankan bukan untuk meringkus kehidupan orang lain. Hidup adalah juga menumbuhkan kehidupan orang lain, karena kita bertahan hidup akibat keinginan orang lain untuk juga bertahan hidup. Demi hidup kita tidak boleh mematikan orang lain.

Kata Aquinas, “ex altera vita vivet, vita in aliam vitam,” kita hidup dari kehidupan yang lain, hidup untuk kehidupan yang lain. Hakikat ini dalam Islam disebut “Ta’arofu”: saling mengenal dan berinteraksi antar manusia dalam berbagai perbedaannya


Tugas utama hidup manusia adalah mengenal Tuhan dengan cara berkemanusiaan. Agar kita bisa melihat, bahwa moral baik seseorang bukan hanya diukur dari seberapa tinggi mencapai langit, tapi juga seberapa rendah ketika berdiri di bumi.

#lawanintoleransi

#antiradikalisme

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi

TAG TERKAIT :
Teroris Kelompok radikal Kelompok teroris Bahaya Laten Radikalisme

Berita Lainnya